Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara

admin

Bantuan Pemerintah Perkuat Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah Berbasis Komunitas dan Perseorangan

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 425/sipers/A6/V/2026

Depok, 26 Mei 2026 — Pemerintah terus memperkuat upaya revitalisasi bahasa dan sastra daerah melalui berbagai kebijakan dan program strategis. Namun, pelestarian bahasa daerah tidak dapat berjalan optimal apabila hanya dilakukan secara sektoral dan terpusat. Kekuatan utama pelestarian bahasa dan sastra daerah sejatinya berada di tangan masyarakat, terutama komunitas dan individu yang secara konsisten menjaga ruang hidup bahasa ibu di tengah perubahan zaman.

Sebagai bentuk dukungan nyata kepada para pelestari bahasa dan sastra daerah di tingkat akar rumput, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyalurkan Bantuan Pemerintah (Banpem) Bidang Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2026. Program ini menjadi bagian dari semangat Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026 yang menegaskan pentingnya partisipasi semesta dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah sebagai identitas budaya bangsa.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menyampaikan bahwa program bantuan pemerintah ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam memperkuat ekosistem pelestarian bahasa dan sastra daerah.

”Melalui skema fasilitasi komunitas dan apresiasi perseorangan, kami ingin memberikan dukungan sumber daya kepada komunitas penggerak yang tidak lelah menghidupkan ruang-ruang tutur, sekaligus memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para maestro dan aktivis yang telah mendedikasikan hidupnya sebagai penjaga gawang bahasa dan sastra daerah,” ujar Hafidz dalam kegiatan penyerahan bantuan di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia Kemendikdasmen, Senin (25/5) di Depok, Jawa Barat.

Para penerima bantuan pemerintah bidang kebahasaan dan kesastraan, di antaranya adalah Rahmah Asa Ridho Harun, Yayasan Hari Puisi yang diwakili Ariyani Isnamurti, TBM Saung Manggar yang dipimpin Nur Istiqomah, Tribuno Svastha Harena yang diwakili Hari Kusmanto, serta Rustani Simanjuntak.

Salah satu praktik baik datang dari Rustani Simanjuntak yang memanfaatkan bantuan pemerintah untuk mengembangkan pembelajaran dan promosi Aksara Batak. Melalui bantuan tersebut, Rustani berencana mencetak alat peraga aksara Batak, buku pembelajaran aksara Batak, hingga kain selendang bermotif aksara Batak sebagai media pengenalan budaya kepada masyarakat luas.

Ia juga mengembangkan buku tutorial belajar aksara Batak yang memuat pengenalan komponen dasar surat Batak, yakni Ina ni Surat dan Anak ni Surat, agar generasi muda dapat memahami sekaligus menulis bahasa Batak menggunakan aksara tradisionalnya. Selain itu, Rustani turut mendokumentasikan berbagai karya berbasis aksara Batak, termasuk penulisan empat versi Doa Bapa Kami dalam aksara Batak, bahasa Batak Latin, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.

“Saya berharap bantuan ini dapat memperluas pemanfaatan aksara Batak sekaligus menumbuhkan kembali kebanggaan terhadap falsafah hidup masyarakat Batak di tengah kehidupan multikultural Indonesia,” ujar Rustani.

Praktik baik lainnya dilakukan oleh Yayasan Tribuno Svastha Harena melalui program “Penguatan Literasi Digital Bahasa Daerah Berbasis Kearifan Lokal sebagai Upaya Revitalisasi Berbasis Komunitas untuk Generasi Z”. Program tersebut dirancang untuk menghadirkan bahasa daerah secara lebih adaptif, kreatif, dan relevan di ruang digital yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

Bantuan Pemerintah Perkuat Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah Berbasis Komunitas dan Perseorangan

Melalui bantuan pemerintah tersebut, komunitas mengembangkan berbagai kegiatan pelestarian bahasa dan sastra daerah, seperti pelatihan produksi konten digital berbasis budaya lokal, penulisan kreatif, dokumentasi bahasa daerah, pengembangan media edukasi, hingga publikasi karya sastra dan budaya melalui media sosial.

Perwakilan Yayasan Tribuno Svastha Harena, Hari Kusmanto, menjelaskan bahwa program tersebut juga memperkuat kolaborasi antara komunitas literasi, akademisi, pegiat budaya, sekolah, dan masyarakat dalam membangun ekosistem revitalisasi bahasa daerah yang partisipatif dan berkelanjutan.

“Bahasa daerah tidak hanya perlu dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga harus mampu hidup dan berkembang di tengah ekosistem digital modern. Karena itu, generasi muda perlu diajak untuk melihat bahasa daerah sebagai bagian penting dari identitas nasional yang relevan dengan kehidupan mereka saat ini,” ujar Hari.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Bantuan Pemerintah Perkuat Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah Berbasis Komunitas dan Perseorangan Read More »

Dukungan Partisipasi Semesta Perkuat Pelestarian Bahasa Daerah di Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 424/sipers/A6/V/2026

Depok, 25 Mei 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan pentingnya dukungan partisipasi semesta dalam upaya pelindungan dan revitalisasi bahasa daerah melalui penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026. Festival yang menghadirkan tunas-tunas muda dari berbagai daerah di Indonesia tersebut menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga legislatif, komunitas, guru, pegiat budaya, media, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan bahasa daerah sebagai identitas bangsa.

