Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara

admin

FTBI 2023: Melahirkan Penjaga Bahasa di Sumatra Utara

Medan, 16 November 2023 – Implementasi Kebijakan Merdeka Belajar episode ke-17: Revitalisasi Bahasa Daerah, terus digaungkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Kali ini, melalui Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara dengan mengadakan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2023 pada 15 November 2023, bertempat di Asrama Haji Embarkasi Medan, Sumatra Utara.

FTBI Provinsi Sumatra Utara dihadiri undangan dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sumatera Utara, para Kepala Dinas Pendidikan dari sepuluh kabupaten/kota, beserta jajaran, para budayawan, tokoh adat, sastrawan, orang tua dan pemangku kepentingan lainnya. Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Kemendikbudristek, turut hadir mewakili Kepala Badan Bahasa.

Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Muh. Abdul Khak, mengatakan dalam sambutannya, bahwa sejarah Bahasa Ibu diperkenalkan pada tanggal 17 November 1999 oleh UNESCO. Pada saat itu, UNESCO menetapkan bahwa 21 Februari menjadi Hari Bahasa Ibu Internasional. Hari Bahasa Ibu Internasionl tercipta dikarenakan suatu peristiwa bahasa di suatu negara yang menjadi terpecah menjadi dua, yaitu Pakistan dan Bangladesh.

Selanjutnya, Muh. Abdul Khak menambahkan bahwa bahasa sudah menjadi sebuah ideologi dan perlu untuk direvitalisasi agar tetap hidup dan tidak punah. “Sama halnya dengan bahasa daerah di Indonesia supaya tetap hidup hingga keturunan-keturunan selanjutnya,” ucapnya di Medan, Rabu (15/11). Ia juga menghimbau masyarakat untuk mempertahankan bahasa daerah mulai dari lingkungan rumah sebagai ‘benteng’ awal untuk mempertahankan bahasa daerah.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, Hidayat Widiyanto, mengungkapkan bahwa bahasa daerah punah karena para penutur mudanya tidak lagi menggunakan bahasa tersebut. Begitu juga para orang tua tidak lagi mewariskan bahasa tersebut kepada anak-anaknya. “Untuk itu, bahasa daerah harus dipakai secara meluas, terutama oleh para penutur muda. Itu prinsip revitalisasi yang tepat guna,” tegasnya.

Di Provinsi Sumatra Utara saat ini telah dilakukan revitalisasi bahasa Melayu dialek Panai di Kabupaten Labuhan Batu, bahasa Melayu dialek Sorkam di Kabupaten Tapanuli Tengah, bahasa Batak dialek Mandailing-Angkola di Kota Padangsidempuan, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Padang Lawas Utara. Kelima kabupaten/kota ini sudah sejak 2022 telah melakukan revitalisasi bahasa daerahnya.

“Pada 2023 ini kami mengajak Pemerintah Daerah Kabupaten Langkat untuk bahasa Melayu dialek Langkat, Kabupaten Asahan untuk bahasa Melayu dialek Asahan/Tanjungbalai, dan Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, dan Kabupaten Samosir untuk bahasa Batak dialek Toba. Taihun depan, jumlah bahasa dan jumlah kabupaten akan ditambah dengan kerja sama bersama pemerintah daerah kabupaten/kota lainnya,” jelas Hidayat Widiyanto.

Dukungan Pemerintah Sumatra Utara

Kepala Bidang Pembinaan SMK, Suhendri, berharap di tahun 2024 yang akan datang, peserta FTBI tidak hanya berasal dari siswa/siswi baik tingkat SD maupun SMP saja melainkan juga tingkat SMA/MA maupun SMK. Menurutnya, para peserta merupakan penjaga bahasa di Sumatra Utara.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara, Ahmad Qosbi, menyampaikan bahwa bahasa daerah merupakan kekayaan bangsa milik Indonesia, maka dari itu Kementerian Agama (Kemenag) juga memberikan satu program moderasi beragama yang di dalamnya termasuk FTBI. Inti dari moderasi beragama mengacu pada empat indikator, yaitu cinta terhadap bangsa dan tanah air, toleransi, anti kekerasan, serta menerima dan menghargai budaya maupun adat istiadat lokal.

