Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara

admin

Sepanjang 2025, KBBI Bertambah 3.259 Entri Baru

Siaran PersKementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 14/sipers/A6/I/2026

Sepanjang 2025, KBBI Bertambah 3.259 Entri Baru

Jakarta, 7 Januari 2026 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) telah memutakhirkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pada bulan Oktober 2025. Dalam pemutakhiran kali ini, KBBI menambahkan 3.259 entri baru sehingga jumlah keseluruhan entri mencapai 210.595. Daftar entri baru tersebut dapat diakses secara terbuka melalui https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/Beranda/Pemutakhiran.

Pemutakhiran KBBI dilakukan secara berkala setiap enam bulan sebagai upaya responsif terhadap perkembangan kosa kata dan istilah yang tubuh di tengah masyarakat. Dengan pembaruan dua kali setahun, KBBI diharapkan tetap menjadi rujukan kebahasaan yang relevan, akurat, dan mengikuti dinamika penggunaan bahasa Indonesia yang terus bergerak.

KBBI adalah Kamus Historis
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak hanya berfungsi sebagai kamus preskriptif yang memuat aturan kebahasaan semata. KBBI juga bersifat deskriptif, yakni mencatat kosakata sebagaimana digunakan oleh masyarakat, baik dalam bahasa formal maupun informal. Untuk melengkapi informasi tersebut, dalam entri KBBI terdapat label berupa singkatan yang menjelaskan ragam dan jenis kata tersebut. Misalnya, ragam cak yang berarti ’percakapan’ untuk menjelaskan bahwa kata tersebut hanya digunakan dalam ragam percakpan yang informal dan tidak digunakan sebagai kata baku. Label kas yang menunjukkan bahwa kata tersebut kata ’kasar’ yang hanya digunakan dalam umpatan atau makian. Selain itu, digunakan juga cara rujuk silang (cross reference) yang digunakan untuk merujuk pada bentuk yang baku. Pendekatan ini menegaskan bahwa KBBI tidak serta-merta membakukan semua kata yang dicatat, melainkan memberikan informasi kebahasaan secara utuh dan proporsional.

“KBBI adalah kamus besar yang ‘kebesarannya’ ditunjukkan oleh keluasan cakupan kosakata yang terhimpun dari aspek rentang waktu, bidang, dan ragam penggunaan,” ucapnya.

Dari Usulan Masyarakat hingga Masuk Kamus
Proses pemutakhiran KBBI dilakukan melalui mekanisme penyuntingan berjenjang dan terstandar. Usulan entri baru, baik dari tim internal maupun masyarakat, disunting oleh editor, ditelaah redaktur, dan disahkan oleh validator sebelum ditetapkan sebagai entri resmi. Penyuntingan berjenjang tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa entri yang masuk ke dalam KBBI sudah benar-benar melalui proses penyaringan dan penyuntingan yang terstandar. Rapat redaksi dilakukan secara berkala untuk membahas persoalan apa saja yang muncul dalam penyuntingan.

Partisipasi publik menjadi salah satu kekuatan utama dalam pengembangan KBBI. Hingga saat ini, KBBI Daring telah menerima 255.629 usulan dari masyarakat, degan 181.220 usulan atau sekitar 70,89 % di antaranya telah disunting. Setiap usulan yang diterima terlebih dahulu melalui proses penyuntingan oleh editor. Apabila masih diperlukan perbaikan, usulan dikembalikan kepada pengusul untuk disempurnakan. Usulan yang telah sesuai kemudian diteruskan kepada redaktur untuk dilakukan penelaahan. Setelah dinyatakan layak, usulan divalidasi dan ditetapkan sebagai bagian dari daftar entri yang akan dimutakhirkan pada periode berikutnya.

Usulan kata yang masuk mencerminkan kreativitas penutur bahasa Indonesia. Beberapa diantaranya merupakan variasi cakapan dari kata yang telah ada, yang dicatat dalam KBBI karena tingkat penggunaanya cukup luas.

Dalam praktik leksikografi modern, frekuensi kemunculan menjadi salah satu indikator, tetapi bukan satu-satunya penentu. Editor juga mempertimbangkan nilai rasa, potensi tafsir sosial-budaya, serta kesesuaian dengan kaidah bahasa Indonesia sebelum menetapkan informasi penggunaan dalam entri KBBI.

Secara umum, sebuah kata dapat masuk ke dalam KBBI apabila memenuhi kriteria utama, yakni keunikan, eufonik (enak didengar), sesuai dengan kaidah bahasa Indonesi, tidak berkonotasi negatif, seta digunakan secara luas dan berulang oleh masyarakat. Banyak diantaranya berasal dari bahasa daerah atau bahasa asing yang mengisi kekosongan makna dalam bahasa Indonesia. Proses ini mencerminkan partisipasi semesta dalam memperkaya khazanah kosakata bahasa Indonesia.

Sebagai karya rujukan, KBBI menggunakan berbagai konvensi penulisan unituk memudahkan pengguna, mulai dari penandaan lema, contoh penggunaan, pemenggalan kata, hingga label ragam dan bidang. Pemahaman terhadap konvensi tersebut akan meningkatkan keterampilan merujuk dan membantu pengguna memperolah informasi kebahasaan secara tepat dan komprehensif.

KBBI merupakan kamus utama bahasa Indonesia yang dikelola secara resmi dan terus diperbarui secara berkala. Dengan pendekatan preskriptif-deskriptif yang saling melengkapi, KBBI tidak hanya menetapkan standar bahasa, tetapi juga merekam bahasa Indonesia sebagai bahasa yang hidup, tumbuh, dan berkembang bersama penuturnya.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X:x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua

#KemendikdasmenRamah

Sepanjang 2025, KBBI Bertambah 3.259 Entri Baru Read More »

Sinergisitas Kemendikdasmen dan BP3OKP Dorong Percepatan Pelindungan Bahasa Daerah Papua

Sinergisitas Kemendikdasmen dan BP3OKP Dorong Percepatan Pelindungan Bahasa Daerah Papua Siaran PersKementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 915/sipers/A6/XII/2025

Sorong, 21 Desember 2025 – Tanah Papua merupakan wilayah dengan keberagaman bahasa daerah terbanyak di Indonesia. Dari sekitar 718 bahasa daerah, sebanyak 428 berada di Papua dengan tingkat vitalitas yang beragam. Sebagiannya bahkan telah teridentifikasi terancam punah. Kondisi ini menegaskan bahwa urgensi pelindungan bahasa daerah sebagai bagian dari penjagaan identitas, pengetahuan lokal, dan jati diri masyarakat Papua, bersifat mutlak dan mendesak.

Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) memperkuat kolaborasi dengan Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP) serta pemerintah daerah. Sinergisitas antara pusat dan daerah ini diarahkan untuk mempercepat pelindungan bahasa dan sastra daerah secara terencana dan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari penguatan koordinasi, Pra-Rapat Koordinasi Teknis diselenggarakan pada 18–20 Desember 2025 di Sorong dengan melibatkan Koordinator BP3OKP, Gubernur Papua Barat Daya, Wakil Bupati Sorong Selatan, jajaran pemerintah daerah di Provinsi Papua Barat Daya, tokoh adat dan keagamaan, akademisi, pendidik, serta pemangku kepentingan lainnya. Forum ini membahas penyelarasan dan pengintegrasian pelindungan bahasa daerah ke dalam perencanaan program pembangunan daerah.

Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menekankan bahwa pelindungan bahasa daerah di Papua harus dilakukan melalui kerja bersama lintas sektor. “Badan Bahasa tidak bisa bekerja sendiri. Pelindungan bahasa daerah hanya dapat berhasil melalui sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan di Papua,” tegasnya. Ia menambahkan, kerja sama dengan BP3OKP menjadi bagian dari strategi penguatan pelindungan bahasa, salah satunya melalui penyusunan regulasi, kebijakan dan program pelindungan bahasa dan sastra di Papua. Kegiatan yang dapat diprogramkan antara lain penyusunan kamus bahasa daerah, dan penyusunan buku cerita anak dwibahasa (bahasa daerah Papua–bahasa Indonesia) agar anak-anak dapat menguasai bahasa Indonesia tanpa kehilangan identitas kebahasaannya sejak dini.

Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, menegaskan bahwa pelindungan bahasa daerah merupakan kewajiban moral dan spiritual. “Bahasa daerah adalah bagian dari keberagaman budaya dan etnik Indonesia yang merupakan karunia Tuhan. Karena itu, bahasa daerah wajib dijaga dan dilestarikan. Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya menyambut baik kolaborasi ini dan siap bekerja sama melindungi bahasa daerah di seluruh Tanah Papua,” ujarnya.

Koordinator BP3OKP wilayah Papua, Albert Yoku, menegaskan posisi strategis Papua dalam pelindungan bahasa daerah secara nasional. “Dari sekitar 718 bahasa daerah di Indonesia, 428 berada di Tanah Papua. Ini adalah kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Undang-Undang Otonomi Khusus Papua telah memberikan landasan kuat bagi pelindungan hak atas bahasa dan budaya orang asli Papua, namun perlu ditindaklanjuti melalui regulasi operasional, dukungan kebijakan daerah, ketersediaan guru bahasa daerah, serta penganggaran yang memadai. “Tidak mengenal bahasa daerah ibarat kehilangan arah dan jati diri,” tambahnya.

Wakil Bupati Sorong Selatan, Petronela Krenak, mengingatkan bahwa bahasa merupakan identitas dan warisan yang harus dijaga di tengah pesatnya perkembangan teknologi. “Bahasa adalah identitas dan alat komunikasi yang tidak boleh terkikis oleh teknologi. Manusia bisa berakhir dengan hidupnya, tetapi bahasa tidak pernah berakhir. Karena itu, kita semua bertanggung jawab menjaga dan melindungi bahasa daerah,” ujarnya.

Dalam paparannya, Sekretaris Badan Bahasa, Ganjar Harimansyah menambahkan, kondisi kebahasaan di Papua berada pada situasi yang sangat genting. “Hampir seluruh bahasa dan dialek di Papua terancam punah. Keberadaannya seperti gunung es yang terlihat hanya sebagian kecil dari kondisi sebenarnya,” ujarnya. Ia mencontohkan bahasa Moi di Papua Barat Daya sebagai bahasa besar yang memerlukan perhatian serius serta menekankan pentingnya rasa kepemilikan masyarakat terhadap bahasa daerah. Ganjar juga mendorong pendekatan kreatif melalui pemanfaatan bahasa daerah di ruang publik, produk kreatif, serta pengembangan sistem informasi terintegrasi untuk memantau percepatan pelindungan bahasa di Papua.

Sementara itu, Kepala Pusat Pelindungan Bahasa dan Sastra, Dora Amalia, menjelaskan bahwa pelindungan bahasa dan sastra daerah diarahkan pada strategi berkelanjutan. “Dokumentasi bahasa tidak berhenti pada pengumpulan data. Bahasa harus kembali diajarkan kepada pemiliknya agar tetap hidup dan digunakan di komunitas,” jelasnya. Menurutnya, bahasa perlu dihidupkan melalui praktik sehari-hari, seperti lagu daerah, cerita rakyat, doa, serta penggunaan di ranah keluarga, komunitas, dan ritual keagamaan.

Forum ini juga menyerap praktik baik dari daerah. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Papua Barat Daya telah menerbitkan kamus bergambar bahasa Moi sebagai bahan ajar anak dan tengah mengembangkan kamus audio untuk mengakomodasi perbedaan dialek. Dari sektor pendidikan, disampaikan tantangan keterbatasan anggaran, sekaligus komitmen pemerintah daerah untuk menerapkan muatan lokal bahasa Moi pada tahun ajaran mendatang.

Ke depan, para pemangku kepentingan menekankan pentingnya penguatan kelembagaan pelindungan bahasa di Tanah Papua. Saat ini, satu balai bahasa melayani enam provinsi dengan cakupan wilayah dan kompleksitas yang sangat besar. Oleh karena itu, mengemuka harapan agar setiap provinsi di Tanah Papua memiliki balai bahasa sendiri guna memperkuat pendampingan komunitas, mempercepat dokumentasi dan revitalisasi bahasa daerah, serta memastikan kebijakan berjalan lebih kontekstual dan berkelanjutan.

Menutup kegiatan, Kepala Badan Bahasa dan Koordinator BP3OKP menandatangani perjanjian kerja sama sebagai bentuk komitmen bersama dalam mengawal pelindungan bahasa dan sastra daerah. Melalui kolaborasi pusat dan daerah yang solid, Papua diharapkan menjadi contoh nasional dalam pelindungan bahasa daerah bukan hanya mencegah kepunahan, tetapi juga menghidupkan kembali bahasa sebagai bagian utuh dari kehidupan masyarakat dan pembangunan daerah.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemdikdasmen.go.id/main/blog/category/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua

#KemendikdasmenRamah

Sinergisitas Kemendikdasmen dan BP3OKP Dorong Percepatan Pelindungan Bahasa Daerah Papua Read More »

Badan Bahasa dan Pemda NTB Perkuat Kolaborasi Empat Ranah Strategis Kebahasaan

Siaran PersKementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 902/sipers/A6/XII/2025

Mataram, 18 Desember 2025 — Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui penandatanganan Nota Kesepakatan dengan Gubernur, para Bupati, dan Wali Kota se-NTB yang dilaksanakan di Taman Ayu, Gerung, Lombok Barat (16/12). Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memajukan kebahasaan dan kesastraan di daerah. Harapannya, ekosistem kebahasaan yang inklusif, berdaya saing, dan berakar kuat pada kearifan lokal dapat terwujud.

Kolaborasi tersebut mencakup empat ranah strategis, yakni peningkatan literasi, pemartabatan bahasa Indonesia, pelindungan bahasa daerah, serta penginternasionalan bahasa Indonesia. Keempat ranah ini dirancang untuk saling menguatkan dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia berbasis bahasa dan budaya.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bentuk komitmen bersama antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga sekaligus mengembangkan bahasa sebagai identitas dan kekuatan bangsa. “Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga fondasi kebudayaan dan karakter bangsa. Melalui kolaborasi ini, kami berharap pemerintah daerah dapat menjadi mitra strategis dalam mengimplementasikan kebijakan kebahasaan secara berkelanjutan,” ujar Hafidz.

Dalam ranah peningkatan literasi, Badan Bahasa berperan menyediakan bahan bacaan bermutu yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan minat baca peserta didik di sekolah. Selain itu, Badan Bahasa melibatkan komunitas literasi dan akademisi dalam penyusunan bahan bacaan berbasis cerita rakyat bertema Sains, Teknologi, Teknik, Seni, dan Matematika (STEAM). Materi tersebut dirancang untuk menanamkan nilai-nilai karakter melalui tokoh-tokoh lokal dari berbagai daerah di NTB.

Adapun ranah pemartabatan bahasa Indonesia difokuskan pada pembinaan penggunaan bahasa di sektor lembaga pendidikan, lembaga pemerintah dan swasta. Badan Bahasa mendorong penerapan Trigatra Bangun Bahasa, yaitu pengutamaan bahasa Indonesia pada baris pertama, pelestarian bahasa daerah pada baris kedua, dan penggunaan bahasa asing pada baris ketiga dalam penulisan informasi publik di kawasan wisata. “Pariwisata adalah etalase bangsa. Bahasa Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri, sekaligus berjalan berdampingan dengan bahasa daerah dan bahasa asing,” kata Hafidz.

Sementara itu, ranah pelindungan bahasa daerah diwujudkan melalui pelaksanaan Program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD). Dalam hal ini, pemerintah daerah diharapkan berperan aktif melalui penyusunan peraturan daerah tentang pelindungan bahasa daerah, peningkatan kompetensi guru bahasa daerah, serta penyelenggaraan kegiatan tahunan seperti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) di tingkat kabupaten dan provinsi.

Pada ranah pembinaan dan pemartabatan bahasa Indonesia, Badan Bahasa juga mendorong pemerintah daerah untuk membentuk tim pengawasan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik dan tata naskah dinas. Pembentukan tim tersebut dilakukan melalui Surat Keputusan kepala daerah, sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 2 Tahun 2025 tentang Pedoman Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia.

Ranah terakhir, penginternasionalan bahasa Indonesia, diarahkan pada pengenalan bahasa Indonesia kepada wisatawan mancanegara, para mahasiswa asing di NTB, khususnya melalui ruang-ruang publik di kawasan wisata NTB. “NTB memiliki potensi besar sebagai daerah tujuan wisata internasional. Melalui bahasa Indonesia yang hadir di ruang publik, kita memperkenalkan identitas bangsa kepada dunia,” tutup Hafidz.