Dukungan Partisipasi Semesta Perkuat Pelestarian Bahasa Daerah di Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Hafidz Muksin, menyampaikan bahwa FTBIN 2026 merupakan momentum kebahagiaan bagi generasi muda pelestari bahasa daerah di seluruh Indonesia. Menurutnya, penampilan para peserta menunjukkan komitmen nyata pemerintah daerah dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah melalui berbagai kebijakan dan program revitalisasi.

“Hari ini merupakan kebahagiaan bagi tunas-tunas muda dari seluruh wilayah Republik Indonesia. Mereka adalah pejuang pelestari bahasa daerah. Penampilan yang luar biasa ini menunjukkan komitmen nyata pemerintah daerah atas upaya pelestarian bahasa daerah,” ujar Hafidz pada Senin (25/5) di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, Depok, Jawa Barat.

Dalam kesempatan tersebut, Kemendikdasmen turut memberikan Penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah kepada 27 kepala daerah yang dinilai memiliki komitmen tinggi dalam pelindungan bahasa daerah melalui kebijakan, regulasi, dukungan anggaran, dan pelaksanaan program revitalisasi bahasa daerah di wilayah masing-masing.

Hafidz menegaskan bahwa keberhasilan pelestarian bahasa daerah tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Strategi partisipasi semesta yang diusung Kemendikdasmen menjadi kunci dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua, termasuk dalam penguatan bahasa dan sastra daerah.

“Tanpa dukungan pemerintah daerah, Komite III DPD RI, komunitas, guru, masyarakat, para pegiat budaya, hingga media, program pelestarian bahasa daerah tidak akan berhasil. Karena itu, kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terus menjaga bahasa daerah tetap hidup di tengah masyarakat,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dalam mendukung pelestarian bahasa daerah. Badan Bahasa bersama berbagai mitra terus mengembangkan kamus bahasa daerah berbasis digital yang dapat diakses masyarakat dan dimanfaatkan sebagai sumber data pengembangan teknologi kecerdasan artifisial.

Menurut Hafidz, sejumlah daerah seperti Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan Selatan telah mengembangkan kamus digital dan platform bahasa berbasis teknologi melalui kolaborasi lintas pihak.

Selain itu, Kemendikdasmen bersama Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau juga memperkuat sinergi pelestarian bahasa melalui pengembangan kawasan budaya dan sejarah bahasa di Pulau Penyengat. Kawasan tersebut dinilai memiliki nilai historis penting sebagai pusat perkembangan bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia.

“Kita ingin anak-anak mengenal naskah kuno, sastra lama, dan sejarah kebahasaan bangsa sebagai bagian dari penguatan karakter. Momentum menuju 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028 juga menjadi kesempatan untuk memperkuat semangat persatuan melalui bahasa,” tutur Hafidz.

Dukungan terhadap pelestarian bahasa daerah juga datang dari Wakil Ketua II Komite III DPD RI, Jelita Donal. Ia menyampaikan bahwa Rancangan Undang-Undang Bahasa Daerah telah disahkan dalam rapat paripurna ke-9 DPD RI pada April 2026 dan telah diteruskan ke DPR RI untuk proses lebih lanjut.

Menurut Jelita, regulasi tersebut diharapkan menjadi landasan hukum yang memperkuat berbagai langkah pelindungan dan revitalisasi bahasa daerah di Indonesia. “Dengan adanya undang-undang ini, langkah-langkah pelestarian bahasa daerah akan memiliki kekuatan hukum yang lebih kuat sehingga pelaksanaannya dapat berjalan lebih efektif, cepat, tepat, dan didukung komitmen bersama,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi komitmen 27 kepala daerah penerima penghargaan revitalisasi bahasa daerah serta mengajak seluruh pihak untuk terus mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.
Sementara itu, Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan FTBIN 2026 dan penghargaan revitalisasi bahasa daerah yang diterima Provinsi Kepulauan Riau.

Ansar menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau terus memperkuat pelestarian bahasa daerah melalui berbagai langkah strategis, mulai dari penguatan kelembagaan kebudayaan, kerja sama dengan Badan Bahasa, hingga pelatihan bagi ratusan guru SD dan SMP untuk memperluas gerakan revitalisasi bahasa daerah secara masif.

Ia juga menyoroti pentingnya Pulau Penyengat sebagai pusat sejarah perkembangan bahasa Melayu yang menjadi fondasi bahasa Indonesia modern melalui karya Raja Ali Haji dan Gurindam Dua Belas.

Sebagai bentuk komitmen menjaga warisan kebahasaan tersebut, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau tengah membangun Museum dan Monumen Bahasa Nasional Indonesia di Pulau Penyengat yang ditargetkan rampung pada 2028, bertepatan dengan peringatan 100 tahun Sumpah Pemuda.