Kegiatan revitalisasi bahasa daerah di Provinsi Sumatra Utara telah melibatkan 251 guru utama yang disebut guru master. Pada 12—15 Juni 2023 dan 19—22 Juni 2023 seluruh guru utama ini telah mendapat pelatihan intensif dalam bentuk Traning of Trainer (ToT) oleh instruktur selama kurang lebih seminggu. Para guru utama yang dilatih, dipilih dari kabupaten-kabupaten yang bahasanya direvitalisasi.

Para guru utama yang telah dilatih ini, lalu mengimbaskan pengetahuan yang didapatnya ke guru-guru sejawat. Setelah itu, guru sejawat yang telah mendapat pengimbasan dari guru utama ini, melakukan pengimbasan lagi ke siswa dalam bentuk pelatihan berbasis sekolah.

Tercatat, ada sejumlah 2.380 guru sejawat yang dilibatkan dan 30.404 siswa yang terdiri atas 7.129 siswa SD dan 23.275 siswa SMP sederajat yang terlibat dalam pembelajaran ini. Selain guru sejawat dan siswa, kegiatan revitalisasi bahasa daerah ini juga melibatkan para pemangku kepentingan. Ada 10 Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten/Kota yang mendukung revitalisasi pada tahun 2023. FTBI tingkat Provinsi ini menghadirkan 140 penampil dari 10 kabupaten/kota. Selain itu, acara ini juga melibatkan akademisi, tokoh adat, pakar, dan maestro budaya setempat pada prosesnya sampai pada tahap ini.

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Nomor: 640/sipers/A6/XI/2023

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id
#MerdekaBelajar

FTBI 2023: Melahirkan Penjaga Bahasa di Sumatra Utara Read More »

Inovasi Produk Berbasis Bahasa Daerah Karya Anak Muda Sumatera Utara

Medan, 31 Oktober 2023—Duta Bahasa Sumatera Utara bersama Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara menyelenggarakan pameran bertajuk “Niaga Bahasa: Pemberdayaan Bahasa Daerah dalam Produk Ekonomi Kreatif” di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara. Kegiatan ini bersamaan dengan kegiatan Festival Budaya Melayu III yang diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Melayu FIB USU. Niaga Bahasa ini diikuti oleh generasi muda berusia 18—25 tahun yang memiliki minat di bidang kewirausahaan dan desain grafis.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, Hidayat Widiyanto, menyampaikan bahwa produk yang dihasilkan oleh para peserta sangat baik. Sebelumnya, para peserta diberikan pemahaman mengenai eksistensi bahasa daerah, peran bahasa daerah dalam bidang industi kreatif serta peluang bahasa daerah dalam niaga dan pelatihan desain grafis pada tanggal 14—15 Oktober 2023 di Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara.

“Harapan besar bahwa para peserta makin memahami potensi bahasa daerah yang dijadikan sebagai peluang usaha dan terlibat dalam pelestarian bahasa daerah melalui niaga bahasa dengan cara-cara yang kreatif”, ucap Hidayat saat membuka kegiatan Niaga Bahasa pada Minggu, 15 Oktober 2023.

Pameran Niaga bahasa yang merupakan krida Duta Bahasa terakhir dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari rangkaian kegiatan yang dimulai pada 14—15 Oktober 2023. Para peserta dibekali pemahaman tentang bahasa daerah dan peluangnya di dalam ekonomi kreatif secara daring. Peserta sangat antusias terlihat dari sesi diskusi yang dibawakan oleh Wartono, S.S. selaku pembina Duta Bahasa Sumatera Utara. Tidak hanya itu, hari berikutnya para peserta juga dibekali pelatihan desain grafis dari Praktisi Editor Visual, Rizki Mitra Hamdani, S.I.Kom. Peserta diajarkan untuk membuat sebuah logo yang memiliki unsur bahasa daerah yang dapat dijadikan nilai jual di industri kreatif. 

Selain terkait hal penyuntingan dan desain grafis, beberapa poin dari pelatihan desain grafis ini adalah teknis menggunakan aplikasi Canva sebagai media desain, dan menentukan produk yang cocok sesuai desain yang dibuat. Diskusi antara pemateri dan peserta menghasilkan logo-logo yang menarik dan bagus. Di akhir kegiatan, seluruh karya peserta akan diseleksi dan akan ditindaklnjuti menjadi produk ekonomi kreatif dalam Pameran Niaga Bahasa.