Acara ini dihadiri oleh 11 pemerintah daerah, yakni Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kota Mataram, Pemerintah Kota Bima, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Utara, Lombok Tengah, Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, dan Bima.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemdikdasmen.go.id/main/blog/category/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua

#KemendikdasmenRamah

Badan Bahasa dan Pemda NTB Perkuat Kolaborasi Empat Ranah Strategis Kebahasaan Read More »

Lewat Buku dan Dongeng, Kemendikdasmen Dampingi Pemulihan Trauma Anak-Anak Terdampak Banjir

Siaran PersKementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 898/sipers/A6/XII/2025

Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, 17 Desember 2025 – Di tengah bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, penguatan literasi menjadi salah satu upaya strategis untuk menjaga keberlanjutan proses belajar anak-anak terdampak. Melalui pendekatan literasi yang ramah anak, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melaksanakan pendampingan psikososial bagi anak-anak korban banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Kegiatan yang dilaksanakan secara serentak pada 13–16 Desember 2025 ini merupakan bentuk kehadiran negara dalam situasi darurat pendidikan. Melalui program “Literasi Ceria, Dongeng Gembira”, Badan Bahasa menghadirkan aktivitas membaca bersama, mendongeng, permainan edukatif, serta penyaluran 5.200 eksemplar buku bacaan bermutu kepada anak-anak di pengungsian dan sekolah terdampak.

Pendekatan literasi dipilih karena mampu menciptakan suasana yang aman, menenangkan, dan menyenangkan bagi anak-anak yang mengalami tekanan psikologis pascabencana. Aktivitas membaca dan mendengarkan cerita membantu anak menenangkan emosi, mengalihkan ingatan dari pengalaman traumatis, serta kembali pada rutinitas belajar yang memberi rasa stabil dan terarah. Dalam konteks ini, buku tidak hanya berfungsi sebagai bahan bacaan, melainkan juga sebagai media pendampingan yang menumbuhkan harapan dan imajinasi positif.

“Anak-anak yang terdampak banjir memerlukan pendampingan agar tetap memiliki motivasi belajar dan rasa aman secara psikologis. Melalui buku dan aktivitas literasi, kami berupaya membantu mereka kembali beradaptasi dan pulih,” ujar Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, beberapa waktu lalu.

Tim Badan Bahasa Serentak Turun di Tiga Provinsi Salurkan Media Belajar

Di Sumatra Utara, Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin, bersama Kepala Balai Bahasa Sumatra Utara, Kepala Balai Bahasa Lampung, serta Duta Bahasa dan Komunitas Literasi melaksanakan pendampingan di tempat pengungsian di MTsN 1 Langkat, dan MAN 1 Langkat. Sasarannya adalah anak-anak SD dan PAUD di sekitar wilayah terdampak banjir di Desa Pekubuan, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat. Kegiatan meliputi pembacaan buku, dongeng menggunakan media boneka, permainan literasi, serta penyerahan buku bacaan bermutu dan paket makanan ringan bagi anak-anak.

Sementara itu, di Sumatra Barat, Sekretaris Badan Bahasa, Ganjar Harimansyah, bersama Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat, Kepala Balai Bahasa Riau, dan Kepala Balai Bahasa Bengkulu, meninjau langsung pelaksanaan kegiatan di TK/TBM Delima dan SDN 17 Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Duta Bahasa Provinsi Sumatra Barat. Ganjar mengungkapkan bahwa kehadiran pihaknya tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga membawa semangat pemulihan dan penguatan literasi bagi anak-anak terdampak.

“Kami tidak datang sendiri melainkan bersama pegiat literasi dan Duta Bahasa, kami turut berliterasi dengan anak-anak yang terdampak. Melalui buku cerita yang kami bagikan, kami berharap kegemaran membaca, semangat mencari informasi, dan motivasi belajar anak-anak terus tumbuh dan tidak terputus,” ungkap Ganjar.

Sementara itu, di Aceh, Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Imam Budi Utomo, didampingi Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, menyambangi SDN 1 Meurah Dua dan SD Muhammadiyah Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Kegiatan ini didukung oleh Duta Bahasa Provinsi Aceh dan TBM Lhee Club.

Literasi sebagai Wujud Dukungan Psikososial Anak Atasi Trauma

Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan komunitas literasi, dan Duta Bahasa di masing-masing wilayah. Kolaborasi tersebut memperkuat peran literasi sebagai bagian dari dukungan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana, sekaligus menjaga keberlangsungan budaya membaca di tengah situasi krisis.

Dimas, murid SDN 17 Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, mengaku senang mendapatkan buku-buku bacaan yang menarik serta mengikuti kegiatan dongeng ceria. Ia berharap kondisi sekolahnya dapat segera pulih setelah mengalami kerusakan akibat banjir.

Melalui kegiatan ini, Badan Bahasa menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program literasi yang adaptif terhadap kondisi kebencanaan sebagai bagian dari upaya memastikan anak-anak tetap memperoleh hak atas pendidikan, pendampingan, serta penguatan karakter di tengah situasi darurat.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat, Robert Hendra Ginting, juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kemendikdasmen yang telah hadir dan memberikan penguatan serta pembagian buku bacaan yang menarik dan membahagiakan anak-anak di tempat pengungsian.

Kegiatan yang didukung oleh pegiat literasi dan duta bahasa, telah mengajak berliterasi bersama anak-anak yang terdampak, serta menitipkan ratusan buku untuk perpustakaan sekolah di wilayah terdampak banjir. Harapannya anak-anak pada masa pemulihan ini, dengan memberi peralatan sekolah dan buku cerita yang menarik akan menumbuhkan kegemaran membaca dan mendapatkan informasi serta semangat untuk belajar tidak putus.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemdikdasmen.go.id/main/blog/category/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua

#KemendikdasmenRamah

Lewat Buku dan Dongeng, Kemendikdasmen Dampingi Pemulihan Trauma Anak-Anak Terdampak Banjir Read More »

Gandeng Universitas, Badan Bahasa Perkuat Pengutamaan Pengunaan Bahasa Indonesia di Riau

Gandeng Universitas, Badan Bahasa Perkuat Pengutamaan Pengunaan Bahasa Indonesia di Riau

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 453/sipers/A6/VIII/2025

Pekanbaru, 17 Agustus 2025—Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Balai Bahasa Provinsi Riau menyelenggarakan Penandatanganan Nota Kesepakatan, Perjanjian Kerja Sama, dan Rencana Kerja Sama serta Sosialisasi Permendikdasmen Nomor 2 Tahun 2025 dan Praktik Baik Pengutamaan Bahasa Negara di Ruang Publik Kabupaten Siak di Universitas Negeri Riau.

Kegiatan ini dihadiri oleh pejabat dan perwakilan dari Pemerintah Kota Pekanbaru, Pemerintah Kabupaten Siak, Universitas Riau, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Universitas Islam Riau, Universitas Muhammadiyah Riau, Universitas Abdurrab, Universitas Lancang Kuning, Universitas Sains dan Teknologi Indonesia, Universitas Pahlawan, Politeknik Caltex Riau serta para peserta dari kalangan dosen maupun mahasiswa.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Umi Kulsum menyampaikan acara penandatanganan ini diharapkan menjadi langkah awal yang konkret dalam mewujudkan visi pendidikan bermutu bagi semua, serta melestarikan kekayaan bahasa dan sastra Indonesia. Dengan semangat “Bangga, Mahir, dan Maju dengan Bahasa Indonesia,” Balai Bahasa Provinsi Riau optimistis dapat menghadapi tantangan kebahasaan dan kesastraan di era globalisasi ini. “Kami berharap melalui kerja sama ini, program-program Balai Bahasa dan Badan Bahasa terkait pelestarian bahasa daerah, pengutamaan bahasa Indonesia, penginternasionalan Bahasa Indonesia, serta literasi kebahasaan dan kesastraan dapat berjalan lebih optimal,” ujar Umi Kulsum.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, memberikan apresiasi atas dukungan dan kontribusi dari berbagai pihak di Provinsi Riau. Ia menekankan pentingnya menjaga kedaulatan Bahasa Indonesia dan memperkenalkan Permendikdasmen Nomor 2 Tahun 2025 tentang Pedoman Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia. “Kami akan melakukan sosialisasi, pemantauan, pendampingan, dan evaluasi penggunaan Bahasa Indonesia di ruang publik, lembaga pemerintah, perguruan tinggi, dan satuan pendidikan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Hafidz Muksin menyampaikan kebanggaannya atas penetapan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di sidang umum UNESCO. “Ini adalah pengakuan internasional yang luar biasa bagi bahasa kita, kita patut berbangga dan terus berupaya memajukan Bahasa Indonesia di kancah dunia,” tambahnya.