“Bahasa daerah adalah identitas bangsa sekaligus aset luar biasa yang dimiliki Indonesia. Karena itu, seluruh daerah memiliki tanggung jawab bersama untuk terus melestarikan dan mengembangkan bahasa daerah serta bahasa Indonesia,” ujar Ansar.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Dukungan Partisipasi Semesta Perkuat Pelestarian Bahasa Daerah di Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026 Read More »

Bahasa Daerah Harus Tetap Hidup, dari Ruang Kelas hingga Ruang Digital

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Depok, 25 Mei 2026 – Di tengah arus globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi digital, ratusan anak muda dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul di Depok, Jawa Barat. Mereka membawa satu pesan penting bahwa bahasa daerah tidak boleh hilang ditelan zaman. Melalui Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026, pemerintah bersama generasi muda menunjukkan bahwa bahasa ibu masih hidup, tumbuh, dan terus diwariskan.

Bahasa Daerah Harus Tetap Hidup, dari Ruang Kelas hingga Ruang Digital

Bagi Indonesia yang memiliki ratusan bahasa daerah, pelestarian bahasa bukan hanya upaya menjaga alat komunikasi, melainkan menjaga ingatan kolektif, nilai budaya, dan identitas bangsa. Bahasa daerah adalah rumah bagi cerita rakyat, petuah leluhur, hingga cara pandang masyarakat terhadap kehidupan. Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menyelenggarakan Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026 pada 22–26 Mei 2026 di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, Bojongsari, Depok. Festival ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 sekaligus momentum penting dalam upaya pelindungan dan revitalisasi bahasa daerah di Indonesia.

Dalam sambutannya, Wamendikdasmen Atip Latipulhayat menegaskan bahwa pelestarian bahasa daerah tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan semata. Menurutnya, bahasa daerah harus benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan pendidikan. “Jika bahasa daerah hanya hadir dalam buku atau sekadar menjadi mata pelajaran tanpa digunakan dalam pembelajaran sehari-hari, maka lama-kelamaan bahasa daerah hanya akan menjadi kenangan,” ujarnya pada Puncak Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional yang berlangsung pada Senin (25/5) di Gedung Garuda PPSDM Kemendikdasmen.

Ia mendorong agar bahasa daerah diperkuat melalui penggunaannya sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar di sekolah. Langkah itu dinilai penting agar generasi muda tetap akrab dan bangga menggunakan bahasa ibu mereka.

Menariknya, Atip juga menyoroti pentingnya keterlibatan teknologi dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah. Di era kecerdasan buatan atau _Artificial Intelligence_ (AI), menurutnya, bahasa daerah harus ikut masuk ke dalam ekosistem digital agar tidak tertinggal.

Ia menilai pengembangan teknologi berbasis _Large Language Model_ (LLM) perlu dioptimalkan agar bahasa-bahasa daerah Indonesia dapat digunakan secara luas di ruang digital, mulai dari aplikasi hingga platform AI masa depan. “Bahasa daerah juga harus masuk ke dalam ekosistem AI agar tetap relevan dan terus digunakan generasi muda,” katanya.

ementara itu, Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin menyebut Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional merupakan puncak dari program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang telah dilakukan secara bertahap di berbagai daerah di Indonesia.

Menurutnya, program tersebut tidak hanya berhenti pada pelatihan atau pembelajaran di kelas, tetapi melibatkan proses panjang mulai dari koordinasi lintas instansi, penyusunan bahan ajar, pelatihan guru, pengimbasan di sekolah, hingga festival berjenjang dari tingkat sekolah sampai provinsi. “Tahun ini wajah pendidikan nasional kita semakin ramah terhadap keberagaman,” ujar Hafidz.

Turut hadir, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq, Wakil Ketua II Komite III DPD RI Jelita Donal, Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin, kepala daerah, kepala balai dan kantor bahasa, serta peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.

Tentang Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026
Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026 mengusung tema “Suara Tunas Bahasa Ibu dalam Pendidikan Multibahasa” dengan menghadirkan 137 peserta terbaik tingkat provinsi yang mewakili 105 bahasa dan dialek dari 36 provinsi di Indonesia. Mereka adalah siswa sekolah dasar dan menengah yang telah mengikuti program revitalisasi bahasa daerah di wilayah masing-masing. Festival ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan bahasa daerah melalui tembang, pidato, dongeng, hingga seni pertunjukan kreatif, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan lintas budaya bagi generasi muda Indonesia.

Salah satu peserta, Rahmi Oktavia, siswi kelas IX SMPN 1 Rambah Hilir, mengaku bangga dapat tampil membawakan Tembang Tradisi Onduo dalam festival tersebut. Baginya, Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional tidak hanya membuatnya berkesempatan tampil di hadapan para pejabat negara, melainkan sebagai langkah nyata generasi muda dalam menjaga warisan leluhur sekaligus belajar menghargai keberagaman. “Melalui Festival Tunas Bahasa Ibu ini, kami bisa melestarikan bahasa daerah masing-masing sekaligus belajar toleransi,” ujarnya.