Selain menarik perhatian pengunjung dari berbagai kalangan, pameran Niaga Bahasa ini turut menarik perhatian dari dosen dan pegawai di Fakultas Ilmu Budaya USU. Salah satu dosen dari program studi sastra Melayu mengatakan bahwa beliau sangat mengapresiasi ide serta inovasi yang dibuat oleh Duta Bahasa Sumatera Utara untuk menyebarluaskan bahasa daerah dan memberi pemahaman bahwa bahasa daerah memiliki nilai jual dalam industri kreatif.

“Produk-produk yang dihasilkan sangat menarik karena menampilkan bahasa daerah yang ada di Sumatera Utara”, pungkas Dra. Mardiah Mawar Kembaren, Kepala Program Studi Sastra Melayu.

Desain peserta terbaik ditampilkan dalam produk-produk pameran berupa kaus, tas jinjing, tas serut, Bucket hat, tumbler, dan mug. Seluruh produk mendapatkan umpan balik positif dari para pengunjung pameran.

Peserta dengan karya terbaik

Inovasi Produk Berbasis Bahasa Daerah Karya Anak Muda Sumatera Utara Read More »

Benang Merah Jakarta, Kompetisi, dan Kehangatan Dubasnas

Menjadi dua orang yang mewakili nama provinsi di kancah nasional, tentunya menjadi sebuah kehormatan, kebanggaan, dan tanggung jawab bagi kami, M Deny Effendy Tambusay dan Windy Niskya Rahmi Harefa, yang terpilih sebagai Terbaik I Duta Bahasa Sumatera Utara Tahun 2023.

Sehari setelah malam penganugerahan di tingkat provinsi, tepatnya tanggal 9 Juni 2023, amanah ‘itu’ mulai kami bangun bersama Ikatan Duta Bahasa Sumatera Utara. Kami saling menggenggamkan tangan, menyusun fondasi keakraban sebagai kekuatan awal menuju pemilihan Duta Bahasa Nasional Tahun 2023.

Seperti yang kita ketahui, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa membentuk Duta Bahasa sejak tahun 2006 silam. Pada pembentukannya, Duta Bahasa tentunya tidak hanya memiliki kemahiran berbahasa Indonesia secara baik dan benar, tetapi juga peduli dalam melestarikan bahasa daerah, dan kemauan untuk menguasai bahasa asing untuk menghadapi tantangan global.

Kegiatan Pemilihan Duta Bahasa dilaksanakan dengan misi untuk senantiasa menciptakan generasi muda yang siap menyelaraskan sumpah yang dilahirkan pada tahun 1928 dengan kehidupan nyata sesuai dengan dinamika perkembangan zaman, supaya mampu memantik peran dalam memantapkan fungsi bahasa Indonesia guna memperkuat jati diri dan daya saing bangsa.

Untuk menepati janji tersebut, Duta Bahasa Sumatera Utara mengambil peran untuk mematangkan langkah menuju Duta Bahasa Nasional. Sebelum keberangkatan, kami melaksanakan beberapa rangkaian persiapan, mulai dari pembuatan dan pelaksanaan krida, teknik wicara publik, penguasaan bahasa asing, wawasan kebahasaan dan kesastraan, tata cara penulisan artikel, pembuatan iklan kebahasaan, hingga melatih kepribadian. Lagi-lagi, tentunya segala persiapan kami ini, didampingi oleh Ikatan Duta Bahasa Sumatera Utara serta Bapak dan Ibu Pembina.

”Berlarut dalam kesibukan, akan membuatmu merasa waktu cepat berjalan”. Kalimat tersebut ternyata benar adanya. Minggu, 24 September 2023, kami berangkat dari Bandara Kualanamu (Sumatera Utara) dan mendarat di Bandara Soekarno Hatta (Banten) setelah menempuh waktu kurang lebih dua jam di dalam pesawat. Selanjutnya kami menginap di Fave Hotel, untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk esok hari. Hari Senin, 25 September 2023, tepatnya pukul 12.00 WIB, kami bergegas menuju Hotel Sultan, Jakarta Pusat yang merupakan tempat pelaksanaan Pemilihan Duta Bahasa Nasional Tahun 2023. Sampai di sana, perasaan kami campur aduk, antara senang dan sedikit gugup bertemu dengan delegasi terbaik dari seluruh provinsi di Indonesia, serta para panitia pelaksana tentunya. Namun, seketika perasaan gugup itu menepis ketika kami semua mulai bisa menyapa, berkenalan, lalu bercengkrama.