Salah satu poin penting yang disoroti adalah mengenai Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Hafidz Muksin mengajak seluruh pihak untuk menjadikan UKBI sebagai alat ukur kemahiran berbahasa Indonesia. “Saya mengimbau para rektor, pimpinan perguruan tinggi, dan pimpinan daerah untuk menjadikan UKBI sebagai standar pengukuran kemahiran berbahasa Indonesia. Sertifikat UKBI juga menjadi syarat wajib bagi calon penerima beasiswa unggulan Kemendikdasmen,” jelasnya.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Gandeng Universitas, Badan Bahasa Perkuat Pengutamaan Pengunaan Bahasa Indonesia di Riau Read More »

Kemendikdasmen, Kemenko PMK, dan Komisi Nasional Disabilitas RI Bersinergi Perkuat Literasi

Kemendikdasmen, Kemenko PMK, dan Komisi Nasional Disabilitas RI Bersinergi Perkuat Literasi

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 434/sipers/A6/VIII/2025

Kemendikdasmen, Kemenko PMK, dan Komisi Nasional Disabilitas RI Bersinergi Perkuat Literasi

Jakarta, 13 Agustus 2025— Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), pada Selasa (12/8), melaksanakan pertemuan membahas penguatan literasi, serta peningkatan aksesibilitas bahasa bagi penyandang disabilitas, khususnya komunitas. Acara yang berlangsung di Aula Sasadu, Gedung M. Tabrani, Rawamangun, Jakarta Timur itu, melibatkan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) serta Komisi Nasional Disabilitas RI.

Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menyampaikan empat program prioritas Badan Bahasa, yaitu kedaulatan bahasa Indonesia, peningkatan literasi kebahasaan dan kesastraan, pelestarian bahasa daerah, dan penginternasionalan bahasa Indonesia. Keempat program prioritas yang menjadi amanah Badan Bahasa, dikatakan Hafidz merupakan langkah strategis yang selaras dengan kebijakan Kemendikdasmen dalam mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.

“Tentu, makna Pendidikan Bermutu untuk Semua merujuk pada semua anak-anak termasuk anak-anak yang memiliki kebutuhan dan perhatian khusus. Badan Bahasa memiliki program penyediaan buku-buku pendukung literasi, baik cetak, digital, atau buku cerita braille. Tahun ini kami sedang menyusun 100 judul buku audio dan video yang bisa diakses semua kalangan,” tutur Hafidz.

Lebih lanjut, Hafidz Muksin, juga membuka peluang kolaborasi dengan Kemenko PMK untuk menghadirkan buku cerita braille, audio, dan video yang ramah disabilitas. Harapannya, literasi dapat diakses semua kalangan, termasuk teman tuli dan tunanetra. Hafidz juga menekankan bahwa bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga alat perjuangan dan pemersatu bangsa.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menjelaskan, Kemenko PMK mengusung konsep ‘Semua Setara dalam Pembangunan’. Prinsip ini memastikan setiap lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, dapat menikmati hasil pembangunan dan memperoleh akses yang setara. Salah satu fokus utama adalah penguatan peran bahasa isyarat sebagai bagian dari bahasa Indonesia, melalui penyelarasan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dalam kegiatan nasional,” jelasnya.

Sesuai amanat Perpres Nomor 12 Tahun 2025, target capaian pada 2029 adalah 71%, dengan membuka peluang seluas-luasnya bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, agar dapat merasakan manfaat pembangunan. Untuk itu, terdapat dua kegiatan prioritas yang akan dikawal, yakni penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan terhadap hak penyandang disabilitas dan lanjut usia, serta penguatan prinsip dan pendekatan inklusi sosial bagi penyandang disabilitas dan lansia dalam proses pembangunan,” lanjutnya.

Woro juga menegaskan bahwa bahasa isyarat memiliki peran penting bagi komunitas tuli di Indonesia. “Kami ingin memastikan setiap orang, termasuk teman-teman disabilitas, dapat menikmati hasil pembangunan, mendapatkan layanan setara, dan memiliki akses penuh terhadap pendidikan dan literasi,” ujarnya. Menurutnya, perlu ada penyelarasan antara SIBI dan BISINDO, sekaligus mengembangkan kosakata bahasa isyarat sebagaimana kosakata bahasa Indonesia yang terus bertambah. “Harapan kami, bahasa isyarat diakui dan diaplikasikan sebagai bagian dari bahasa nasional,” tambahnya.

Komisioner Komisi Nasional Disabilitas, Rachmita M. Harahap, menekankan pentingnya standardisasi dan penyebaran buku pegangan BISINDO di sekolah luar biasa. Ia mengungkapkan bahwa saat ini masih banyak guru yang belum memahami BISINDO sehingga diperlukan percepatan penerbitan dan distribusi buku, baik dalam bentuk cetak, audio, maupun video. “Bahasa isyarat adalah hak berbahasa bagi teman-teman Tuli yang harus dihargai dan dilestarikan,” ujarnya.

Pertemuan diakhiri dengan komitmen ketiga belah pihak untuk menyelaraskan program literasi serta memperkuat penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa isyarat sebagai kekayaan bahasa nasional. Kesepakatan ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam mewujudkan pemerataan akses literasi di seluruh lapisan masyarakat. Kolaborasi lintas kementerian dan lembaga ini juga diharapkan dapat mendorong lahirnya kebijakan yang inklusif dan menguatkan persatuan bangsa melalui bahasa.

Badan Bahasa Konten Literasi Ramah Disabilitas Berbasis Animasi dan Audio

Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra, Iwa Lukmana, menambahkan bahwa Badan Bahasa juga telah memproduksi konten literasi ramah disabilitas berbasis animasi dan audio untuk mempermudah akses bagi komunitas Tuli. “Kami sudah membuat cerita rakyat dan cerita anak yang disertai suara dan animasi, sehingga lebih interaktif,” jelasnya. Produk-produk tersebut dapat diakses melalui situs resmi https://penerjemahan.kemendikdasmen.go.id/.

Sebagai tindak lanjut, Badan Bahasa akan mengadakan uji coba UKBI Adaptif untuk komunitas tuli sebagai bagian dari rangkaian Bulan Bahasa dan Sastra 2025, yang puncaknya akan berlangsung pada 28 Oktober 2025. Kegiatan ini akan diwarnai dengan pentas sastra, lomba mendongeng untuk tunanetra, serta berbagai program literasi inklusif lainnya.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemdikdasmen.go.id/main/blog/category/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Kemendikdasmen, Kemenko PMK, dan Komisi Nasional Disabilitas RI Bersinergi Perkuat Literasi Read More »

Leksikografi dan Kecerdasan Artifisial: Adaptasi Teknologi untuk Kedaulatan Bangsa

Leksikografi dan Kecerdasan Artifisial: Adaptasi Teknologi untuk Kedaulatan Bangsa

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 418/sipers/A6/VIII/2025

Jakarta, 7 Agustus 2025 – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi membuka Seminar Leksikografi Indonesia (SLI) ke-8 di Jakarta, Selasa (5/8). Tahun ini, seminar tahunan tersebut mengangkat tema “Leksikografi dan Kecerdasan Artifisial” sebagai respons atas dinamika baru dalam penyusunan kamus di era digital. Kegiatan yang diikuti oleh 120 peserta terpilih ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat fondasi perkamusan Indonesia yang adaptif terhadap teknologi.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Hafidz Muksin, yang menekankan bahwa peran kamus tidak bisa dipisahkan dari sejarah perjuangan dan masa depan bahasa Indonesia. Menurutnya, dengan meluasnya penggunaan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang tercatat lebih dari 305 juta pencarian daring, kini tugas menjaga kualitas dan keberlanjutan kamus menjadi makin krusial.

Walau pencarian di KBBI sudah sangat masif, namun masih ada masyarakat yang belum memahami arti istilah tertentu dengan benar walaupun sering digunakan. Upaya sosialisasi istilah-istilah baru perlu dilakukan melalui berbagai media yang mudah diakses dan dipahami.