Rahmi juga mengajak generasi muda untuk tidak malu menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, langkah sederhana seperti berbicara menggunakan bahasa ibu di rumah atau lingkungan sekitar menjadi cara penting untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah. “Dengan terus menuturkannya, kita ikut menjaga warisan budaya daerah agar tetap hidup,” pungkasnya.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Bahasa Daerah Harus Tetap Hidup, dari Ruang Kelas hingga Ruang Digital Read More »

Belajar Sambil Bermain, TBM Lasan Baca Tumbuhkan Semangat Literasi Anak di Malinau

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 412/sipers/A6/V/2026

Jakarta, 22 Mei 2025 – Di sebuah desa di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, suara anak-anak yang membaca dan bercerita kini mulai terdengar lebih ramai dari sebelumnya. Di tengah keterbatasan akses buku dan fasilitas belajar, sebuah ruang sederhana bernama Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lasan Baca perlahan menjadi tempat tumbuhnya harapan baru bagi anak-anak di desa.

Di tempat itu, belajar tidak selalu dilakukan dengan cara yang kaku. Anak-anak diajak bermain, mendengar cerita, tertawa bersama, lalu perlahan belajar mengenal huruf, membaca, dan memahami dunia di sekitar mereka. Bagi para relawan, yang terpenting bukan hanya membuat anak-anak bisa membaca, tetapi juga membantu mereka tumbuh dengan rasa percaya diri dan keyakinan bahwa mereka memiliki masa depan yang layak diperjuangkan.

Belajar Sambil Bermain, TBM Lasan Baca Tumbuhkan Semangat Literasi Anak di Malinau

Kisah tersebut dibagikan dalam gelar wicara bertajuk “Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi di Malinau, Kalimantan Utara”. Adalah Zsazsa Suharningtyas, pegiat literasi sekaligus guru di SMPN 3 Malinau Selatan Hilir, yang selama ini mendampingi anak-anak di wilayah terpencil tersebut.

Zsazsa bercerita, TBM Lasan Baca yang berdiri pada 2024 lahir dari kegelisahan sederhana. Ia dan rekan-rekannya masih menemukan anak-anak sekolah dasar, bahkan siswa SMP, yang belum mampu membaca dengan lancar. “Kami menemukan masih ada murid kelas tiga SD bahkan SMP yang belum bisa membaca. Itu yang menjadi motivasi kami bergerak,” ujarnya dalam acara yang berlangsung di Jakarta, Kamis (21/5).

Berangkat dari kondisi tersebut, mereka mencoba menghadirkan cara belajar yang lebih dekat dengan dunia anak-anak. Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya akses buku, TBM Lasan Baca tetap menjalankan berbagai kegiatan kreatif dengan pendekatan bermain dan bercerita. “Kami mengubah konsep belajar menjadi belajar sambil bermain dan bercerita agar anak-anak merasa senang,” kata Zsazsa.

Ia juga mengungkapkan bahwa bantuan buku bacaan bermutu dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) melalui Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sangat membantu proses pendampingan literasi di desa. Menurutnya, buku-buku tersebut terasa dekat dengan kehidupan anak-anak sehingga membuat mereka lebih antusias membaca. “Cerita-ceritanya dekat dengan kehidupan lokal dan sangat disukai anak-anak,” tuturnya.

Perlahan, perubahan mulai terlihat. Zsazsa mengungkapkan bahwa salah satu anak binaannya yang sebelumnya selalu berada di peringkat terbawah di kelas karena belum mampu membaca dengan baik. Kini, anak tersebut berhasil masuk dalam 10 besar terbaik di sekolah dengan kemampuan literasi dan numerasi yang meningkat pesat. “Puji Tuhan, sekarang anak tersebut bisa masuk dalam peringkat 10 besar terbaik,” katanya penuh haru.

Saat ini, TBM Lasan Baca memiliki 65 anak aktif dan didukung oleh 12 relawan yang bekerja secara sukarela. Meski berada di daerah dengan berbagai keterbatasan, semangat mereka tetap sama yakni melayani dengan hati dan menghadirkan perubahan meski sekecil apa pun bagi anak-anak di desa. “Prinsip kami adalah melayani dengan hati untuk mengubah keadaan di desa. Kami percaya, meski dari daerah terpencil, kami tetap bisa ikut berperan membangun Indonesia yang lebih baik,” ujar Zsazsa.

Gelar wicara ini turut menghadirkan Kepala Desa Kuala Lapang, Kecamatan Malinau Barat, serta Ketua Ikatan Keluarga Baca Malinau (IKBM). Peserta yang hadir berasal dari berbagai komunitas literasi, komunitas sastra, MGMP guru Bahasa Indonesia, mahasiswa, mitra pembangunan INOVASI, hingga perwakilan Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Program INOVASI sebagai bagian dari upaya memperkuat Gerakan Literasi Nasional dan mendukung visi Pendidikan Bermutu untuk Semua. Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, berharap kisah dari Malinau dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk membangun budaya literasi melalui kolaborasi dan kepedulian bersama.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.idX: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.idSiaran
Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Belajar Sambil Bermain, TBM Lasan Baca Tumbuhkan Semangat Literasi Anak di Malinau Read More »

Dari Perbatasan Malinau, Literasi Tumbuh Lewat Kolaborasi Partisipasi Semesta

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 411/sipers/A6/V/2026

Jakarta, 22 Mei 2026 – Dalam momentum Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Hari Buku Nasional 2026, dan Hari Kebangkitan Nasional terdapat cerita tentang semangat literasi yang terus tumbuh dari wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia. Di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, keterbatasan akses dan tantangan geografis tidak menghalangi masyarakat untuk membangun budaya literasi yang hidup melalui kolaborasi pemerintah daerah, sekolah, keluarga, komunitas, dan masyarakat.