Semuanya berjalan lancar, Pemilihan Duta Bahasa Nasional Tahun 2023 secara resmi dibuka oleh Bapak Muh Abdul Khak (Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra), lalu seluruh peserta mengikuti taklimat yang disampaikan oleh panitia. Berkesan, pada hari pertama ini, Windy Niskya Rahmi Harefa, terpilih menjadi Ibu Lurah Keluarga Duta Bahasa Nasional tahun 2023.

Keesokan harinya, tepatnya pada Selasa, 26 September 2023, kami mengikuti melaksanakan tiga rangkaian kegiatan. Pada penilaian teknik wicara publik, kami mendapatkan tema ”Urgensi Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia bagi Warga Negara Asing”. Selesai menyampaikan pendapat, kami berkesempatan untuk menjawab pertanyaan dari Bapak Muh Abdul Khak terkait tema tersebut. Setelah selesai, kami melanjutkan dengan penilaian teknik wicara bahasa asing. Kami memperkenalkan diri, menceritakan latar belakang diri, serta mengutarakan peran dan  kami ingin menjadi duta bahasa. Terakhir, seluruh peserta mengikuti kelas evaluasi konten kebahasaan di media sosial, salah satunya oleh Uda Ivan Lanin.

Hari ketiga pemilihan Duta Bahasa Nasional, Rabu, 27 September 2023. Seluruh peserta mengikuti rangkaian presentasi Krida Kebahasaan dan Kesastraan yang telah dilaksanakan di provinsi masing-masing. Pada kesempatan ini, kami memperkenalkan krida kebanggaan Duta Bahasa Sumatera Utara, yaitu OPISADA (Olah Pikir Bahasa Daerah) edisi Batak Toba. Singkatnya, OPISADA merupakan sebuah media pembelajaran sekaligus media permainan yang bertujuan untuk mewujudkan poin kedua Trigatra Bangun Bahasa, yaitu pelestarian bahasa daerah. Bersyukur, kami mendapatkan respons yang baik dari para dewan juri serta teman-teman dari seluruh provinsi,  mereka kami dan berharap supaya OPISADA akan hadir dalam berbagai varian bahasa daerah di seluruh Nusantara. Setelah penilaian krida, dilanjutkan dengan evaluasi artikel kebahasaan dan kesastraan Oleh Hilmi Faiq, Setyo Untoro, dan Riza Sukma.

Masih berlanjut pada penilaian, hari Kamis, 28 September 2023, seluruh peserta melaksanakan tes kepribadian. Dalam hal ini, kami diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri melalu gambar, berbagai pilihan, pendapat, dan permainan baik secara individu maupun berkelompok. Kemudian, pada sore hari seluruh finalis menampilkan bakat seni dan budaya dari provinsi masing-masing. Kami (Windy dan Deny), menyuguhkan tarian dengan judul “Sungkawa Pembawa Petaka”. Tarian ini menceritakan tentang sepasang suami istri yang berasal dari daerah Batak Toba. Mereka hidup bahagia pada awalnya, sebelum sungkawa itu datang. Sang suami meninggal dunia karena penyakit yang diderita, namun sang istri tidak rela akan hal takdir tersebut. Berniat untuk menghidupkan kembali jasad suami, sang istri berubah menjadi datu-datu (dukun) dan melakukan berbagai ritual. Namun, bukannya roh sang suami, justru yang terpanggil adalah Begu Ganjang (Hantu Panjang). Setelah melakukan berbagai perlawanan dengan Begu, akhirnya sang istri menyesali perbuatannya dan berusaha mengikhlaskan kepergian sang suami.

Pada penampilan bakat seni dan budaya, kami juga bisa menikmati berbagai pesan moral dari penampilan para peserta. Sampailah kami pada tahap akhir mengikuti penilaian. Jumat, 29 September 2023, merupakan hari puncak Pemilihan Duta Bahasa Nasional.  Hari itu di mulai dengan latihan koreografi yang akan ditampilkan pada malam penganugerahan dan diikuti oleh seluruh peserta. Tarian ini memiliki tema campuran antara tradisional dan modern. Pun, seluruh peserta dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Arunika dan Baswara. Setelahnya, mulai pukul 19.00 WIB, seluruh finalis, panitia, dan tamu undangan mengikuti rangkaian kegiatan Malam Penganugrahan Duta Bahasa Nasional Tahun 2023. Pada malam itu, Ibu Erina Gudono (Putri Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta 2022), Ibu Chatarina Muliana (Inspektur Jenderal Kemendikbudristek), dan Bapak E. Aminudin Aziz (Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa), menjadi dewan juri kehormatan yang dihadirkan untuk menilai wicara publik oleh finalis yang masuk dalam 10 besar.