Dalam konteks perkembangan teknologi mutakhir, Hafidz menyoroti pentingnya pemanfaatan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) secara etis dan adaptif dalam pengembangan kamus. Ia mengingatkan bahwa AI bukan hanya alat bantu, tetapi juga medium yang bisa menyebarkan kata-kata yang positif yang dibangun bersama. “Etika dalam berbahasa itu penting, kata dalam KBBI bersumber dari kita. Maka KBBI harus mampu menjadi rujukan utama bagi sistem AI. Jangan sampai kosakata yang tidak santun dan tidak sesuai nilai budaya Indonesia justru menjadi yang paling mudah ditemukan melalui AI,” ungkap Hafidz.

Ia pun mencontohkan potensi teknologi dalam menyajikan data lintas bahasa. “Bayangkan jika anak muda ingin mencari padanan kata ‘saya’ dalam sepuluh bahasa daerah, lalu AI secara langsung menampilkan kosakata tersebut lengkap dengan suara penutur asli. Ini adalah ruang kreativitas luar biasa yang harus kita pelajari dan manfaatkan,” ujar Hafidz antusias.

Meski demikian, ia juga mengingatkan adanya dilema linguistik di era digital. Kosakata baru yang muncul dari komunitas daring atau media sosial perlu disaring sebelum masuk ke ruang formal. “Validitas, kesantunan, dan keterwakilan budaya menjadi parameter penting agar KBBI tetap menjadi acuan utama dalam ruang publik yang sehat dan beradab,” tegasnya.

Selain memaparkan capaian dan tantangan yang dihadapi, Hafidz juga mengungkapkan rencana strategis jangka panjang. Badan Bahasa akan menjalin kerja sama internasional dengan universitas ternama seperti Leiden University, dan berbagai perguruan tinggi di Australia untuk memperkuat kapasitas S2 dan S3 dalam bidang linguistik, leksikografi, dan kajian kebahasaan lainnya. Ia juga akan membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam negeri melalui program magang selama satu semester di Badan Bahasa untuk mendalami praktik perkamusan dan peristilahan.

Kegiatan ini sekaligus menjadi refleksi menjelang peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Hafidz berharap para peserta dapat menyumbangkan pemikiran kritis dan strategis tentang bagaimana bahasa Indonesia mampu terus berkontribusi terhadap semangat kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. Ia juga memotivasi peserta untuk terus menjaga eksistensi dan perkembangan bahasa Indonesia, terutama dalam konteks pemanfaatan kecerdasan arifisial.

Dalam kesempatan yang sama, Dewi Puspita, Widyabasa Ahli Madya, mengungkapkan bahwa dalam seminar tahun ini antusiasme peserta sangat tinggi. Tercatat lebih dari 200 peserta mendaftar, dengan 60 makalah yang diterima dan 28 makalah terpilih untuk dipresentasikan. “Kami sangat mengapresiasi antusiasmen peserta yang mendaftar, namun kami belum bisa menyelenggarakan secara hibdira, guna menjaga kualitas diskusi, karena dunia perkamusan memerlukan keahlian dan konsentrasi khusus,” kata Dewi saat melaporkan acara tersebut.

Tema yang diangkat, “Leksikografi dan Kecerdasan Artifisial”, dielaborasi dalam lima subtema besar, mulai dari kebijakan leksikografi Indonesia, pengembangan sistem manajemen kamus, kamus multilingual, keterkaitan dengan data science, hingga isu-isu terminologi kontemporer. Di sela kegiatan juga akan dilaksanakan Sidang Perkamusi Indonesia, sebuah forum khusus yang mempertemukan para pakar dan praktisi leksikografi untuk membahas pengembangan kamus Indonesia.

Salah satu pembicara utama dalam seminar ini, Ian Kamajaya, menyampaikan materi bertajuk “Kecerdasan Artifisial dan Sistem Manajemen Kamus di Indonesia”. Ia menyoroti bagaimana AI dapat memainkan peran penting dalam memajukan sistem manajemen kamus, namun dengan syarat: adanya infrastruktur yang mendukung, penyediaan data latihan berkualitas, biaya yang memadai, dan tenaga ahli yang terampil. Menurutnya, optimisme terhadap teknologi perlu dibarengi dengan ekspektasi yang realistis dan pemahaman terhadap tantangan aktual yang dihadapi dalam implementasinya.

Seminar Leksikografi Indonesia 2025 ini menjadi bukti bahwa bahasa Indonesia terus bergerak maju. Tidak hanya sebagai alat komunikasi, melainkan juga sebagai medium ilmu pengetahuan, identitas dan penanda kemajuan bangsa. Selain itu juga mendorong terciptanya sebuah ekosistem kebahasaan yang memungkinkan terciptanya pertukaran informasi mutakhir seputar perkamusan.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemdikdasmen.go.id/main/blog/category/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Leksikografi dan Kecerdasan Artifisial: Adaptasi Teknologi untuk Kedaulatan Bangsa Read More »

Berbahasa Cerdas untuk Generasi Emas sebagai Dukungan Terhadap Pilar Kedaulatan Indonesia

Salah satu pilar kedaulatan Indonesia dikukuhkan melalui bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia mengawal perjalanan bangsa Indonesia menuju masa generasi emas. Kita akan mengisi kemerdekaan dengan capaian-capaian yang membanggakan, baik untuk kesejahteraan bangsa Indonesia maupun kekuatan yang tangguh dalam berdiplomasi di dunia internasional. Tentu hal tersebut tidak akan hadir dan terjadi jika tidak diikhtiarkan dan diperjuangkan. Kondisi akan terjadi sebaliknya jika bangsa ini tidak akan menyadari untuk bangkit dan menjawab tantangan tersebut. Salah satu ikhtiar sebagai penguatan dan pengukuhan kedaulatan itu diusahakan melalui pembangunan bahasa.

Oktober dimaknai sebagai bulan kesadaran dalam membangun tanah air, membangun bangsa, dan menguatkan bahasa persatuan. Kesadaran ini selalu diterjemahkan oleh Badan Pengebangan dan Pembinaan Bahasa melalui berbagai program untuk mengajak masyarakat terlibat dalam pengukuhan bahasa sebagai pilar kedaulatan bernegara. Pengukuhan ini diupayakan dalam berbagai aktivitas masyarakat, yang salah satunya diejawantahkan dalam perayaan Bulan Bahasa dan Sastra 2024.

Semarak Bulan Bahasa 2024 dipenuhi dengan gelaran kegiatan yang bernuansa kolaborasi dan koordinasi antarmitra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Pelibatan masyarakat dalam berbagai aktivitas dilakukan, di antaranya melalui Pemilihan Duta Bahasa, Lomba Mendongeng bagi Penyandang Disabilitas Netra, Lomba Cerdas Mengulas Buku, Penghargaan Sastra, Apresiasi Giat UKBI, Festival Musikalisasi Puisi, Lomba Monolog Pesan Pujangga, Penghargaan Wajah Bahasa, Festival Handai Indonesia, Menjalin Indonesia, Anugerah Tokoh Cermat Berbahasa Indonesia, Festival Film Pendek Berbahasa Daerah, Malam Puncak Bulan Bahasa 2024.

Pada rangkaian Bulan Bahasa 2024 secara internal dilakukan pula Rapat Koordinasi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang diikuti pimpinan unit kerja, Tim Tata Laksana dan Kepegawaian, Tim Perencanaan dan Pelaporan, serta Tim Porseni. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 26–29 Oktober 2024 di Hotel Sultan, Jakarta dengan topik “Mengukuhkan Program dan Organisasi untuk untuk Kedaulatan Bahasa”. Kehadiran narasumber Kepala Badan Bahasa, E. Aminudin Aziz, Deputi Bidang Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan, Bappenas RI, Amich Alhumami, Vivi Andriani, Kepala Biro Perencanaan Kemendikbudristek, Abdulah Faqih, Kepala Biro Ortala Kemendikbudristek, Perwakilan dari Direktorat Jenderal Anggaran Kemenkeu, Avviz Elfarij, menyuplai energi, keyakinan, dan komitmen bahwa dinamika perubahan organisasi tidak menyurutkan langkah Badan Bahasa untuk makin menggelorakan kedaulatan bahasa Indonesia dan kelestarian bahasa daerah. Kehadiran Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara yang diwakili oleh Kepala BBPSU, Kasubbag Umum, Tim Penyusun Program, Anggaran dan Pelaporan, Tim Hukum dan Tata Laksana, dan Tim Porseni membuktikan bahwa BBPSU siap menyongsong tahun 2025 dengan komitmen meningkatkan layanan kebahasaan melalui program-program kebahasaan yang berkualitas.

