Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara

Berita

Wamendikdasmen Fajar Dorong Trigatra Bangun Bahasa dan Transformasi Digital Pendidikan di Dumai

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 467/sipers/A6/VI/2026

Dumai, Riau, 6 Juni 2026 – Suasana pagi di Sekolah Maitreyawira, Kota Dumai, Provinsi Riau, terasa hangat dan menggembirakan. Seluruh warga sekolah bersemangat menyambut Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, bersama Walikota Dumai, Paisal, yang hadir di momen pentas seni sekolah.
 
Di hadapan ratusan murid Sekolah Maitreyawira, Wamen Fajar memberikan motivasi dan mendorong sekolah untuk terus mengembangkan Trigatra Bangun Bahasa serta melakukan transformasi digital pendidikan. Wamen Fajar menilai praktik pendidikan multikultural seperti yang diterapkan Sekolah Maitreyawira menjadi modal penting dalam membangun karakter murid. Kehadiran warga sekolah dari berbagai latar belakang budaya dan penggunaan bahasa asing memberikan ruang untuk tumbuhnya sikap toleransi, empati, serta kemampuan berinteraksi murid dalam masyarakat yang majemuk.
 
“Kita hidup di tengah masyarakat yang beragam. Semakin dini murid dikenalkan pada keragaman bahasa dan budaya, maka semakin kuat kemampuan mereka untuk menghargai perbedaan dan hidup berdampingan secara harmonis,” ungkap Wamendikdasmen, Fajar Riza Ul Haq, di Kota Dumai, Jumat (5/6).
 
Selanjutnya, Wamen Fajar turut memaparkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 2 Tahun 2025 tentang Pedoman Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia. Kebijakan tersebut melingkupi konsep Trigatra Bangun Bahasa dengan poin yaitu mengutamakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan identitas nasional, melestarikan bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa, serta menguasai bahasa asing sebagai sarana komunikasi global.

Keseimbangan tiga aspek itu dijelaskannya sangat penting agar murid memiliki identitas kebangsaan yang kuat sekaligus modal bersaing di tingkat internasional. “Jangan sampai kita kehilangan jati diri karena terlalu berorientasi pada bahasa asing. Sebaliknya, kita juga tidak boleh menutup diri dari perkembangan dunia global. Oleh karena itu, Trigatra Bangun Bahasa menjadi panduan untuk menjaga keseimbangan itu,” tutur Wamen Fajar. 

Menutup sambutannya, Wamen Fajar mengungkapkan bahwa indikator pendidikan di Kota Dumai menunjukkan perkembangan yang positif. Rata-rata lama sekolah masyarakat Dumai juga telah melampaui batas minimum nasional, berikut dengan angka harapan lama sekolah yang juga terus meningkat.

Apresiasi Pemerintah Kota Dumai

Pada kesempatan yang sama, Walikota Dumai, Paisal, mengapresiasi kehadiran Wamen Fajar sebagai momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan serta pembangunan sumber daya manusia. Lebih lanjut, hadirnya Wamen Fajar di Kota Dumai juga menjadi bentuk perhatian nyata Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terhadap perkembangan pendidikan di daerah yang memiliki keberagaman suku, budaya, dan agama. 

Paisal menambahkan, Kota Dumai sangat dikenal sebagai daerah yang heterogen dengan keberagaman harmonis di tengah masyarakat. Kondisi tersebut juga tercermin dalam dunia pendidikan, di mana sekolah-sekolah negeri maupun swasta tumbuh berkembang secara bersama, melayani murid dari berbagai latar belakang. 

“Keberadaan sekolah-sekolah swasta yang semakin berkembang menunjukkan bahwa kini masyarakat memiliki banyak pilihan untuk mendapatkan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka. Ini juga menjadi simbol bahwa kualitas pendidikan di Dumai terus meningkat,” terang Paisal.

Di bidang pendidikan karakter, Pemerintah Kota Dumai memiliki program Hikmat Pendidikan dengan menempatkan pembentukan adab dan akhlak sebagai fondasi utama murid. Program tersebut telah diterapkan di seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta.
 
“Kami ingin anak-anak Dumai tumbuh menjadi generasi yang beradab, berakhlak mulia, dan memiliki kompetensi yang unggul. Dengan karakter yang baik, kelak mereka akan menjadi dokter, guru, polisi, maupun profesi lainnya yang memberikan manfaat bagi bangsa Indonesia,” pungkas Paisal.
 
 
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
 
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook:  facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
 

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Wamendikdasmen Fajar Dorong Trigatra Bangun Bahasa dan Transformasi Digital Pendidikan di Dumai Read More »

Perkuat Literasi di NTT, Badan Bahasa Dorong Gerakan Partisipasi Semesta

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 447/sipers/A6/V/2026

Kupang, NTT, 30 Mei 2026—Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua melalui penguatan partisipasi semesta dalam Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang berfokus pada peningkatan literasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), upaya tersebut dilakukan bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, keluarga, komunitas, dan mitra pembangunan untuk membangun ekosistem pendidikan yang literat, inklusif, dan berkelanjutan. Salah satu implementasinya adalah penyelenggaraan Bimbingan Teknis Literasi Generasi Muda dan Gelar Wicara Praktik Baik Literasi di NTT dalam rangka Hari Buku Nasional pada Selasa (26/5). Mengusung tema “Dari Bumi Flobamorata Menyemai Benih Menebar Pijar Literasi”, kegiatan ini adalah wujud kerja sama antara Pemerintah Daerah NTT, INOVASI, dan Bank Indonesia.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa peningkatan kualitas literasi bangsa tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Menurutnya, literasi memerlukan keterlibatan seluruh unsur masyarakat agar dapat tumbuh menjadi budaya yang hidup di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. “Partisipasi semesta menjadi kunci untuk membangun ekosistem pendidikan yang bermutu dan berkeadilan,” ujar Hafidz.

