Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Nomor: 284/sipers/A6/IV/2026
Kab. Bangka Tengah, Provinsi Kep. Bangka Belitung, 16 April 2026 –– Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) melakukan pemberdayaan bagi seluruh ekosistem pendidikan. Khusus pada bidang kebahasaan dan kesastraan daerah, Badan Bahasa berupaya meningkatkan kolaborasi bersama pemerintah daerah dan perguruan tinggi.
Kerja sama ini ditandai dengan prosesi penandatanganan nota kesepakatan dan perjanjian kerja sama (PKS) antara Badan Bahasa dengan sejumlah mitra strategis. Adapun mitra strategis yang terlibat dalam kerja sama ini meliputi Pemerintah Kabupaten Bangka, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, serta IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik (SAS) Bangka Belitung
Penandatanganan PKS dengan Pemda dan Perguruan Tinggi di Bangka Belitung, Perkuat Martabat Bahasa Persatuan
Dalam lingkup kerja sama dengan pemerintah daerah, fokus diarahkan pada pengutamaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Hal ini mencakup agenda penyuluhan bahasa Indonesia, pelaksanaan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), serta pengutamaan bahasa Indonesia di ruang publik.
Langkah ini dibarengi dengan upaya pembinaan, pengembangan, serta pelindungan bahasa dan sastra daerah, juga dorongan bagi masing-masing spemerintah daerah untuk menyusun peraturan paerah (Perda). Regulasi ini nantinya akan menjadi payung hukum dalam mengatur Pengembangan, Pembinaan, dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Indonesia serta Daerah.
Di sisi lain, kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti IAIN SAS Bangka Belitung difokuskan pada pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. peningkatan kecakapan literasi, pemartabatan bahasa Indonesia, serta penginternasionalan bahasa Indonesia. Selain itu, pelestarian bahasa dan sastra daerah menjadi agenda yang tidak kalah penting guna menjaga kekayaan budaya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, berharap kolaborasi ini tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi mampu melindungi kelestarian bahasa dan sastra daerah. “Melalui penandatanganan kerja sama ini, harapannya sinergi dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi tidak hanya memartabatkan bahasa Indonesia, tetapi menjadi pelindung utama kelestarian bahasa dan sastra daerah di masa yang akan datang,” tandasnya
Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Bangka Barat, Markus; Rektor IAIN SAS Bangka Belitung, Irawan; Bunda Literasi Kabupaten Bangka Barat, para guru dan tenaga kependidikan, komunitas literasi, komunitas sastra, serta perwakilan pemerintah daerah yang siap mengawal implementasi kerja sama ini ke depan.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Medan, 14 April 2026—Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (BB Sumut) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas literasi masyarakat melalui penyelenggaraan kegiatan Pembekalan Fasilitator Literasi Baca Tulis pada 13—14 April 2026 di Aula Sanusi Pane. Kegiatan ini merupakan salah satu langkah strategis dalam mendukung peningkatan capaian asesmen literasi di satuan pendidikan, khususnya di wilayah Kota Medan dan Kabupaten Deliserdang yang masih menghadapi tantangan dalam aspek literasi baca tulis.
Pembekalan ini dirancang sebagai upaya penguatan kapasitas fasilitator literasi yang nantinya akan terjun langsung ke sekolah-sekolah untuk mendampingi proses peningkatan literasi. Dengan adanya kegiatan ini, fasilitator diharapkan tidak hanya memahami konsep literasi secara teoretis, tetapi juga mampu mengimplementasikan strategi pembelajaran yang efektif, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik di berbagai jenjang pendidikan.
Kegiatan diawali dengan sambutan oleh Ketua Tim Kerja Pembinaan, Yolferi, S.S., M.Hum., yang menegaskan bahwa pembekalan fasilitator literasi baca tulis merupakan program rutin tahunan yang diselenggarakan oleh BB Sumut. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki peran penting dalam menjawab permasalahan rendahnya capaian literasi di beberapa daerah. “Kegiatan ini merupakan bentuk upaya berkelanjutan yang dilakukan Balai Bahasa untuk meningkatkan kemampuan literasi di sekolah-sekolah, khususnya di Kota Medan dan Deliserdang yang nilai asesmen literasinya masih tergolong rendah,” ujarnya.