Pada 27 Oktober 2024 Badan Bahasa juga menggelar Pekan Olahraga dan Seni 2024 yang diikuti semua satuan kerja di lingkungan Badan Bahasa. Dalam rangkaian kegiatan tersebut Tim Porseni BBPSU juga memberikan kekuatannya dalam berbagai mata lomba, di antaranya gerak jalan, senam aerobik, futsal, catur, tenis meja, bulu tangkis, menulis puisi dan cerpen, dan berkaraoke. Dalam berbagai mata lomba tersebut Tim BBPSU menunjukkan taringnya,  terlihat dari berbagai kontribusi dalam pemenangan cabang gerak jalan santai, catur, dan drama. Semua pegawai BBPSU yang mendukung langsung kegiatan tersebut memberikan kontribusi positif dalam menyukseskan porseni perdana ini.

Tim BBPSU juga memberikan kekuatannya dalam mengikuti upacara hari Sumpah Pemuda di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, mendukung Pameran Kebahasaan dan Kesastraan 2024 dengan memamerkan produk BBPSU dan menjadi petugas dalam pameran itu. Berbagai buku cerita anak terjemahan dan berbagai kamus berbahasa daerah di wilayah Sumatera Utara turut menjadi materi pameran yang dibuka langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Pengguntingan pita dilakukan setelah Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2024. Hidayat sebagai petugas membantu memberikan penguatan kepada pengunjung, khususnya siswa-siswa SD, dalam menerima informasi tentang pengiriman buku bacaan bermutu ke seluruh Indonesia dan pemanfaatannya. Anak-anak SD sangat antusias menerima informasi tersebut yang diselingi dengan berbagai permainan dan penguatan konsep literasi. 

Pada Puncak Bulan Bahasa diumumkan produk dan capaian Badan Bahasa, pemenang berbagai lomba kebahasaan dan kesastraan, serta hadirnya Yura Yunita sebagai pemantik gema BBS 2024.

Ayo, gelorakan semangat “Berbahasa Cerdas bagi Generasi Emas”. (yt/hw)

Berbahasa Cerdas untuk Generasi Emas sebagai Dukungan Terhadap Pilar Kedaulatan Indonesia Read More »

A

“Selamat berjuang, Nak! Tidak perlu khawatir tentang hasil. Kami sudah menyaksikan proses kalian. Kini saatnya kalian menikmati perjalanan baru dan perbanyaklah teman!” demikianlah pesan sederhana yang mengantarkan kami, Agus dan Fatimah, menuju gerbang perjalanan yang baru, Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional Tahun 2024.

Pada tanggal 7 Juni 2024 gema riuh para pendukung setiap jagoan mengudara dalam dekap gemerlap rembang petang penganugerahan pemilihan Duta Bahasa Provinsi Sumatera Utara Tahun 2024. Pada malam itu segala tanggung jawab dan amanah dititipkan kepada kami sebagai pasangan atas nama Agus Salam dan Fatimah Raudatul Fadhilah yang kerap disapa Frasa, dua insan Terbaik I Duta Bahasa Provinsi Sumatera Utara. Kukuh harapan membentang di atas pundak yang mulanya sempat terlihat rapuh sebab menopang kuat setengah mati. Namun, seakan diberi pemantik cahaya api untuk tetap terus mengobarkan semangat oleh puluhan tangan yang merangkul dalam proses tumbuh ini. Kami begitu siap melangkahkan kaki. Setelah resmi dinobatkan, tentu sudah menjadi kewajiban bagi jiwa dan raga untuk mewakili Sumatra Utara melanjutkan estafet perjuangan di kancah nasional. 

Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional dilaksanakan untuk melahirkan generasi muda yang siap menerjemahkan dan menyelaraskan cita-cita pemuda Angkatan 1928 dalam tindakan nyata sesuai dengan dinamika perkembangan zaman. Duta Bahasa diharapkan mampu memantik peran dalam memantapkan fungsi bahasa Indonesia guna memperkuat jati diri dan daya saing bangsa. Pemilihan ini diadakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sejak tahun 2006 yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Penilaian Duta Bahasa Tingkat Nasional tidak hanya dinilai berdasarkan kemampuan berbahasa, tetapi juga meliputi berbagai aspek, yaitu Laporan Krida Kebahasaan dan Kesastraan, Teknik Wicara Publik, Kemampuan Berbahasa Asing, Kepribadian/Psikologi, Penampilan Seni dan Budaya, Penulisan Artikel Kebahasaan dan Kesastraan, serta Pembuatan Konten Kebahasaan dan Kesastraan.

Duta Bahasa diharapkan dapat menjadi teladan dalam berbahasa, memperkenalkan keindahan bahasa Indonesia, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian bahasa dan budaya. Melalui Duta Bahasa generasi muda diharapkan mampu mengeksplorasi makna bahasa dan nilai-nilainya serta menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Pada tahun ini Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional dilakukan di Kota Metropolitan, Jakarta. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Jakarta masih menjadi tempat untuk melaksanakan perhelatan kompetisi berskala nasional ini. Kompetisi Duta Bahasa Tingkat Nasional tidak hanya berfungsi sebagai ajang perlombaan, tetapi juga sebagai sarana untuk menyalakan lentera bahasa di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban.

Bagai memupuk benih dengan seutuh hati, segala hal menuju Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional Tahun 2024 telah dipersiapkan begitu matang, dari pelaksanaan krida kebahasaan dan kesastraan, persiapan substansi teknik wicara publik, pelatihan kemampuan berbahasa asing, pelatihan seni dan budaya, penulisan artikel kebahasaan dan kesastraan, pembuatan konten kebahasaan dan kesastraan, serta busana yang akan dikenakan. Seluruh rangkaian persiapan menuju Dubasnas telah dibantu oleh berbagai pihak, dari Bapak/Ibu Pegawai Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (BBPSU), Kakak/Abang Ikatan Duta Bahasa Sumatera Utara (Ikadubas Sumut), Rekan Duta Bahasa Sumatera Utara 2024 yang diberi nama Gigit Kuda, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara, serta Tim Penggerak PKK Provinsi Sumatera Utara yang kini terikat dalam balutan hangat kata “keluarga”.

Penutup bulan Agustus menjadi saksi kehangatan Dubas Sumut bersama BBPSU. Persiapan keberangkatan Dubasnas dipenuhi isak haru yang tak terbendung kala itu. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, berangkat membawa nama besar Dubas Sumut, BBPSU, dan Provinsi Sumatra Utara dalam dekap kami. Pesan-pesan sederhana yang dititipkan menjadi sokong kuat pijak kaki melewati perjalanan dan kekuatan besar kami untuk melangkah tanpa ragu.

Langkah tegap kami dimulai pada Minggu, 1 September 2024, satu hari sebelum Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional Tahun 2024 dimulai. Keberangkatan kami diantarkan dengan meriah oleh keluarga dan Dubas Sumut 2024. Meski terdapat sedikit pilu pada batas pelepasan, ada kekuatan dari setiap pasang sorot mata dan rangkulan hangat yang diberikan sebagai bekal semangat untuk berjuang. Air mata pun menetes lagi tanpa sengaja saat membaca satu per satu pesan pada ketinggian beribu-ribu kaki di atas permukaan laut yang penuh dengan ucapan semangat, harapan, dan doa baik dari bapak dan ibu pegawai BBPSU, pelatih persiapan Dubasnas, abang dan kakak Ikadubas Sumut, Gigit Kuda, serta teman dan sanak saudara. Jantung pun mulai berdegup kencang saat mendarat di Jakarta. Kami memutuskan untuk menginap satu malam di Hotel Menara Peninsula untuk beristirahat menenangkan pikiran dan beradaptasi dengan hiruk-pikuk keramaian ibu kota.

Tanpa terasa, hari itu pun tiba, di sinilah perjalanan dimulai. Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional  Tahun 2024 dibuka secara resmi pada 2 September 2024 oleh Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si. dan menyampaikan harapan kegiatan ini berjalan lancar sebagaimana mestinya dan melahirkan generasi muda yang siap berkontribusi untuk menjaga bahasa. Dengan disematkannya samir Duta Bahasa Nasional 2024 kepada Pak Lurah dan Bu Lurah Angkatan 2024 sebagai perwakilan, resmi pula seluruh perwakilan dari 31 provinsi menjadi bagian dari Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional Tahun 2024.