Ia menjelaskan bahwa hasil berbagai asesmen pendidikan menunjukkan perlunya penguatan budaya membaca dan kemampuan literasi peserta didik secara lebih masif. Oleh karena itu, Kemendikdasmen melalui Badan Bahasa terus memperluas akses bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan jenjang usia anak. Menurutnya, Provinsi NTT menjadi salah satu daerah prioritas penguatan literasi nasional pada tahun 2026. Badan Bahasa akan mendistribusikan masing-masing 200 eksemplar buku bacaan bermutu ke 1.294 sekolah dasar dan masing-masing 300 eksemplar pada 393 sekolah menengah pertama di NTT.

“Anak-anak harus memiliki akses terhadap buku-buku yang bermutu, menarik, sesuai usia dan jenjang pendidikan mereka. Dari sanalah kebiasaan membaca dan kemampuan berpikir kritis dapat tumbuh,” tandasnya.

Selain bantuan buku ke sekolah, Badan Bahasa juga menyerahkan sebanyak 5.400 buku bacaan bermutu kepada Bunda Literasi NTT untuk didistribusikan ke berbagai daerah di provinsi tersebut. Badan Bahasa turut memberikan diska keras eksternal yang memuat 1.400 judul buku digital untuk diperbanyak dan dimanfaatkan oleh Bunda Literasi kabupaten/kota di seluruh NTT.

Peningkatan Kemampuan Literasi Generasi Muda

Balai Bahasa Provinsi NTT bersama dengan Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) melakukan penguatan literasi pada generasi muda. Para peserta didik dilibatkan secara langsung dalam kegiatan membaca dan pembelajaran literasi. Sebanyak 700 siswa dari jenjang SD hingga SMA mengikuti aktivitas literasi sesuai tingkat pendidikan masing-masing. Siswa sekolah dasar mengikuti kegiatan mengulas buku, siswa SMP dibekali keterampilan membaca cepat, sedangkan siswa SMA diajak melakukan pembacaan kritis terhadap cerita yang dipaparkan narasumber.

Hafidz menilai antusiasme peserta menunjukkan bahwa anak-anak memiliki minat belajar yang tinggi ketika diberikan ruang dan bahan bacaan yang menarik dan tepat.

“Ada siswa yang merasa cerita yang dibaca sangat dekat dengan kehidupan mereka. Ini menunjukkan bahwa membaca bukan sekadar memahami teks, tetapi juga membangun empati. Mereka belajar memahami isi bacaan dan mengembangkan imajinasi serta berpikir kritis,” ujarnya.

Para peserta sangat antusias saat membaca buku cerita bergambar yang menarik perhatian mereka. Keceriaan dan kebersamaan tumbuh dalam aktivitas membaca bersama teman seusianya. Saat diminta menceritakan kembali buku cerita yang dibacanya, mengalir dengan lancar dengan pemahaman yang utuh apa yang dibacanya.

Staf Ahli Gubernur NTT, Henderina Laiskodat, menyampaikan sambutan Gubernur NTT pada kegiatan ini menekankan budaya membaca masyarakat NTT menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan Survei Tingkat Kegemaran Membaca Tahun 2025 dari Perpustakaan Nasional, tingkat kegemaran membaca masyarakat NTT mencapai 62,05 atau berada di atas rata-rata nasional sebesar 54,80. Menurutnya, capaian tersebut menjadi modal penting dalam membangun sumber daya manusia yang unggul di NTT.

“Kita harus menjaga semangat membaca ini dengan menghadirkan bahan bacaan yang berkualitas dan mudah diakses masyarakat,” ujarnya.

Bunda Literasi NTT, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, juga menegaskan pentingnya gerakan literasi yang berangkat dari keluarga. Ia menyebut dukungan dan kolaborasi bersama Badan Bahasa membantu memperkuat gerakan literasi hingga tingkat daerah.

“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Gerakan literasi membutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Perkuat Literasi di NTT, Badan Bahasa Dorong Gerakan Partisipasi Semesta Read More »

Bantuan Pemerintah Perkuat Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah Berbasis Komunitas dan Perseorangan

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 425/sipers/A6/V/2026

Depok, 26 Mei 2026 — Pemerintah terus memperkuat upaya revitalisasi bahasa dan sastra daerah melalui berbagai kebijakan dan program strategis. Namun, pelestarian bahasa daerah tidak dapat berjalan optimal apabila hanya dilakukan secara sektoral dan terpusat. Kekuatan utama pelestarian bahasa dan sastra daerah sejatinya berada di tangan masyarakat, terutama komunitas dan individu yang secara konsisten menjaga ruang hidup bahasa ibu di tengah perubahan zaman.

Sebagai bentuk dukungan nyata kepada para pelestari bahasa dan sastra daerah di tingkat akar rumput, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyalurkan Bantuan Pemerintah (Banpem) Bidang Kebahasaan dan Kesastraan Tahun 2026. Program ini menjadi bagian dari semangat Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026 yang menegaskan pentingnya partisipasi semesta dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah sebagai identitas budaya bangsa.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menyampaikan bahwa program bantuan pemerintah ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam memperkuat ekosistem pelestarian bahasa dan sastra daerah.

”Melalui skema fasilitasi komunitas dan apresiasi perseorangan, kami ingin memberikan dukungan sumber daya kepada komunitas penggerak yang tidak lelah menghidupkan ruang-ruang tutur, sekaligus memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para maestro dan aktivis yang telah mendedikasikan hidupnya sebagai penjaga gawang bahasa dan sastra daerah,” ujar Hafidz dalam kegiatan penyerahan bantuan di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia Kemendikdasmen, Senin (25/5) di Depok, Jawa Barat.