Kurang lebih lima hari kami merajut benang merah antara kompetisi dan kehangatan Dubasnas di Jakarta, tak terasa telah sampai pada ujung untuk simpulnya. Mengenal 60 delegasi dari 30 provinsi di seluruh Indonesia merupakan kesempatan yang tentunya tidak datang dua kali. Banyak kesan dan pesan yang kami dapatkan, tawa, sendu, haru, dan bahagia, bercampur menjadi satu.

Menang tidak selalu tentang kejuaraan. Bagi kami, berani melangkah dan melakukan perubahan yang baik, juga tergolong dalam kata ”menang”.

Demikian pengalaman kami, Windy dan Deny, selama mengikuti Pemilihan Duta Bahasa Nasional tahun 2023. Salam Literasi, dan mari tetap Rupawan Karena Bahasa!

Benang Merah Jakarta, Kompetisi, dan Kehangatan Dubasnas Read More »

Literasi sejak Dini,  Literasi dari Hati, Persembahan Tulus BBPSU untuk Sumatera Utara

Medan, 28 September 2023—Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara menyelenggarakan pemberdayaan komunitas literasi melalui Festival Literasi pada 25—28 September 2023 di Aula Sisingamangaraja XII, Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten, 80 penggiat literasi, Siswa SD, SMP, dan SMA dari berbagai kabupaten/kota di Sumatera Utara.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumut, Hidayat Widiyanto, yang mewakili Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra menjelaskan bahwa kegiatan festival ini merupakan ajang silaturahmi dan ajang pemberdayaan untuk saling berkomunikasi dalam rangka penguatan dan peningkatan literasi di Sumatera Utara.

“Saya berharap, Diskusi-diskusi yang produktif dalam kegiatan ini bisa memberikan masukan untuk membuat agenda pemberdayaan atau hal-hal yang akan dilakukan dalam rangka penguatan dan peningkatan literasi di Sumut ke depannya,” ucap Hidayat saat membuka Festival Literasi Tahun 2023 pada Senin, 25 September 2023.

Kegiatan Festival Literasi 2023 dilaksanakan sebagai tindak lanjut pemutakhiran data profil komunitas literasi yang telah dimulai sejak 2022. Pengategorian komunitas literasi terdiri atas kategori A, B, dan C, dengan kategori A sebagai kategori paling baik dan dianggap sudah memenuhi komponen manajerial yang baik untuk mengadakan aktivitas literasi dan kelengkapannya. Dalam pembukaan juga disampaikan apresiasi kepada sembilan komunitas yang berkategori sangat baik tersebut, yaitu 1) Forum Pemuda Peduli Pendidikan Karo (Sapo Literasi), 2) Lingkaran Quantum Indonesia, 3) Lembaga Ya’ahowu-TBM Ya’ahowu, 4) Medan Membaca, 5) Padepokan Iqro, 6) Perpustakaan Al-Hidayah, 7) TBM Azka Gemilang, 8) TBM Desa Lubuk Kertang, dan 9) TBM Ridha.

Dalam kegiatan tersebut dihadirkan narasumber-narasumber yang cakap dan ahli di bidang literasi sebagai katalisator pengembangan komunitas literasi, yaitu Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara, Wien Muldian (Ketua Umum Perkumpulan Literasi Indonesia), Benny Arnas (praktisi literasi, sastrawan), Nany Susilawati (Sekretaris Asosiasi Origami Indonesia-Sumut), dan Ismail Pong (Ketua Forum TBM Sumut) beserta sejumlah juri yang kompeten di bidangnya masing-masing. Peserta mendapatkan materi pelatihan manajemen dan penyusunan program literasi, serta diskusi-diskusi produktif tentang praktik baik berliterasi. 

Eka Dalanta, perwakilan Ngobrol Buku, menyampaikan apresiasi untuk Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara yang sudah melaksanakan Festival Literasi 2023 karena membantu komunitas literasi di Sumatera untuk saling bertemu dan membentuk jejaring yang baru. Eka juga menambahkan bahwa dia menunggu gebrakan baru dan kegiatan magang literasi yang diusung oleh BBPSU.