Keesokan harinya, kami mengikuti berbagai rangkaian penilaian, yaitu Teknik Wicara Publik, Kemampuan Berbahasa Asing, dan Evaluasi Konten. Pada Teknik Wicara Publik, kami mendapat tema “Cerdas Berbahasa pada Era Digital” dan diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan dari Dewan Juri, Gadis Bianca Anindhita. Setelah memaparkan gagasan dan opini kami pada Teknik Wicara Publik di balai riung, kami langsung diarahkan ke ruangan yang selanjutnya untuk melaksanakan uji Kemampuan Berbahasa Asing. Pada uji Kemampuan Berbahasa Asing, kami diberi kesempatan untuk menjawab seluruh pertanyaan dari dewan juri, yaitu Bapak Tio Noverandi Jonah, Bapak Erdipa Wirengjurit, dan Ibu Endang Nadiasari.

Setelah selesai menjawab pertanyaan dari dewan juri, kami diarahkan kembali untuk memasuki balai riung untuk mendengarkan Evaluasi Konten Kebahasaan di Media Sosial oleh Uda Ivan Lanin, Mas Tri Indira, dan Mas Riza Sukma. Menurut Mas Riza, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan konten, yaitu intonasi, artikulasi, tempo bicara, serta kaidah penulisan sulih teks. Selain itu, catatan penting yang harus diperhatikan adalah dalam pembuatan konten, pesan harus tersampaikan dengan utuh. Menurut Mas Tri Indira, kualitas visual audio, komposisi skrip dan visual, data fakta, resolusi, serta ajakan bertindak yang tidak menggurui, ringan, dan menghibur tak kalah penting dalam pembuatan konten. Uda Ivan menambahkan dalam pembuatan konten sangat dibutuhkan kreativitas yang menghibur untuk menyampaikan informasi  yang ingin disampaikan kepada penonton.

Setelah mendengarkan evaluasi konten dari ketiga dewan juri, kami melanjutkan kegiatan selanjutnya, yaitu persiapan koreografi penampilan malam puncak. Pada persiapan koreografi, kami dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu Canopus, Capella, dan Vega. Fatimah berada pada kelompok Canopus, sedangkan Agus berada pada kelompok Vega. Meski hari itu sungguh begitu padat dan hampir tak ada waktu untuk beristirahat, tetapi kami tetap menjalaninya dengan penuh semangat.

Pada hari ketiga Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional Tahun 2024 dilanjutkan penilaian Laporan Krida Kebahasaan dan Kesastraan serta Evaluasi Artikel Kebahasaan dan Kesastraan. Pada saat pemaparan krida kami mempresentasikan krida yang telah kami laksanakan, yaitu Petualangan Terjemah Kata (Peta) Edisi Bahasa Karo. Kami mendapat pertanyaan dari salah seorang dewan juri, yaitu Ibu Katarina. Setelah seluruh finalis memaparkan krida, ketiga dewan juri artikel, yaitu Bapak Hilmi Faiq, Bapak Setyo Untoro, dan Bapak Maryanto diundang untuk berdiskusi mengenai artikel yang telah dikumpulkan dan dinilai. Adapun beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan artikel sebagai berikut.

  1. Paragraf terlalu panjang, dalam satu paragraf tidak boleh lebih dari lima kalimat. Setiap paragraf harus memiliki ide.
  2. Judul dan lead adalah kunci utama untuk menarik pembaca. Usahakan jangan membuat pembaca bosan di awal.
  3. Lebih konsisten dalam penulisan.
  4. Jangan lupa membuat fakta atau fenomena yang terjadi saat ini dan ditambahkan dengan sudut pandang, pendapat, atau teori.
  5. Opini sering terasa klise.
  6. Ide sudah menarik dan harus bisa meyakinkan pembaca.
  7. Jangan menggunakan bahasa yang kaku, gunakanlah bahasa sendiri.
  8. Perhatikan kembali penulisan huruf miring dan huruf kapital.
  9. Aspek kalimat masih tidak efektif, penempatan subjek dan predikat masih keliru.
  10. Tidak perlu memaksakan untuk menghubungkan krida dalam pembuatan artikel.

Setelah selesai mendengarkan pemaparan dari ketiga dewan juri, kami melanjutkan latihan koreografi untuk persiapan malam puncak. Pada malam itu, kami juga saling berbagi bingkisan dari setiap provinsi sebagai tanda kasih yang akan kami ingat selamanya.

Tanpa terasa, sudah tiba hari terakhir penilaian. Tes Kepribadian/Psikologi dan Penampilan Seni dan Budaya adalah penilaian terakhir dari berbagai rangkaian penilaian selama karantina. Pada Penampilan Seni dan Budaya, penampilan dari seluruh finalis disaksikan melalui siaran langsung Youtube dan Instagram. Pada kesempatan tersebut, kami menampilkan sebuah tari kreasi “Mirat Berpantang” yang menceritakan tentang gadis Melayu dengan paras rupawan yang gemar menari. Kecantikan itu membawanya kepada “Mirat Berpantang”, yaitu cermin yang menyimpan mudarat. Ia kerap sekali menatap wajahnya dengan cermin di mana pun dan kapan pun. Hingga pada akhirnya, ia menemukan cermin di suatu tempat. Seperti biasa, sang gadis jelita menatapi wajahnya yang indah dan menari dengan anggun. Tanpa disadari, ia terhasut dan diperdaya oleh pantangan yang sejak lama terkurung dalam cermin. Sang gadis dikendalikan untuk melakukan ritual pembebasan ruh dalam cermin. Setelah pembebasan, ia kembali diperdaya dan jatuh cinta dengan ruh pantangan. Ia merasakan bahagia sampai akhirnya ruh mengikatnya untuk mengambil aura rupawannya. Penampilan tersebut ditonton langsung oleh Bapak Hidayat Widiyanto selaku Kepala BBPSU dan Kak Namira selaku Sekretaris Ikadubas Sumut. Bapak dan ibu pegawai BBPSU, abang dan kakak Ikadubas Sumut, serta Gigit Kuda turut meramaikan siaran langsung dan membagikan keseruannya dalam menyaksikan penampilan kami.

Tiba saatnya di pengujung acara, yaitu Malam Puncak Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional Tahun 2024. Pada malam itu, Kepala BBPSU serta Kakak dan Abang Ikadubas Sumut turut membersamai kami.  Suatu kehormatan bagi kami terpilih menjadi 10 Nomine Duta Bahasa Nasional Terfavorit dan diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan kami di atas panggung yang megah. Pada malam itu kami mendapat pertanyaan dari salah satu dewan juri kehormatan, Dr. H. Dede Yusuf Macan Effendi, S.T., M.I.Pol. Kami yakin dan percaya, kesempatan berharga yang kami dapatkan itu adalah hasil kerja keras bersama dan doa yang tiada henti diucapkan oleh bapak dan ibu pegawai BBPSU, abang dan kakak Ikadubas Sumut, Gigit Kuda, serta sahabat dan keluarga kami yang tak dapat disebutkan satu per satu.

Mewakili Sumatra Utara tentu saja menjadi sebuah kehormatan yang sangat membanggakan. Berdiri bersama 60 Finalis Duta Bahasa Nasional yang merupakan putra dan putri terbaik Duta Bahasa dari seluruh provinsi di Indonesia merupakan pengalaman yang membuat merinding setiap kali mengingatnya. Seluruh kerja keras ini telah dipersiapkan oleh mereka di balik layar yang selalu hangat menunggu kepulangan kami.

“Kali ini hanya sekeping perjuangan yang akan menjadi bagian sejarah hidup kalian. Perjuangan masih panjang dan ini adalah gerbang pintu masuk kalian untuk berkiprah kembali ke pangkuan BBPSU bersama kawan-kawan lain untuk berkarya,” demikianlah pesan yang disampaikan oleh Kepala BBPSU kepada kami. Perasaan yang tidak dapat dideskripsikan oleh kata-kata, bangga dan bersyukur untuk menjadi bagian dari keluarga ini. Terima kasih untuk tidak pernah meninggalkan, selalu mendampingi kami untuk proses bertumbuh bersama.