Para penerima bantuan pemerintah bidang kebahasaan dan kesastraan, di antaranya adalah Rahmah Asa Ridho Harun, Yayasan Hari Puisi yang diwakili Ariyani Isnamurti, TBM Saung Manggar yang dipimpin Nur Istiqomah, Tribuno Svastha Harena yang diwakili Hari Kusmanto, serta Rustani Simanjuntak.

Salah satu praktik baik datang dari Rustani Simanjuntak yang memanfaatkan bantuan pemerintah untuk mengembangkan pembelajaran dan promosi Aksara Batak. Melalui bantuan tersebut, Rustani berencana mencetak alat peraga aksara Batak, buku pembelajaran aksara Batak, hingga kain selendang bermotif aksara Batak sebagai media pengenalan budaya kepada masyarakat luas.

Ia juga mengembangkan buku tutorial belajar aksara Batak yang memuat pengenalan komponen dasar surat Batak, yakni Ina ni Surat dan Anak ni Surat, agar generasi muda dapat memahami sekaligus menulis bahasa Batak menggunakan aksara tradisionalnya. Selain itu, Rustani turut mendokumentasikan berbagai karya berbasis aksara Batak, termasuk penulisan empat versi Doa Bapa Kami dalam aksara Batak, bahasa Batak Latin, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.

“Saya berharap bantuan ini dapat memperluas pemanfaatan aksara Batak sekaligus menumbuhkan kembali kebanggaan terhadap falsafah hidup masyarakat Batak di tengah kehidupan multikultural Indonesia,” ujar Rustani.

Praktik baik lainnya dilakukan oleh Yayasan Tribuno Svastha Harena melalui program “Penguatan Literasi Digital Bahasa Daerah Berbasis Kearifan Lokal sebagai Upaya Revitalisasi Berbasis Komunitas untuk Generasi Z”. Program tersebut dirancang untuk menghadirkan bahasa daerah secara lebih adaptif, kreatif, dan relevan di ruang digital yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

Bantuan Pemerintah Perkuat Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah Berbasis Komunitas dan Perseorangan

Melalui bantuan pemerintah tersebut, komunitas mengembangkan berbagai kegiatan pelestarian bahasa dan sastra daerah, seperti pelatihan produksi konten digital berbasis budaya lokal, penulisan kreatif, dokumentasi bahasa daerah, pengembangan media edukasi, hingga publikasi karya sastra dan budaya melalui media sosial.

Perwakilan Yayasan Tribuno Svastha Harena, Hari Kusmanto, menjelaskan bahwa program tersebut juga memperkuat kolaborasi antara komunitas literasi, akademisi, pegiat budaya, sekolah, dan masyarakat dalam membangun ekosistem revitalisasi bahasa daerah yang partisipatif dan berkelanjutan.

“Bahasa daerah tidak hanya perlu dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga harus mampu hidup dan berkembang di tengah ekosistem digital modern. Karena itu, generasi muda perlu diajak untuk melihat bahasa daerah sebagai bagian penting dari identitas nasional yang relevan dengan kehidupan mereka saat ini,” ujar Hari.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Bantuan Pemerintah Perkuat Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah Berbasis Komunitas dan Perseorangan Read More »

Dukungan Partisipasi Semesta Perkuat Pelestarian Bahasa Daerah di Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 424/sipers/A6/V/2026

Depok, 25 Mei 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan pentingnya dukungan partisipasi semesta dalam upaya pelindungan dan revitalisasi bahasa daerah melalui penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026. Festival yang menghadirkan tunas-tunas muda dari berbagai daerah di Indonesia tersebut menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga legislatif, komunitas, guru, pegiat budaya, media, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan bahasa daerah sebagai identitas bangsa.

Dukungan Partisipasi Semesta Perkuat Pelestarian Bahasa Daerah di Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Hafidz Muksin, menyampaikan bahwa FTBIN 2026 merupakan momentum kebahagiaan bagi generasi muda pelestari bahasa daerah di seluruh Indonesia. Menurutnya, penampilan para peserta menunjukkan komitmen nyata pemerintah daerah dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah melalui berbagai kebijakan dan program revitalisasi.

“Hari ini merupakan kebahagiaan bagi tunas-tunas muda dari seluruh wilayah Republik Indonesia. Mereka adalah pejuang pelestari bahasa daerah. Penampilan yang luar biasa ini menunjukkan komitmen nyata pemerintah daerah atas upaya pelestarian bahasa daerah,” ujar Hafidz pada Senin (25/5) di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, Depok, Jawa Barat.

Dalam kesempatan tersebut, Kemendikdasmen turut memberikan Penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah kepada 27 kepala daerah yang dinilai memiliki komitmen tinggi dalam pelindungan bahasa daerah melalui kebijakan, regulasi, dukungan anggaran, dan pelaksanaan program revitalisasi bahasa daerah di wilayah masing-masing.

Hafidz menegaskan bahwa keberhasilan pelestarian bahasa daerah tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Strategi partisipasi semesta yang diusung Kemendikdasmen menjadi kunci dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua, termasuk dalam penguatan bahasa dan sastra daerah.

“Tanpa dukungan pemerintah daerah, Komite III DPD RI, komunitas, guru, masyarakat, para pegiat budaya, hingga media, program pelestarian bahasa daerah tidak akan berhasil. Karena itu, kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terus menjaga bahasa daerah tetap hidup di tengah masyarakat,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dalam mendukung pelestarian bahasa daerah. Badan Bahasa bersama berbagai mitra terus mengembangkan kamus bahasa daerah berbasis digital yang dapat diakses masyarakat dan dimanfaatkan sebagai sumber data pengembangan teknologi kecerdasan artifisial.