“Sebuah langkah bagus untuk mengumpulkan komunitas literasi karena ini sebagai apresiasi bagi kami dan menjadi wadah bagi komunitas literasi Sumut untuk mengenal dan berkumpul dan membentuk jejaring. Saya juga tidak sabar dengan rencana aksi BBPSU, magang literasi. Ini gerakan keren dan jangan pernah berhenti untuk kemajuan literasi di Sumatera Utara,” tutur Eka.

Perwakilan peserta yang lain, Muhammad Azhari dari Rumah Baca Laskar Pelangi Asahan, juga menyampaikan hal senada dengan Eka mengenai kegiatan Festival Literasi 2023. Azhari bersyukur dengan terlaksananya kegiatan ini, komunitas literasi mampu memberikan inspirasi dan bertukar gagasan untuk mengembangkan komunitas literasi di daerahnya.

“Festival Literasi 2023 merupakan salah satu kegiatan yang sangat bagus. Komunitas literasi di Sumatera Utara dikumpulkan dan dikenalkan satu dengan yang lain. Pameran produk dan aktivitas komunitas literasi juga menginspirasi saya untuk rencana pengembangan rumah baca saya. Kegiatan ini mengajarkan kami berkolaborasi untuk menciptakan ide baru yang akan meningkatkan kualitas rumah baca kami ke depannya,” pungkas Azhari. Festival Literasi dimeriahkan dengan berbagai jenis perlombaan seperti, menggambar spontan dan  bermain membaca untuk jenjang SD,  berlakon untuk jenjang SMP,  dan konten literasi wajah sekolah untuk jenjang SMA. Kegiatan ini juga diharapkan mampu membangkitkan semangat anak sejak dini seperti tema kegiatan Festival Literasi Sumatera Utara 2023, “Literasi sejak Dini, Literasi dari Hati” (Nv,Hd).

Literasi sejak Dini,  Literasi dari Hati, Persembahan Tulus BBPSU untuk Sumatera Utara Read More »

“MANCA” untuk Literasi yang Menyenangkan

Oleh: M. Deny Effendy Tambusay dan Windy Niskya Rahmi Harefa

Pada umumnya, literasi diartikan sebagai kemampuan baca, tulis, dan pemahaman terhadap satu masalah. Menurut Lestari, dkk. (2021), literasi merupakan proses pembelajaran yang dilakukan secara komprehensif untuk mengidentifikasi, memahami informasi, berkomunikasi, dan menghitung menggunakan bahan cetak dan tertulis dengan berbagai konteks.

Lalu, pernahkah kita berpikir bagaimana dunia tanpa literasi? Mungkin, bagai sebuah tempat, hanya akan ada kegelapan, hitam tanpa penerang. Bagaimana tidak? dengan literasi, seseorang dapat memperkaya kosakata, mengoptimalkan kinerja otak (sebab sering digunakan untuk menulis dan membaca), memperluas wawasan dan memeroleh informasi terbaru, meningkatkan kemampuan interpersonal seseorang, meningkatkan kemampuan memahami informasi dari bahan bacaan, mengasah kemampuan verbal, memperbaiki kepekaan terhadap informasi dari berbagai media, serta melatih diri untuk bisa merangkai kata dengan baik.

Data dari Badan Pusat Statistik (BSP) menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2023 sebanyak 278,69 juta jiwa. Namun sangat disayangkan, hal ini berbanding terbalik dengan jumlah minat bacanya. Dilansir dari data UNESCO, hanya 0,001% masyarakat Indonesia yang memiliki minat baca. Hal itu berarti, dari 1000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang suka dan aktif membaca. Selain itu, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Program of International Student Assessment (PISA) pada tahun 2019, minat baca Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara. Dengan kata lain, Indonesia masuk dalam bagian 10 negara yang memiliki tingkat literasi terendah di antara negara-negara yang disurvei.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 5 Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) mengatakan, khusus di Sumatera Utara, tingkat literasi pada tahun 2022 mencapai 51,69%. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2019 sebesar 37,96%, dan tahun 2016 sebesar 31,30%. Meski demikian, ini bukanlah suatu hal yang terlalu membahagiakan dan membuat kita mengangkat kepala seolah tidak acuh dengan apa yang akan terjadi dengan proses selanjutnya.