Dari Perbatasan Malinau, Literasi Tumbuh Lewat Kolaborasi Partisipasi Semesta

Sebagai wilayah yang sebagian besar masih berupa hutan alam dan hanya dapat dijangkau melalui jalur sungai serta perjalanan darat yang panjang, Malinau menunjukkan bahwa penguatan literasi dapat tumbuh dari partisipasi semesta. Dalam semangat tersebut, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bekerja sama dengan Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) kemitraan pendidikan antara pemerintah Indonesia dan Australia, menyelenggarakan gelar wicara bertajuk “Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi di Malinau, Kalimantan Utara” untuk menyebarluaskan praktik baik literasi yang mendukung Gerakan Literasi Nasional dan visi Pendidikan Bermutu untuk Semua.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, dalam paparannya menegaskan bahwa literasi menjadi fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia dan pencapaian tujuan pendidikan nasional. “Literasi menjadi fondasi penting mendapatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan dan literasi tidak dapat dipisahkan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional,” ujarnya di Kantor Badan Bahasa, Jakarta pada Kamis (21/5).

Hafidz menegaskan bahwa visi Pendidikan Bermutu untuk Semua yang diusung Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, dilandasi semangat agar layanan pendidikan dapat dinikmati seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. “Pilar terpenting pendidikan adalah guru, sarana yang memadai, dan pembelajaran yang bermakna. Literasi menjadi alat utama untuk meningkatkan pemahaman siswa, tidak hanya sekadar membaca dan menulis, tetapi memahami apa yang dibacanya,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa praktik baik dari Malinau menunjukkan bahwa keterbatasan geografis tidak menjadi penghalang untuk membangun budaya literasi yang kuat. “Orang sering mengatakan daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar (3T) dan perbatasan memiliki keterbatasan. Namun Malinau menunjukkan bahwa dengan keterbatasan justru lahir inovasi dan kreativitas yang luar biasa,” ungkap Hafidz.Selain itu, Hafidz juga mengungkapkan bahwa Indeks Kegemaran Membaca Provinsi Kalimantan Utara berada di atas rata-rata nasional. “Indeks Kegemaran Membaca nasional tahun 2025 berada di angka 54,8. Namun Kalimantan Utara mencapai 58,89. Ini bukan hasil yang datang begitu saja. Ada cerita, kerja keras, dan gerakan bersama di baliknya khususnya di Kabupaten Malinau,” ujarnya.

Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Malinau, Maylenty Wempi, yang turut menjadi narasumber dalam gelar wicara tersebut, menegaskan bahwa gerakan literasi di wilayahnya dibangun melalui semangat gotong royong dengan pendekatan berbasis keluarga. “Gerakan literasi di Kabupaten Malinau adalah gerakan bersama. Bukan hanya tugas pemerintah, tetapi semua mengambil peran,” ujarnya.

Menurut Maylenty, keluarga menjadi titik awal yang strategis dalam menumbuhkan budaya baca di masyarakat. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk INOVASI, turut memperkuat kesadaran akan pentingnya literasi sejak dini. “Kami menyadari peran kami sangat strategis karena langsung menyentuh keluarga,” katanya. Ia menambahkan bahwa literasi berperan dalam meningkatkan kemampuan memahami kondisi, berpikir kritis, berkomunikasi efektif, serta membentuk karakter.

Ia juga mengakui tantangan geografis Malinau sebagai wilayah perbatasan dengan luas wilayah dan keberagaman budaya, termasuk 11 suku asli. Karena itu, pendekatan berbasis budaya dan bahasa lokal menjadi penting agar masyarakat lebih mudah terlibat.

Meski demikian, gerakan literasi terus berkembang melalui sinergi lintas sektor hingga tingkat desa dan RT. Partisipasi berbagai pihak mendorong peningkatan jumlah pegiat literasi dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) secara konsisten. Sejak 2020, jumlah TBM meningkat dari 5 menjadi 96 unit pada 2026, sementara jumlah pegiat literasi bertambah dari 11 menjadi sekitar 768 orang. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kolaborasi yang terbangun mampu memperkuat ekosistem literasi secara inklusif dan berkelanjutan.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.idX: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Dari Perbatasan Malinau, Literasi Tumbuh Lewat Kolaborasi Partisipasi Semesta Read More »

Penandatanganan PKS dengan Pemda dan Perguruan Tinggi di Bangka Belitung, Perkuat Martabat Bahasa Persatuan

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 284/sipers/A6/IV/2026

Kab. Bangka Tengah, Provinsi Kep. Bangka Belitung, 16 April 2026 –– Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) melakukan pemberdayaan bagi seluruh ekosistem pendidikan. Khusus pada bidang kebahasaan dan kesastraan daerah, Badan Bahasa berupaya meningkatkan kolaborasi bersama pemerintah daerah dan perguruan tinggi.