Menurut Hafidz, sejumlah daerah seperti Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan Selatan telah mengembangkan kamus digital dan platform bahasa berbasis teknologi melalui kolaborasi lintas pihak.

Selain itu, Kemendikdasmen bersama Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau juga memperkuat sinergi pelestarian bahasa melalui pengembangan kawasan budaya dan sejarah bahasa di Pulau Penyengat. Kawasan tersebut dinilai memiliki nilai historis penting sebagai pusat perkembangan bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia.

“Kita ingin anak-anak mengenal naskah kuno, sastra lama, dan sejarah kebahasaan bangsa sebagai bagian dari penguatan karakter. Momentum menuju 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028 juga menjadi kesempatan untuk memperkuat semangat persatuan melalui bahasa,” tutur Hafidz.

Dukungan terhadap pelestarian bahasa daerah juga datang dari Wakil Ketua II Komite III DPD RI, Jelita Donal. Ia menyampaikan bahwa Rancangan Undang-Undang Bahasa Daerah telah disahkan dalam rapat paripurna ke-9 DPD RI pada April 2026 dan telah diteruskan ke DPR RI untuk proses lebih lanjut.

Menurut Jelita, regulasi tersebut diharapkan menjadi landasan hukum yang memperkuat berbagai langkah pelindungan dan revitalisasi bahasa daerah di Indonesia. “Dengan adanya undang-undang ini, langkah-langkah pelestarian bahasa daerah akan memiliki kekuatan hukum yang lebih kuat sehingga pelaksanaannya dapat berjalan lebih efektif, cepat, tepat, dan didukung komitmen bersama,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi komitmen 27 kepala daerah penerima penghargaan revitalisasi bahasa daerah serta mengajak seluruh pihak untuk terus mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.
Sementara itu, Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan FTBIN 2026 dan penghargaan revitalisasi bahasa daerah yang diterima Provinsi Kepulauan Riau.

Ansar menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau terus memperkuat pelestarian bahasa daerah melalui berbagai langkah strategis, mulai dari penguatan kelembagaan kebudayaan, kerja sama dengan Badan Bahasa, hingga pelatihan bagi ratusan guru SD dan SMP untuk memperluas gerakan revitalisasi bahasa daerah secara masif.

Ia juga menyoroti pentingnya Pulau Penyengat sebagai pusat sejarah perkembangan bahasa Melayu yang menjadi fondasi bahasa Indonesia modern melalui karya Raja Ali Haji dan Gurindam Dua Belas.

Sebagai bentuk komitmen menjaga warisan kebahasaan tersebut, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau tengah membangun Museum dan Monumen Bahasa Nasional Indonesia di Pulau Penyengat yang ditargetkan rampung pada 2028, bertepatan dengan peringatan 100 tahun Sumpah Pemuda.

“Bahasa daerah adalah identitas bangsa sekaligus aset luar biasa yang dimiliki Indonesia. Karena itu, seluruh daerah memiliki tanggung jawab bersama untuk terus melestarikan dan mengembangkan bahasa daerah serta bahasa Indonesia,” ujar Ansar.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Dukungan Partisipasi Semesta Perkuat Pelestarian Bahasa Daerah di Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026 Read More »

Bahasa Daerah Harus Tetap Hidup, dari Ruang Kelas hingga Ruang Digital

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Depok, 25 Mei 2026 – Di tengah arus globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi digital, ratusan anak muda dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul di Depok, Jawa Barat. Mereka membawa satu pesan penting bahwa bahasa daerah tidak boleh hilang ditelan zaman. Melalui Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026, pemerintah bersama generasi muda menunjukkan bahwa bahasa ibu masih hidup, tumbuh, dan terus diwariskan.

Bahasa Daerah Harus Tetap Hidup, dari Ruang Kelas hingga Ruang Digital

Bagi Indonesia yang memiliki ratusan bahasa daerah, pelestarian bahasa bukan hanya upaya menjaga alat komunikasi, melainkan menjaga ingatan kolektif, nilai budaya, dan identitas bangsa. Bahasa daerah adalah rumah bagi cerita rakyat, petuah leluhur, hingga cara pandang masyarakat terhadap kehidupan. Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menyelenggarakan Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026 pada 22–26 Mei 2026 di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, Bojongsari, Depok. Festival ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 sekaligus momentum penting dalam upaya pelindungan dan revitalisasi bahasa daerah di Indonesia.

Dalam sambutannya, Wamendikdasmen Atip Latipulhayat menegaskan bahwa pelestarian bahasa daerah tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan semata. Menurutnya, bahasa daerah harus benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan pendidikan. “Jika bahasa daerah hanya hadir dalam buku atau sekadar menjadi mata pelajaran tanpa digunakan dalam pembelajaran sehari-hari, maka lama-kelamaan bahasa daerah hanya akan menjadi kenangan,” ujarnya pada Puncak Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional yang berlangsung pada Senin (25/5) di Gedung Garuda PPSDM Kemendikdasmen.

Ia mendorong agar bahasa daerah diperkuat melalui penggunaannya sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar di sekolah. Langkah itu dinilai penting agar generasi muda tetap akrab dan bangga menggunakan bahasa ibu mereka.

Menariknya, Atip juga menyoroti pentingnya keterlibatan teknologi dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah. Di era kecerdasan buatan atau _Artificial Intelligence_ (AI), menurutnya, bahasa daerah harus ikut masuk ke dalam ekosistem digital agar tidak tertinggal.

Ia menilai pengembangan teknologi berbasis _Large Language Model_ (LLM) perlu dioptimalkan agar bahasa-bahasa daerah Indonesia dapat digunakan secara luas di ruang digital, mulai dari aplikasi hingga platform AI masa depan. “Bahasa daerah juga harus masuk ke dalam ekosistem AI agar tetap relevan dan terus digunakan generasi muda,” katanya.

ementara itu, Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin menyebut Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional merupakan puncak dari program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang telah dilakukan secara bertahap di berbagai daerah di Indonesia.