Tentunya kita bertanya-tanya, mengapa hal ini bisa terjadi? Menurut Rusti (2023), beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan literasi di Indonesia adalah

1. Kurangnya Minat Membaca

Minat didefinisikan sebagai perasaan suka dan tertarik terhadap sesuatu. Sedangkan membaca, memiliki banyak manfaat seperti meningkatkan aktivitas otak, menambah pengetahuan, dan mengasah daya ingat. Sehingga, dengan berkurangnya minat baca, berkurang pula sistem kerja otak dalam memahami suatu masalah.

2. Saran dan Prasarana yang Kurang Memadai

Fasilitas atau sarana dan prasarana yang disediakan, sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca. Sarana dan prasarana yang dimaksud adalah perpustakaan, taman baca masyarakat, dan ketersediaan buku-buku bacaan. Benar bahwa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam mendukung program Merdeka Belajar Ke-23 telah membagikan buku bacaan di seluruh Indonesia dalam bentuk buku bacaan bermutu. Namun, siapa yang dapat menjamin bahwa buku-buku tersebut akan sampai di pelosok negeri? Harus diakui bahwa Indonesia masih memiliki keterbatasan, terutama akses ke wilayah pedesaan.

3. Kemiskinan dan Hubungan dalam Keluarga

Peran penting keluarga sangat dibutuhkan untuk peningkatan literasi dari rumah. Peran yang dimaksud, bisa diberikan keluarga dalam bentuk kasih sayang, memberikan nasihat, dan diskusi tentang apa yang telah dilakukan anak. Sebaliknya, jika hubungan dalam keluarga tidak harmonis, juga akan berdampak pada anak. Terkait dengan itu, peran orang tua sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Kurangnya perhatian orang tua juga dapat memengaruhi kemampuan membaca, menulis, bernalar, dan juga berhitung. Selain itu, perlu juga dipahami bahwa kemiskinan juga berpengaruh pada rendahnya tingkat literasi. Karena, kemiskinan mengakibatkan keluarga tidak mampu menyediakan buku dan sarana belajar lainnya.

4. Pengaruh Ponsel dan Televisi

Sebagai sarana hiburan, televisi memegang peran yang sangat penting. Menonton televisi sudah menjadi rutinitas yang dilakukan banyak orang sehingga kebiasaan membaca menjadi menurun. Saat ini, kemajuan teknologi bahkan telah menciptakan alat baru yang sangat berguna, mudah, bahkan menghibur, dalam bentuk ponsel. Ponsel tidak bisa lepas dari genggaman. Bukan hanya orang tua, anak-anak juga menggunakannya. Ponsel menawarkan banyak tayangan dan fitur, seperti permainan, youtube, tiktok dan lain sebagainya, sehingga menggeser minat seseorang terhadap kegiatan membaca buku. Hal ini tentu saja berdampak pada kemampuan literasi.

5. Kualitas Pendidikan dan Model Pembelajaran di Sekolah

Kualitas pendidikan yang beragam di setiap daerah juga menjadi faktor penting yang memengaruhi literasi. Kurangnya tenaga pendidik yang berkualitas serta model pembelajaran yang tidak efektif, merupakan kendala yang harus dicarikan solusinya. Metode mengajar, prosedur, dan kemampuan guru merupakan alat utama untuk mewujudkan tujuan pembelajaran.

“Banyak jalan menuju Roma”, begitu bunyi sebuah pepatah yang didefinisikan ‘jika ingin mendapatkan sesuatu, banyak cara untuk mencapainya’. Maka, beberapa faktor penyebab di atas mendorong kami untuk bergerak dan membuat perubahan. Untuk mengatasi berbagai permasalahan literasi di Indonesia, diperlukan berbagai upaya yang komprehensif, di antaranya menerapkan kegiatan literasi yang efektif dan menarik perhatian, menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang peningkatan literasi, melakukan kolaborasi dengan para orang tua untuk pembiasaan membaca, serta melakukan model pembelajaran yang tidak membosankan.

Fakta yang kami temukan saat observasi menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya Kota Medan, memiliki kebiasaan. Setiap akhir pekan, tepatnya hari Minggu, mereka sering berkumpul bersama keluarga di taman kota. Mungkin hanya sekadar melepas kepenatan setelah satu minggu melakukan kegiatan rutin seperti sekolah, bekerja, atau malah di rumah saja. Atas semua permasalahan yang tuliskan di atas, kami menawarkan solusi dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat, berupa sebuah program yang kami beri nama MANCA, akronim dari Bermain sambil Membaca. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai langkah awal pembiasaan membaca buku secara menyenangkan kepada masyarakat, khususnya anak-anak, sekaligus untuk menarik perhatian mereka dari ponsel yang sering dimainkan.