Kerja sama ini ditandai dengan prosesi penandatanganan nota kesepakatan dan perjanjian kerja sama (PKS) antara Badan Bahasa dengan sejumlah mitra strategis. Adapun mitra strategis yang terlibat dalam kerja sama ini meliputi Pemerintah Kabupaten Bangka, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, serta IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik (SAS) Bangka Belitung

Penandatanganan PKS dengan Pemda dan Perguruan Tinggi di Bangka Belitung, Perkuat Martabat Bahasa Persatuan

Dalam lingkup kerja sama dengan pemerintah daerah, fokus diarahkan pada pengutamaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Hal ini mencakup agenda penyuluhan bahasa Indonesia, pelaksanaan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), serta pengutamaan bahasa Indonesia di ruang publik.

Langkah ini dibarengi dengan upaya pembinaan, pengembangan, serta pelindungan bahasa dan sastra daerah, juga dorongan bagi masing-masing spemerintah daerah untuk menyusun peraturan paerah (Perda). Regulasi ini nantinya akan menjadi payung hukum dalam mengatur Pengembangan, Pembinaan, dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Indonesia serta Daerah.

Di sisi lain, kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti IAIN SAS Bangka Belitung difokuskan pada pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. peningkatan kecakapan literasi, pemartabatan bahasa Indonesia, serta penginternasionalan bahasa Indonesia. Selain itu, pelestarian bahasa dan sastra daerah menjadi agenda yang tidak kalah penting guna menjaga kekayaan budaya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, berharap kolaborasi ini tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi mampu melindungi kelestarian bahasa dan sastra daerah. “Melalui penandatanganan kerja sama ini, harapannya sinergi dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi tidak hanya memartabatkan bahasa Indonesia, tetapi menjadi pelindung utama kelestarian bahasa dan sastra daerah di masa yang akan datang,” tandasnya

Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Bangka Barat, Markus; Rektor IAIN SAS Bangka Belitung, Irawan; Bunda Literasi Kabupaten Bangka Barat, para guru dan tenaga kependidikan, komunitas literasi, komunitas sastra, serta perwakilan pemerintah daerah yang siap mengawal implementasi kerja sama ini ke depan.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Penandatanganan PKS dengan Pemda dan Perguruan Tinggi di Bangka Belitung, Perkuat Martabat Bahasa Persatuan Read More »

Jejaring Lintas K/L Perkuat Implementasi Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 242/sipers/A6/IV/2026

Jakarta, 2 April 2026 – Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan harus menjadi wahana sinergi dan jejaring kerja lintas kementerian dan lembaga. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, meyakini bahwa pendidikan adalah kerja bersama yang memerlukan partisipasi semesta dari pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, media, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi perempuan, dan komunitas.

“Kegiatan bulan pemberdayaan ini harus menjadi sarana membangun jejaring kerja yang lebih kuat antara Kemendikdasmen, Kemenko PMK, Kementerian PPPA, Perpustakaan Nasional, serta para mitra strategis lainnya,” ujar Menteri Mu`ti, Rabu (1/4). “Sinergi tersebut penting agar isu pendidikan, perlindungan perempuan, perlindungan anak, literasi, karakter, dan pembangunan manusia bergerak dalam satu arah kebijakan yang saling menyambung dan saling menguatkan,” imbuhnya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno menyampaikan apresiasi atas langkah strategis Kemendikdasmen berkolaborasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam mendorong pemberdayaan perempuan melalui sektor pendidikan. Kolaborasi dan sinergi menjadi arah kebijakan Presiden kepada para Menteri dalam pelaksanaan tugasnya.

“Tidak ada kementerian maupun lembaga yang bisa suskes dan jalan sendiri. Semuanya harus berkolaborasi, bersinergi dan bekerja sama,” ujarnya Pratikno mengutip arahan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu.

Pratikno menyampaikan , “Pendidikan perempuan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada kualitas keluarga, ketahanan sosial, dan pembangunan ekonomi. Saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan. Ini adalah sinergi lintas kementerian/lembaga (K/L) yang luar biasa. Terima kasih atas kolaborasi bersama ini dan mari kita kerjakan ini secara serius,” pungkasnya.

Jejaring Lintas K/L Perkuat Implementasi Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan

Pada kesempatan yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak, Arifah menilai, pencanangan ini adalah titik kolaborasi dan gerakan bersama yang terukur dan terarah dalam mewujudkan kesetaraan gender yang inklusif dan berkeadilan. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pendidikan dan perlindungan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. “Lingkungan pendidikan yang berkualitas harus menjadi lingkungan yang aman bagi anak. Prinsipnya jelas tidak boleh ada satupun anak yang tertinggal dan tidak aman di lingkungan sekolah,” terangnya.

Keberhasilan pemberdayaan perempuan dan anak melalui pendidikan tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Melainkan perlu kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan. “Kami di Kemen-PPA berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi lintas sektor, mendorong implementasi pengarusutamaan gender hingga ke tingkat daerah serta memastikan pemberdayaan perempuan dan anak sebagai prioritas dalam pembangunan nasional,” katanya.

“Saya harap pencanangan ini menjadi awal dari gerakan besar yang bekelanjutan dan tidak berhenti di seremoni tapi diwujudkan dalam aksi nyata kebijakan yang berpihak pada masyarakat. Sebab, tidak ada pembangunan yang berkualitas tanpa kesetaraan gender,” tegas Menteri Arifah.

Pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan sebagai gerakan kolaboratif sepanjang April 2026 yang memadukan dialog kebijakan, kampanye edukatif, penguatan literasi, diseminasi praktik baik, aktivasi edukatif, bedah buku, serta kegiatan pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam laporannya, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Hafidz Muksin, mengungkapkan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana membangun jejaring kerja lintas kementerian dan lembaga. “Kemendikdasmen bersama kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah, satuan pendidikan, keluarga, masyarakat, media, perguruan tinggi, dunia usaha, serta organisasi perempuan didorong untuk bergerak dalam satu arah kebijakan yang saling terhubung dan saling menguatkan,” ucapnya.

Adapun rangkaian kegiatan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan akan diisi dengan berbagai program, antara lain lomba menulis cerpen “Bahasa Berdaya”, lomba video kreatif mendongeng bagi guru, penyusunan antologi cerpen berbahasa daerah, sayembara Cerita Anak Indonesia tentang Ibu Kartini, serta siniar Hari Kartini.

“Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan tumbuh ruang-ruang edukatif yang mendukung anak perempuan untuk belajar, berprestasi, dan memimpin, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor dan partisipasi publik dalam memaknai Hari Kartini secara substantif,” ujar Hafidz.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Jejaring Lintas K/L Perkuat Implementasi Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Read More »

Kemendikdasmen Canangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 239/sipers/A6/IV/2026

Jakarta, 1 April 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencanangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan pada Rabu (1/4) di Kantor Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Jakarta. Kemendikdasmen menempatkan pencanangan ini sebagai respons atas berbagai tantangan yang masih dihadapi perempuan, seperti keterbatasan akses pendidikan, belum meratanya dukungan untuk bercita-cita tinggi, stereotip gender, hingga ancaman kekerasan di ruang fisik maupun digital.

Dalam konteks ini, pendidikan dipandang sebagai sarana utama pemberdayaan perempuan melalui penguatan karakter, literasi, dan kesetaraan gender agar perempuan dapat berpartisipasi secara penuh di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan bahasa.

Kemendikdasmen Canangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan melalui pendidikan merupakan bagian penting dari visi besar pendidikan nasional. Menurutnya, pemberdayaan perempuan melalui pendidikan sejalan dengan visi Pendidikan Bermutu untuk Semua.

“Komitmen ini harus sungguh-sungguh menjangkau anak perempuan di desa, di kota, di pesisir, di pegunungan, di wilayah terdepan, serta di keluarga yang menghadapi berbagai keterbatasan. Pendidikan tidak boleh diskriminatif, tidak boleh membatasi cita-cita anak perempuan, dan tidak boleh membiarkan stereotip ataupun rasa takut menghambat potensi mereka,” tutur Menteri Mu’ti.

“Kita ingin lahir perempuan Indonesia yang cerdas, sehat, tangguh, berkarakter, mandiri, rendah hati, dan mampu menjadi penggerak kemajuan bangsa. Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan perlu ditopang oleh literasi yang utuh—baca-tulis, digital, hukum, dan literasi kritis—agar perempuan mampu mengambil keputusan, melindungi diri, dan menentukan arah hidupnya,” lanjutnya.

Tentang Pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan
Kegiatan ini mengusung tema “Pemberdayaan Perempuan: Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin menjelaskan, tema tersebut dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa pendidikan merupakan jalan utama dalam membuka akses perempuan terhadap pengetahuan, membangun kepercayaan diri, mengembangkan keterampilan hidup, serta memperluas kepemimpinan dan ruang pengambilan keputusan. “Melalui pendidikan, kualitas sumber daya manusia diperkuat, partisipasi perempuan dalam pembangunan diperluas, serta keluarga dan masyarakat didorong menjadi lebih berpengetahuan, berdaya, dan berkeadaban,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hafidz menyampaikan bahwa bahasa dan sastra memiliki peran strategis sebagai medium pembentuk kesadaran, pengasah daya pikir kritis, serta ruang refleksi atas posisi dan kontribusi perempuan dalam kehidupan sosial, pendidikan, budaya, dan kebangsaan. Oleh karenanya, pemberdayaan perempuan, penguatan literasi, serta penguatan nilai kebersamaan merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul, inklusif, dan berdaya saing.

Adapun kegiatan ini yang bertepatan momentum Hari Kartini, dimaknai sebagai agenda pendidikan dan penguatan karakter bangsa yang berkelanjutan. Kemendikdasmen menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini perlu dihadirkan kembali melalui gerakan gemar belajar, penguatan literasi, kehidupan bermasyarakat, serta aksi nyata. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993—1995, Wardiman Djojonegoro menilai pendidikan adalah kunci utama pemberdayaan perempuan, perempuan sebagai subjek pembangunan, pelaku perubahan, dan kekuatan kemajuan bangsa.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Kemendikdasmen Canangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Read More »

Sepanjang 2025, KBBI Bertambah 3.259 Entri Baru

Siaran PersKementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 14/sipers/A6/I/2026

Sepanjang 2025, KBBI Bertambah 3.259 Entri Baru

Jakarta, 7 Januari 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) telah memutakhirkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pada bulan Oktober 2025. Dalam pemutakhiran kali ini, KBBI menambahkan 3.259 entri baru sehingga jumlah keseluruhan entri mencapai 210.595. Daftar entri baru tersebut dapat diakses secara terbuka melalui https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/Beranda/Pemutakhiran.