Menurutnya, program tersebut tidak hanya berhenti pada pelatihan atau pembelajaran di kelas, tetapi melibatkan proses panjang mulai dari koordinasi lintas instansi, penyusunan bahan ajar, pelatihan guru, pengimbasan di sekolah, hingga festival berjenjang dari tingkat sekolah sampai provinsi. “Tahun ini wajah pendidikan nasional kita semakin ramah terhadap keberagaman,” ujar Hafidz.

Turut hadir, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq, Wakil Ketua II Komite III DPD RI Jelita Donal, Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin, kepala daerah, kepala balai dan kantor bahasa, serta peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.

Tentang Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026
Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026 mengusung tema “Suara Tunas Bahasa Ibu dalam Pendidikan Multibahasa” dengan menghadirkan 137 peserta terbaik tingkat provinsi yang mewakili 105 bahasa dan dialek dari 36 provinsi di Indonesia. Mereka adalah siswa sekolah dasar dan menengah yang telah mengikuti program revitalisasi bahasa daerah di wilayah masing-masing. Festival ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan bahasa daerah melalui tembang, pidato, dongeng, hingga seni pertunjukan kreatif, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan lintas budaya bagi generasi muda Indonesia.

Salah satu peserta, Rahmi Oktavia, siswi kelas IX SMPN 1 Rambah Hilir, mengaku bangga dapat tampil membawakan Tembang Tradisi Onduo dalam festival tersebut. Baginya, Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional tidak hanya membuatnya berkesempatan tampil di hadapan para pejabat negara, melainkan sebagai langkah nyata generasi muda dalam menjaga warisan leluhur sekaligus belajar menghargai keberagaman. “Melalui Festival Tunas Bahasa Ibu ini, kami bisa melestarikan bahasa daerah masing-masing sekaligus belajar toleransi,” ujarnya.

Rahmi juga mengajak generasi muda untuk tidak malu menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, langkah sederhana seperti berbicara menggunakan bahasa ibu di rumah atau lingkungan sekitar menjadi cara penting untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah. “Dengan terus menuturkannya, kita ikut menjaga warisan budaya daerah agar tetap hidup,” pungkasnya.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Bahasa Daerah Harus Tetap Hidup, dari Ruang Kelas hingga Ruang Digital Read More »

Belajar Sambil Bermain, TBM Lasan Baca Tumbuhkan Semangat Literasi Anak di Malinau

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 412/sipers/A6/V/2026

Jakarta, 22 Mei 2025 – Di sebuah desa di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, suara anak-anak yang membaca dan bercerita kini mulai terdengar lebih ramai dari sebelumnya. Di tengah keterbatasan akses buku dan fasilitas belajar, sebuah ruang sederhana bernama Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lasan Baca perlahan menjadi tempat tumbuhnya harapan baru bagi anak-anak di desa.

Di tempat itu, belajar tidak selalu dilakukan dengan cara yang kaku. Anak-anak diajak bermain, mendengar cerita, tertawa bersama, lalu perlahan belajar mengenal huruf, membaca, dan memahami dunia di sekitar mereka. Bagi para relawan, yang terpenting bukan hanya membuat anak-anak bisa membaca, tetapi juga membantu mereka tumbuh dengan rasa percaya diri dan keyakinan bahwa mereka memiliki masa depan yang layak diperjuangkan.

Belajar Sambil Bermain, TBM Lasan Baca Tumbuhkan Semangat Literasi Anak di Malinau

Kisah tersebut dibagikan dalam gelar wicara bertajuk “Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi di Malinau, Kalimantan Utara”. Adalah Zsazsa Suharningtyas, pegiat literasi sekaligus guru di SMPN 3 Malinau Selatan Hilir, yang selama ini mendampingi anak-anak di wilayah terpencil tersebut.

Zsazsa bercerita, TBM Lasan Baca yang berdiri pada 2024 lahir dari kegelisahan sederhana. Ia dan rekan-rekannya masih menemukan anak-anak sekolah dasar, bahkan siswa SMP, yang belum mampu membaca dengan lancar. “Kami menemukan masih ada murid kelas tiga SD bahkan SMP yang belum bisa membaca. Itu yang menjadi motivasi kami bergerak,” ujarnya dalam acara yang berlangsung di Jakarta, Kamis (21/5).

Berangkat dari kondisi tersebut, mereka mencoba menghadirkan cara belajar yang lebih dekat dengan dunia anak-anak. Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya akses buku, TBM Lasan Baca tetap menjalankan berbagai kegiatan kreatif dengan pendekatan bermain dan bercerita. “Kami mengubah konsep belajar menjadi belajar sambil bermain dan bercerita agar anak-anak merasa senang,” kata Zsazsa.

Ia juga mengungkapkan bahwa bantuan buku bacaan bermutu dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) melalui Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sangat membantu proses pendampingan literasi di desa. Menurutnya, buku-buku tersebut terasa dekat dengan kehidupan anak-anak sehingga membuat mereka lebih antusias membaca. “Cerita-ceritanya dekat dengan kehidupan lokal dan sangat disukai anak-anak,” tuturnya.

Perlahan, perubahan mulai terlihat. Zsazsa mengungkapkan bahwa salah satu anak binaannya yang sebelumnya selalu berada di peringkat terbawah di kelas karena belum mampu membaca dengan baik. Kini, anak tersebut berhasil masuk dalam 10 besar terbaik di sekolah dengan kemampuan literasi dan numerasi yang meningkat pesat. “Puji Tuhan, sekarang anak tersebut bisa masuk dalam peringkat 10 besar terbaik,” katanya penuh haru.