Kami percaya bahwa, seseorang akan menekuni apa yang ia cintai. Strategi yang kami lakukan untuk memulai kecintaan terhadap buku, salah satunya adalah dengan membacakan nyaring (Read Aloud) kepada anak-anak. Membacakan nyaring merupakan sebuah aktivitas membacakan buku dengan menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti oleh anak serta menggunakan intonasi dan ekspresi yang menggambarkan isi cerita sehingga anak tertarik untuk mendengarkan, menyimak, fokus, merasa senang, berimajinasi tentang isi cerita, dan akhirnya mendapatkan pengetahuan baru.

Luthfi dalam laman Kementrian Keuangan Republik Indonesia (2020), menuliskan bahwa membacakan nyaring juga bermanfaat pada perkembangan psikologis anak. Cerita anak-anak yang dibacakan dengan cara dan situasi yang menyenangkan, akan meningkatkan rasa ingin tahu anak terhadap cerita-cerita selanjutnya. Dalam pikirannya, mereka akan membayangkan latar, tokoh, dan kejadian-kejadian yang disebutkan dalam cerita sehingga kreativitas dan daya imajinasinya akan semakin berkembang.

Sebagai salah satu program rutin yang dilakukan, pada episode kali ini, kami melaksanakan MANCA di Taman Ahmad Yani, Medan, Sumatera Utara. Seperti namanya, MANCA bukan hanya sekadar kegiatan membaca, melainkan juga bermain. Kami mengajak anak-anak untuk bermain. Permainan yang kami suguhkan adalah Kereta Bahasa. Dalam permainan ini, anak diajak bermain kereta bahasa. Kemudian, di tengah permainan anak diberikan kuis seputar kebahasaan. Dengan demikian, permainan ini bukan hanya sekadar bermain dan tertawa, melainkan juga dapat menambah pengetahuan anak tentang kebahasaan dengan cara yang menyenangkan.

Kegiatan MANCA ini mendapatkan umpan balik yang cukup positif, baik dari anak-anak, maupun dari orang dewasa. Hal ini dapat terlihat dari antusiasme anak yang menanyakan tentang kapan kegiatan MANCA dilaksanakan kembali. Selain itu, berdasarkan hasil observasi dan akhir pelaksanaan, kami mendapati 14 dari 20 anak-anak memberikan respons yang sangat positif. Mereka yang semula tampak tidak bersemangat, setelah mengikuti MANCA, secara antusias menanyakan apakah kegiatan ini akan berlanjut atau tidak. Hal ini tentunya menjadi kabar membahagiakan bagi kami. Belum lagi, tanggapan dari dari salah satu orang tua, Bapak Erwin, yang mengatakan bahwa kegiatan seperti ini sangat baik bagi masyarakat, terutama anak-anak. Beliau juga berharap supaya kegiatan MANCA bisa mengepakkan sayap lebih luas dan menyentuh seluruh masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera Utara.

Sebagai generasi muda yang masih dalam tahap belajar, kami sangat senang bisa memberikan dampak baik bagi masyarakat sekitar dalam peningkatan literasi dengan cara yang menyenangkan. Dalam persiapan pelaksanaan kegiatan ini, kami tentunya membutuhkan keluangan waktu demi persiapan yang matang di tengah kesibukan kami yang sebagian besar adalah mahasiswa. Akan tetapi, semua dapat kami lakukan dengan baik. Kami percaya bahwa sesuatu yang tampak kecil akan berdampak besar, asal dilakukan dengan hati yang lapang.

Buku dan membaca adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tak akan berarti sebuah buku tanpa ditelaah, tiada guna membaca tanpa segenggam kertas dan ilmunya.

(Duta Bahasa Sumatera Utara Tahun 2023)

DAFTAR PUSTAKA

Lestari, Frita Dwi, dkk. 2021. Pengaruh Budaya Literasi terhadap Hasil Belajar IPA di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu. 5(6): 5087—5099.

Rusti, Reliavirli Rusti. 2023. Analisis Faktor Penyebab Rendahnya Kemampuan Literasi Siswa Kelas 5 Di SDN 1 Kalibunder. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. 6(1): 2655-6022.

“MANCA” untuk Literasi yang Menyenangkan Read More »