Menyatukan tali silaturahmi dengan 60 finalis lainnya sebagai tujuan utama sudah dilaksanakan. Bersama dengan mereka, kami menghabiskan detik-detik yang tersisa dengan mengunjungi wisata ibu kota sambil bertukar cerita untuk mempererat ikatan persahabatan dan mengukir kenangan abadi dalam sebuah potret. Adiwarna Bahasa Nusantara (Arwana) adalah nama angkatan yang kami buat untuk dapat terus mengenang perjalanan indah selama pemilihan. Perjalanan singkat penuh makna sudah selesai diakhiri dengan perpisahan. Sungguh pengalaman yang tak pernah terbayang oleh sukma bertemu dengan orang-orang yang memiliki cerita hebatnya masing-masing untuk bisa melangkah menjadi bagian dari Duta Bahasa Nasional. Di pengujung perpisahan, dalam hangatnya malam, kami merasakan kekuatan persatuan dan keberagaman yang telah mengikat kami dalam perjalanan ini. Ucapan selamat tinggal yang dipenuhi rasa syukur menjadi akhir sebuah perpisahan menyalakan sinar kehangatan untuk melanjutkan perjalanan kami kembali ke tempat asal masing-masing.

Sebuah kisah perjalanan yang dipenuhi kehangatan telah mengukir kenangan tak terlupakan selama menuju Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional Tahun 2024. Semoga cahaya ini terus bersinar terang benderang, membawa kami, Agus dan Fatimah menuju masa depan yang cerah dan penuh harapan untuk menjadi generasi yang rupawan karena bahasa. Salam Literasi!

A Read More »

LOBI DAN LOBI-LOBI*

Oleh: Hidayat Widiyanto

Puan dan Tuan yang budiman, topik politik menurut sebagian orang merupakan bahasan yang menarik. Penggunaan kata dalam ranah politik sering kita dapatkan melalui media massa elektronik maupun media massa cetak. Sering ditemukan kata lobi di media massa Indonesia.   Contoh, (1) Fraksi itu melakukan lobi agar calon yang diusung terpilih menjadi ketua. Sering terdengar juga kata lobi yang merujuk pada tempat, seperti contoh (2) Andre menunggu tamunya di lobi hotel. Ranah penggunaan lobi tersebut berbeda. Contoh pertama berhubungan dengan aktivitas politik dalam proses pengambilan keputusan, sedangkan contoh kedua berhubungan dengan tempat atau bagian dari lokasi bangunan. Untuk mengetahui lebih banyak tentang penggunaan kata/istilah lobi, silakan cermati secuil informasi berikut ini.

Jika ditilik maknanya,  kata lobi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tertulis lobi bukan lobby. Kata lobi dalam bahasa Indonesia diserap dari kata lobby dalam bahasa Inggris. Kata itu memiliki dua makna, yaitu (1) ‘ruang teras di dekat pintu masuk hotel, bioskop, dan sebagainya, yang dilengkapi dengan perangkat meja kursi, yang berfungsi sebagai ruang duduk atau ruang tunggu’; (2) ‘kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memengaruhi orang lain dalam kaitannya dengan pemungutan suara menjelang pemilihan ketua suatu organisasi, seperti parlemen dan partai politik’. Jadi, itulah dua pengertian atau makna kata lobidalam bahasa Indonesia.

Setelah mengenal kata lobisebagai sebuah kegiatan, tentu akan diturunkan menjadi kata turunan, melobi, pelobi, pelobian, dan lobian. Kata tersebut diturunakandari kata yang diambil dari makna atau pengertian yang kedua, yaitu ‘kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memengaruhi orang lain dalam kaitannya dengan pemungutan suara menjelang pemilihan ketua suatu organisasi, seperti parlemen dan partai politik’. Kata melobi bermakna ‘melakukan lobi’ atau ‘melakukan pendekatan secara tidak resmi’.  Kata pelobi bermakna ‘orang yang melakukan lobi’.  Kata pelobian memiliki dua makna. Pertama, pelobian bermakna ‘proses, cara, perbuatan menghubungi atau melakukan pendekatan (terhadap pejabat pemerintah atau pemimpin politik) untuk memengaruhi keputusan atau masalah yang  dapat menguntungkan sejumlah orang; usaha untuk mempengaruhi pihak lain dalam memutuskan suatu perkara atau soal, biasanya dengan berunding secara tidak resmi atau secara pribadi’. Kedua, pelobian dalam bidang politik bermakna ‘bentuk partisipasi politik yang mencakup usaha individu atau kelompok untuk menghubungi para pejabat pemerintah atau pemimpin politik dengan tujuan memengaruhi keputusan atau masalah yang dapat menguntungkan sejumlah orang’. Sedangkan, lobian bermakna ‘hasil dari proses melakukan lobi’. Tentu saja, kata yang bermakna pertama ‘ruang teras di dekat pintu masuk hotel, bioskop, dan sebagainya, yang dilengkapi dengan perangkat meja kursi, yang berfungsi sebagai ruang duduk atau ruang tunggu’ tidak memili turunan kata.

Dapat dipastikan bahwa kata lobidengan makna kedua itu muncul karena adanya lobi dengan makna pertama, yaitu lobi sebagai tempat; dengan kategori nomina. Kamus bahasa Inggris Merriam-Webster merekam kata lobby yang berarti ruang terbuka yang luas di dekat dan di luar pintu masuk sebuah bangunan untuk umum, seperti di hotel atau di bioskop itu pertama kali digunakan pada tahun 1593. Kata lobby dengan arti berusaha untuk memengaruhi pejabat pemerintah untuk membuat keputusan tentang sesuatu atau dengan arti berusaha mendapatkan apa yang diinginkan dengan berbicara kepada para pembuat keputusan ini pertama kali digunakan pada tahun 1837. Kata ini berkategori verba.

Penggunaan kata lobi dalam bahasa Indonesia mulai dikenal dalam bahasa Indonesia bersamaan dengan dikenalnya bangunan tertentu di Indonesia, seperti hotel atau bioskop dengan konsep modern. Itu untuk kata lobidalam makna pertama. Kata itu digunakan secara umum. Kata lobidengan makna kedua lebih banyak digunakan dalam ranah politik. Oleh karena itu, muncul istilah lobi politik seperti contoh sebelumnya.

Lantas, bagaimana cara menulis lobi. Kata lobi ditulis dengan l/o/b/i. bukan l/o/b/b/y. Selain itu, kata lobiyang berkategori nomina dituliskan berbeda dengan kata lobi berkategori verba ketika bertemu dengan imbuhan pasif di-. Di sini kita membedakan di sebagai  imbuhan atau sebagai kata depan. Di sebagai imbuhan berhubungan dengan imbuhan me-: melobi-dilobi. Di- yang sebagai imbuhan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Di- pada Agar pembahasan undang-undang itu berjalan dengan cepat, pemerintah telah dilobi oleh DPR ditulis serangkai dengan kata lobi. Di pada Mereka bertemu di lobi sebelum pergi untuk makan malam merupakan kata depan. Penulisannya dipisah atau diberi spasi dengan kata lobi yang mengikutinya. Kata depan di dapat diganti dengan dari dan ke: dari lobi dan ke lobi.

Selanjutnya, dikenal juga lobi-lobi yang bermakna lain. Jika sebelumnya dikenal lobi-lobi dalam ranah politik, berikut ini adalah lobi-lobi dalam ranah dunia ilmu Biologi. Lobi-lobi dalam khazanah ilmu Biologi bermakna ‘pohon yang tingginya 5—15 m, daunnya berbentuk bulat telur, daun mudanya berwarna merah muda, buahnya dapat dimakan; Flacourtia inermis’. Oleh karena itu, kata atau istilah  lobi-lobi juga memiliki dua makna yang berbeda. Yang pertama adalah kata reduplikasi dari kata lobi yang memiliki makna ‘melakukan lobi berkali-kali’ dan makna kedua adalah ‘nama pohon tertentu’. Jadi, jika Tuan atau Puan belajar bahasa Indonesia, selain keakuratan dalam pemaknaan diperlukan juga keakuratan penulisan ejaan. Keakuratan tersebut akan menunjukkan kompetensi Puan dan Tuan dalam berbahasa Indonesia.  Begitu juga, jika Puan dan Tuan sebagai tokoh politik, bisa jadi Tuan dan Puan akan dilobi di lobi hotel yang di tamannya ditanam lobi-lobi.

LOBI DAN LOBI-LOBI* Read More »