Saat ini, TBM Lasan Baca memiliki 65 anak aktif dan didukung oleh 12 relawan yang bekerja secara sukarela. Meski berada di daerah dengan berbagai keterbatasan, semangat mereka tetap sama yakni melayani dengan hati dan menghadirkan perubahan meski sekecil apa pun bagi anak-anak di desa. “Prinsip kami adalah melayani dengan hati untuk mengubah keadaan di desa. Kami percaya, meski dari daerah terpencil, kami tetap bisa ikut berperan membangun Indonesia yang lebih baik,” ujar Zsazsa.

Gelar wicara ini turut menghadirkan Kepala Desa Kuala Lapang, Kecamatan Malinau Barat, serta Ketua Ikatan Keluarga Baca Malinau (IKBM). Peserta yang hadir berasal dari berbagai komunitas literasi, komunitas sastra, MGMP guru Bahasa Indonesia, mahasiswa, mitra pembangunan INOVASI, hingga perwakilan Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Program INOVASI sebagai bagian dari upaya memperkuat Gerakan Literasi Nasional dan mendukung visi Pendidikan Bermutu untuk Semua. Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, berharap kisah dari Malinau dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk membangun budaya literasi melalui kolaborasi dan kepedulian bersama.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.idX: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.idSiaran
Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Belajar Sambil Bermain, TBM Lasan Baca Tumbuhkan Semangat Literasi Anak di Malinau Read More »

Dari Perbatasan Malinau, Literasi Tumbuh Lewat Kolaborasi Partisipasi Semesta

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 411/sipers/A6/V/2026

Jakarta, 22 Mei 2026 – Dalam momentum Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Hari Buku Nasional 2026, dan Hari Kebangkitan Nasional terdapat cerita tentang semangat literasi yang terus tumbuh dari wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia. Di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, keterbatasan akses dan tantangan geografis tidak menghalangi masyarakat untuk membangun budaya literasi yang hidup melalui kolaborasi pemerintah daerah, sekolah, keluarga, komunitas, dan masyarakat.

Dari Perbatasan Malinau, Literasi Tumbuh Lewat Kolaborasi Partisipasi Semesta

Sebagai wilayah yang sebagian besar masih berupa hutan alam dan hanya dapat dijangkau melalui jalur sungai serta perjalanan darat yang panjang, Malinau menunjukkan bahwa penguatan literasi dapat tumbuh dari partisipasi semesta. Dalam semangat tersebut, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bekerja sama dengan Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) kemitraan pendidikan antara pemerintah Indonesia dan Australia, menyelenggarakan gelar wicara bertajuk “Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi di Malinau, Kalimantan Utara” untuk menyebarluaskan praktik baik literasi yang mendukung Gerakan Literasi Nasional dan visi Pendidikan Bermutu untuk Semua.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, dalam paparannya menegaskan bahwa literasi menjadi fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia dan pencapaian tujuan pendidikan nasional. “Literasi menjadi fondasi penting mendapatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan dan literasi tidak dapat dipisahkan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional,” ujarnya di Kantor Badan Bahasa, Jakarta pada Kamis (21/5).

Hafidz menegaskan bahwa visi Pendidikan Bermutu untuk Semua yang diusung Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, dilandasi semangat agar layanan pendidikan dapat dinikmati seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. “Pilar terpenting pendidikan adalah guru, sarana yang memadai, dan pembelajaran yang bermakna. Literasi menjadi alat utama untuk meningkatkan pemahaman siswa, tidak hanya sekadar membaca dan menulis, tetapi memahami apa yang dibacanya,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa praktik baik dari Malinau menunjukkan bahwa keterbatasan geografis tidak menjadi penghalang untuk membangun budaya literasi yang kuat. “Orang sering mengatakan daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar (3T) dan perbatasan memiliki keterbatasan. Namun Malinau menunjukkan bahwa dengan keterbatasan justru lahir inovasi dan kreativitas yang luar biasa,” ungkap Hafidz.Selain itu, Hafidz juga mengungkapkan bahwa Indeks Kegemaran Membaca Provinsi Kalimantan Utara berada di atas rata-rata nasional. “Indeks Kegemaran Membaca nasional tahun 2025 berada di angka 54,8. Namun Kalimantan Utara mencapai 58,89. Ini bukan hasil yang datang begitu saja. Ada cerita, kerja keras, dan gerakan bersama di baliknya khususnya di Kabupaten Malinau,” ujarnya.

Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Malinau, Maylenty Wempi, yang turut menjadi narasumber dalam gelar wicara tersebut, menegaskan bahwa gerakan literasi di wilayahnya dibangun melalui semangat gotong royong dengan pendekatan berbasis keluarga. “Gerakan literasi di Kabupaten Malinau adalah gerakan bersama. Bukan hanya tugas pemerintah, tetapi semua mengambil peran,” ujarnya.

Menurut Maylenty, keluarga menjadi titik awal yang strategis dalam menumbuhkan budaya baca di masyarakat. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk INOVASI, turut memperkuat kesadaran akan pentingnya literasi sejak dini. “Kami menyadari peran kami sangat strategis karena langsung menyentuh keluarga,” katanya. Ia menambahkan bahwa literasi berperan dalam meningkatkan kemampuan memahami kondisi, berpikir kritis, berkomunikasi efektif, serta membentuk karakter.

Ia juga mengakui tantangan geografis Malinau sebagai wilayah perbatasan dengan luas wilayah dan keberagaman budaya, termasuk 11 suku asli. Karena itu, pendekatan berbasis budaya dan bahasa lokal menjadi penting agar masyarakat lebih mudah terlibat.