Pemutakhiran KBBI dilakukan secara berkala setiap enam bulan sebagai upaya responsif terhadap perkembangan kosa kata dan istilah yang tubuh di tengah masyarakat. Dengan pembaruan dua kali setahun, KBBI diharapkan tetap menjadi rujukan kebahasaan yang relevan, akurat, dan mengikuti dinamika penggunaan bahasa Indonesia yang terus bergerak.

KBBI adalah Kamus Historis
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak hanya berfungsi sebagai kamus preskriptif yang memuat aturan kebahasaan semata. KBBI juga bersifat deskriptif, yakni mencatat kosakata sebagaimana digunakan oleh masyarakat, baik dalam bahasa formal maupun informal. Untuk melengkapi informasi tersebut, dalam entri KBBI terdapat label berupa singkatan yang menjelaskan ragam dan jenis kata tersebut. Misalnya, ragam cak yang berarti ’percakapan’ untuk menjelaskan bahwa kata tersebut hanya digunakan dalam ragam percakpan yang informal dan tidak digunakan sebagai kata baku. Label kas yang menunjukkan bahwa kata tersebut kata ’kasar’ yang hanya digunakan dalam umpatan atau makian. Selain itu, digunakan juga cara rujuk silang (cross reference) yang digunakan untuk merujuk pada bentuk yang baku. Pendekatan ini menegaskan bahwa KBBI tidak serta-merta membakukan semua kata yang dicatat, melainkan memberikan informasi kebahasaan secara utuh dan proporsional.

“KBBI adalah kamus besar yang ‘kebesarannya’ ditunjukkan oleh keluasan cakupan kosakata yang terhimpun dari aspek rentang waktu, bidang, dan ragam penggunaan,” ucapnya.

Dari Usulan Masyarakat hingga Masuk Kamus
Proses pemutakhiran KBBI dilakukan melalui mekanisme penyuntingan berjenjang dan terstandar. Usulan entri baru, baik dari tim internal maupun masyarakat, disunting oleh editor, ditelaah redaktur, dan disahkan oleh validator sebelum ditetapkan sebagai entri resmi. Penyuntingan berjenjang tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa entri yang masuk ke dalam KBBI sudah benar-benar melalui proses penyaringan dan penyuntingan yang terstandar. Rapat redaksi dilakukan secara berkala untuk membahas persoalan apa saja yang muncul dalam penyuntingan.

Partisipasi publik menjadi salah satu kekuatan utama dalam pengembangan KBBI. Hingga saat ini, KBBI Daring telah menerima 255.629 usulan dari masyarakat, degan 181.220 usulan atau sekitar 70,89 % di antaranya telah disunting. Setiap usulan yang diterima terlebih dahulu melalui proses penyuntingan oleh editor. Apabila masih diperlukan perbaikan, usulan dikembalikan kepada pengusul untuk disempurnakan. Usulan yang telah sesuai kemudian diteruskan kepada redaktur untuk dilakukan penelaahan. Setelah dinyatakan layak, usulan divalidasi dan ditetapkan sebagai bagian dari daftar entri yang akan dimutakhirkan pada periode berikutnya.

Usulan kata yang masuk mencerminkan kreativitas penutur bahasa Indonesia. Beberapa diantaranya merupakan variasi cakapan dari kata yang telah ada, yang dicatat dalam KBBI karena tingkat penggunaanya cukup luas.

Dalam praktik leksikografi modern, frekuensi kemunculan menjadi salah satu indikator, tetapi bukan satu-satunya penentu. Editor juga mempertimbangkan nilai rasa, potensi tafsir sosial-budaya, serta kesesuaian dengan kaidah bahasa Indonesia sebelum menetapkan informasi penggunaan dalam entri KBBI.

Secara umum, sebuah kata dapat masuk ke dalam KBBI apabila memenuhi kriteria utama, yakni keunikan, eufonik (enak didengar), sesuai dengan kaidah bahasa Indonesi, tidak berkonotasi negatif, seta digunakan secara luas dan berulang oleh masyarakat. Banyak diantaranya berasal dari bahasa daerah atau bahasa asing yang mengisi kekosongan makna dalam bahasa Indonesia. Proses ini mencerminkan partisipasi semesta dalam memperkaya khazanah kosakata bahasa Indonesia.

Sebagai karya rujukan, KBBI menggunakan berbagai konvensi penulisan unituk memudahkan pengguna, mulai dari penandaan lema, contoh penggunaan, pemenggalan kata, hingga label ragam dan bidang. Pemahaman terhadap konvensi tersebut akan meningkatkan keterampilan merujuk dan membantu pengguna memperolah informasi kebahasaan secara tepat dan komprehensif.

KBBI merupakan kamus utama bahasa Indonesia yang dikelola secara resmi dan terus diperbarui secara berkala. Dengan pendekatan preskriptif-deskriptif yang saling melengkapi, KBBI tidak hanya menetapkan standar bahasa, tetapi juga merekam bahasa Indonesia sebagai bahasa yang hidup, tumbuh, dan berkembang bersama penuturnya.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X:x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua

#KemendikdasmenRamah

Sepanjang 2025, KBBI Bertambah 3.259 Entri Baru Read More »