Meski demikian, gerakan literasi terus berkembang melalui sinergi lintas sektor hingga tingkat desa dan RT. Partisipasi berbagai pihak mendorong peningkatan jumlah pegiat literasi dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) secara konsisten. Sejak 2020, jumlah TBM meningkat dari 5 menjadi 96 unit pada 2026, sementara jumlah pegiat literasi bertambah dari 11 menjadi sekitar 768 orang. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kolaborasi yang terbangun mampu memperkuat ekosistem literasi secara inklusif dan berkelanjutan.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.idX: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Dari Perbatasan Malinau, Literasi Tumbuh Lewat Kolaborasi Partisipasi Semesta Read More »

Kampung Literasi Pekijing Kota Serang Bangun Budaya Literasi dari Halaman Rumah

Siaran Pers_
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 388/sipers/A6/V/2026

Kota Serang, Banten, 12 Mei 2026* — Sebagai bagian dari upaya menghidupkan partisipasi semesta dalam penguatan literasi masyarakat berbasis komunitas dan keluarga, masyarakat Kota Serang menginisiasi Kampung Literasi Pekijing di Kota Serang, Banten.

Kampung Literasi Pekijing menjadi salah satu contoh tumbuhnya budaya literasi yang dibangun secara gotong royong oleh masyarakat. Di kampung tersebut dibangun rumah-rumah kotak kecil berisi buku bacaan yang berdiri di halaman rumah warga yang dapat diakses siapa saja tanpa batasan ketentuan yang mengikat. Kehadiran sudut-sudut baca sederhana itu menjadikan buku lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dalam kunjungannya, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Hafidz Muksin menegaskan bahwa peningkatan dan penguatan literasi tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi bersama masyarakat, komunitas, dan keluarga. Karena itu, keberadaan taman bacaan masyarakat dinilai memiliki peran penting sebagai mitra pemerintah dalam membangun budaya membaca di lingkungan masyarakat.

Kampung Literasi Pekijing Kota Serang Bangun Budaya Literasi dari Halaman Rumah

“Kami melihat Kampung Literasi Pekijing menunjukkan bagaimana masyarakat dapat membangun ekosistem literasi yang hidup dan menyenangkan. Anak-anak, orang tua, dan komunitas hadir bersama dalam berbagai aktivitas yang mendorong budaya membaca dan kreativitas di lingkungannya,” ujarnya yang pada kesempatan itu juga didampingi oleh Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten, Devyanti Asmalasari.

Menurut Hafidz, praktik baik yang dilakukan Kampung Literasi Pekijing dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menghadirkan ruang literasi yang dekat, terbuka, dan ramah bagi masyarakat. Pemerintah memberikan perhatian dan dukungan terhadap komunitas literasi seperti ini karena keberadaannya menjadi bagian penting dalam penguatan literasi masyarakat. “Kehadiran komunitas literasi berupa taman bacaan masyarakat dan perpustakaan desa di Pekijing dapat menjadi contoh sekaligus penggerak budaya baca di lingkungan sekitar,” katanya seraya menyampaikan komitmennya untuk terus melakukan pembinaan dan pendampingan agar pemanfaatan bahan bacaan semakin optimal serta mampu mendorong kreativitas masyarakat lintas generasi.

Di Kampung Literasi Pekijing, literasi tumbuh tidak hanya melalui kegiatan membaca buku, melainkan juga melalui interaksi sosial yang melibatkan seluruh kelompok usia. Anak-anak mengikuti kegiatan mendongeng, membaca bersama, bermain permainan tradisional, hingga berlatih seni dan musik. Sementara itu, para lansia turut dilibatkan dalam kegiatan melukis, mewarnai, dan membuat kerajinan tangan.

Salah satu pemandangan yang menarik di kampung tersebut adalah ketika anak-anak membacakan buku kepada para lansia yang mengalami kesulitan membaca. Aktivitas sederhana itu menghadirkan hubungan belajar yang hangat sekaligus memperkuat kebersamaan antargenerasi. Kegiatan bersama tersebut sekaligus sebagai bentuk implementasi dari tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, yakni bermasyarakat.

Pembina Kampung Literasi Pekijing, Edi Suryadi, menjelaskan bahwa penyediaan buku di rumah-rumah warga awalnya sempat diragukan apakah dapat berjalan dengan efektif dan diterima masyarakat. Namun, pendekatan yang sederhana justru membuat masyarakat merasa lebih dekat dengan buku. “Ketika buku-buku ditempatkan di depan rumah dan mudah diakses serta judulnya menarik maka masyarakat mulai berani memegang dan membaca buku. Dari situ kami menyadari bahwa masyarakat sebenarnya membutuhkan bahan bacaan yang dekat dengan kehidupan mereka,” ujarnya.

Berangkat dari pengalaman tersebut, warga kemudian secara mandiri mengembangkan penyediaan bahan bacaan dengan membangun rumah-rumah buku di pinggir jalan kampung agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pengunjung yang datang.

Selain menghadirkan ruang baca, masyarakat juga menyediakan berbagai permainan tradisional untuk mendorong anak-anak lebih kreatif dan aktif bersosialisasi dan tidak bergantung pada gawai. “Kami ingin anak-anak memiliki ruang untuk bermain bersama, membangun rasa percaya diri, dan mengembangkan kreativitasnya dengan bahagia,” tambah Edi.

Semangat literasi masyarakat juga dirasakan langsung oleh anak-anak di Kampung Literasi Pekijing. Anisa mengaku keberadaan kampung literasi membuat anak-anak semakin tertarik membaca sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga. “Kegiatan di kampung literasi membuat kami lebih senang membaca dan lebih dekat satu sama lain. Semoga buku-buku di sini semakin banyak dan anak-anak semakin semangat belajar,” ujarnya.

Sementara itu, pendongeng anak Jujun melihat antusiasme tinggi anak-anak dalam setiap kegiatan mendongeng yang diselenggarakan di kampung tersebut. “Saya berharap anak-anak semakin gemar membaca dan nantinya dapat menjadi penerus yang menjaga kampung literasi ini,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Badan Bahasa juga menyerahkan bantuan buku hasil sayembara dan koleksi buku dari Kantor Bahasa Provinsi Banten untuk mendukung penguatan literasi masyarakat di Kampung Literasi Pekijing.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat, Kampung Literasi Pekijing menunjukkan bahwa literasi dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana di lingkungan terdekat. Dari halaman rumah warga, budaya membaca perlahan berkembang menjadi investasi sosial untuk membangun generasi yang cerdas, kreatif, berkarakter, dan gemar belajar sepanjang hayat.

Biro Komunikasi dan Hubungan MasyarakatSekretariat
Jenderal Kementerian
Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/KemdikdasmenInstagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.idSiaran
Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Kampung Literasi Pekijing Kota Serang Bangun Budaya Literasi dari Halaman Rumah Read More »

Badan Bahasa Gandeng Kampus dan Pemda, Perkuat Literasi dan Bahasa di Aceh

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 323/sipers/A6/IV/2026

Banda Aceh, 28 April 2026 – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), terus memperkuat ekosistem kebahasaan, kesastraan, dan literasi di daerah melalui kolaborasi lintas sektor.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai pusat pengetahuan dan inovasi. Oleh karena itu, kolaborasi dengan kampus perlu terus diperluas agar program kebahasaan semakin berdampak luas. “Ini adalah bentuk partisipasi semesta dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua, di mana Kemendikdasmen terus meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi,” ujar Hafidz dalam rangkaian kegiatan strategis di Banda Aceh, Senin (20/4).

Badan Bahasa Gandeng Kampus dan Pemda, Perkuat Literasi dan Bahasa di Aceh

Ia menambahkan bahwa terdapat empat fokus utama yang perlu diperkuat bersama, yaitu peningkatan literasi, penguatan kedaulatan bahasa Indonesia, pelestarian bahasa daerah, serta internasionalisasi bahasa Indonesia. “Dalam konteks kedaulatan bahasa, kita masih melihat penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik dan tata naskah dinas yang belum baik dan benar. Ini menjadi perhatian bersama untuk terus diperbaiki,” kata Hafidz dalam kegiatan yang dihadiri oleh unsur pemerintah daerah, perguruan tinggi, instansi pendidikan, komunitas literasi, serta mitra strategis lainnya, termasuk Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh dan para kepala dinas pendidikan kabupaten/kota.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan bahasa daerah di kalangan generasi muda. “Pelestarian bahasa daerah perlu terus didorong melalui penguatan vitalitasnya kepada generasi muda agar tingkat kepunahan dapat ditekan,” tambahnya.

Tak hanya itu, Kemendikdasmen melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan Rektor IAIN Takengon, Rektor UIN Ar-Raniry, dan Rektor Universitas Syiah Kuala. Penandatanganan tersebut menjadi langkah konkret dalam memperkuat sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa serta sastra Indonesia dan daerah. Ruang lingkup kerja sama mencakup penguatan tridarma perguruan tinggi, riset kebahasaan dan kesastraan, peningkatan literasi masyarakat, pelatihan kebahasaan, revitalisasi bahasa daerah, pengembangan bahan ajar, serta pelibatan mahasiswa dan dosen dalam program strategis kebahasaan.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Muhammad Irsan, menyatakan komitmennya untuk melanjutkan capaian yang telah dibangun sekaligus memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan. “Kami akan terus berdiskusi dan berupaya meningkatkan kinerja Balai Bahasa Provinsi Aceh. Kami mohon dukungan dari seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.

Sinergi dan Kolaborasi Pemajuan Literasi Bersama Pemerintah Daerah

Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, mengajak sekaligus tantangan Kota Banda Aceh untuk dapat melaksanakan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) secara masif kepada seluruh murid di Banda Aceh. Menurutnya, gerakan bersama ini berpotensi mencatat sejarah rekor MURI melalui pelaksanaan UKBI serentak dengan jumlah peserta terbanyak di Indonesia. “Banda Aceh memiliki semangat pendidikan yang kuat. Jika dilaksanakan bersama-sama, saya optimistis Banda Aceh dapat menjadi pelopor dan bahkan memecahkan rekor MURI sebagai kota pelaksana UKBI serentak terbanyak di Indonesia,” ujar Kepala Badan Bahasa.

Senada dengan hal itu, Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal menyatakan dukungan penuh terhadap program-program Badan Bahasa. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Banda Aceh siap menindaklanjuti melalui Dinas Pendidikan serta Sekretaris Daerah untuk memperkuat pengawasan penggunaan bahasa Indonesia di wilayahnya. “Kota Banda Aceh adalah kota kolaborasi. Kami siap bersinergi dengan Badan Bahasa dan seluruh pihak untuk kemajuan Kota Banda Aceh, termasuk dalam penguatan bahasa Indonesia dan pelestarian bahasa daerah,” ujar Wali Kota Banda Aceh.

Badan Bahasa menegaskan bahwa penguatan bahasa, sastra, dan literasi memerlukan kerja bersama lintas sektor. Perguruan tinggi, sekolah, pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun ekosistem kebahasaan yang sehat dan berkelanjutan. Banda Aceh merupakan contoh bahwa sinergi kelembagaan dapat diwujudkan melalui kerja sama strategis, penguatan organisasi, serta perhatian terhadap budaya baca di sekolah.

Ke depan, Badan Bahasa berharap kolaborasi yang terbangun di Aceh dapat semakin memperkuat peran bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, menjaga kelestarian bahasa daerah, serta menumbuhkan generasi muda yang literat, berkarakter, dan bangga terhadap identitas bangsanya.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Badan Bahasa Gandeng Kampus dan Pemda, Perkuat Literasi dan Bahasa di Aceh Read More »