Selanjutnya, Kepala BB Sumut, Dr. Asrif, M.Hum., memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan secara resmi. Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak dalam meningkatkan literasi. Ia juga menyampaikan harapan besar agar kegiatan ini dapat memberikan dampak nyata di lapangan. “Kami berharap melalui kegiatan ini, kemampuan literasi di sekolah-sekolah Sumatera Utara, khususnya di Medan dan Deliserdang, dapat mengalami peningkatan yang signifikan. Terima kasih kepada para fasilitator yang telah berkomitmen untuk terlibat dalam upaya ini. Ayo bergerak bersama untuk menaikkan asesmen literasi Sumatera Utara,” ungkapnya dengan penuh semangat.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan rangkaian bimbingan teknis literasi baca tulis oleh Wartono, S.S. Dalam paparannya, ia menjelaskan secara rinci mengenai struktur program bimbingan teknis yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Ia menyebutkan bahwa terdapat tiga fokus utama dalam kegiatan ini, yakni mengulas buku untuk jenjang sekolah dasar (SD), membaca cepat untuk jenjang sekolah menengah pertama (SMP), dan membaca kritis untuk jenjang sekolah menengah atas (SMA).
Wartono menekankan bahwa pada jenjang SD, kemampuan mengulas buku menjadi fondasi penting dalam membangun literasi peserta didik. Ia menjelaskan bahwa dalam kegiatan mengulas buku, siswa perlu memahami terlebih dahulu unsur-unsur dasar buku, seperti judul, nama penulis, serta ilustrator. Pemahaman ini menjadi langkah awal untuk melatih siswa dalam menyampaikan kembali isi bacaan secara runtut dan sistematis, sekaligus menumbuhkan minat baca sejak dini.
Materi berikutnya disampaikan oleh Yolferi, S.S., M.Hum., yang membahas tentang membaca cepat. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa membaca cepat merupakan keterampilan membaca yang mengutamakan kecepatan tanpa mengabaikan pemahaman terhadap isi bacaan. Ia menambahkan bahwa kemampuan ini sangat penting untuk membantu siswa dalam menyerap informasi secara efisien, terutama di tengah arus informasi yang semakin cepat. “Inti dari membaca cepat adalah melatih koordinasi antara mata dan pikiran agar mampu menangkap informasi secara optimal dalam waktu yang singkat,” jelasnya.
Sementara itu, materi membaca kritis disampaikan oleh Hasan Al Banna dengan pendekatan yang interaktif dan menarik. Ia memanfaatkan teka-teki gambar sebagai media untuk melatih kemampuan analisis peserta. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa membaca kritis merupakan kemampuan membaca yang tidak hanya berhenti pada pemahaman teks, tetapi juga melibatkan proses berpikir mendalam, analitis, dan evaluatif. “Membaca kritis adalah kemampuan membaca yang mampu memberikan nilai tambah bagi pembaca karena di dalamnya terdapat proses menafsirkan, menilai, dan mengaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki,” ujarnya.
Suasana kegiatan berlangsung aktif dan partisipatif. Peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi materi, berdiskusi, serta berlatih menerapkan teknik-teknik literasi yang telah disampaikan. Interaksi yang terjalin antara narasumber dan peserta menjadi salah satu indikator keberhasilan kegiatan ini dalam membangun pemahaman yang mendalam mengenai literasi baca tulis.
Melalui kegiatan pembekalan fasilitator literasi baca tulis ini, BB Sumut berharap dapat menciptakan agen-agen perubahan yang mampu mendorong peningkatan kualitas literasi di lingkungan pendidikan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga menjadi wadah kolaborasi dalam merancang langkah-langkah konkret untuk meningkatkan capaian literasi di daerah.
Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Nomor: 242/sipers/A6/IV/2026
Jakarta, 2 April 2026 – Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan harus menjadi wahana sinergi dan jejaring kerja lintas kementerian dan lembaga. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, meyakini bahwa pendidikan adalah kerja bersama yang memerlukan partisipasi semesta dari pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, media, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi perempuan, dan komunitas.
“Kegiatan bulan pemberdayaan ini harus menjadi sarana membangun jejaring kerja yang lebih kuat antara Kemendikdasmen, Kemenko PMK, Kementerian PPPA, Perpustakaan Nasional, serta para mitra strategis lainnya,” ujar Menteri Mu`ti, Rabu (1/4). “Sinergi tersebut penting agar isu pendidikan, perlindungan perempuan, perlindungan anak, literasi, karakter, dan pembangunan manusia bergerak dalam satu arah kebijakan yang saling menyambung dan saling menguatkan,” imbuhnya.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno menyampaikan apresiasi atas langkah strategis Kemendikdasmen berkolaborasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam mendorong pemberdayaan perempuan melalui sektor pendidikan. Kolaborasi dan sinergi menjadi arah kebijakan Presiden kepada para Menteri dalam pelaksanaan tugasnya.
“Tidak ada kementerian maupun lembaga yang bisa suskes dan jalan sendiri. Semuanya harus berkolaborasi, bersinergi dan bekerja sama,” ujarnya Pratikno mengutip arahan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu.
Pratikno menyampaikan , “Pendidikan perempuan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada kualitas keluarga, ketahanan sosial, dan pembangunan ekonomi. Saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan. Ini adalah sinergi lintas kementerian/lembaga (K/L) yang luar biasa. Terima kasih atas kolaborasi bersama ini dan mari kita kerjakan ini secara serius,” pungkasnya.
Jejaring Lintas K/L Perkuat Implementasi Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan
Pada kesempatan yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak, Arifah menilai, pencanangan ini adalah titik kolaborasi dan gerakan bersama yang terukur dan terarah dalam mewujudkan kesetaraan gender yang inklusif dan berkeadilan. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pendidikan dan perlindungan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. “Lingkungan pendidikan yang berkualitas harus menjadi lingkungan yang aman bagi anak. Prinsipnya jelas tidak boleh ada satupun anak yang tertinggal dan tidak aman di lingkungan sekolah,” terangnya.
Keberhasilan pemberdayaan perempuan dan anak melalui pendidikan tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Melainkan perlu kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan. “Kami di Kemen-PPA berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi lintas sektor, mendorong implementasi pengarusutamaan gender hingga ke tingkat daerah serta memastikan pemberdayaan perempuan dan anak sebagai prioritas dalam pembangunan nasional,” katanya.
“Saya harap pencanangan ini menjadi awal dari gerakan besar yang bekelanjutan dan tidak berhenti di seremoni tapi diwujudkan dalam aksi nyata kebijakan yang berpihak pada masyarakat. Sebab, tidak ada pembangunan yang berkualitas tanpa kesetaraan gender,” tegas Menteri Arifah.
Pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan sebagai gerakan kolaboratif sepanjang April 2026 yang memadukan dialog kebijakan, kampanye edukatif, penguatan literasi, diseminasi praktik baik, aktivasi edukatif, bedah buku, serta kegiatan pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam laporannya, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Hafidz Muksin, mengungkapkan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana membangun jejaring kerja lintas kementerian dan lembaga. “Kemendikdasmen bersama kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah, satuan pendidikan, keluarga, masyarakat, media, perguruan tinggi, dunia usaha, serta organisasi perempuan didorong untuk bergerak dalam satu arah kebijakan yang saling terhubung dan saling menguatkan,” ucapnya.
Adapun rangkaian kegiatan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan akan diisi dengan berbagai program, antara lain lomba menulis cerpen “Bahasa Berdaya”, lomba video kreatif mendongeng bagi guru, penyusunan antologi cerpen berbahasa daerah, sayembara Cerita Anak Indonesia tentang Ibu Kartini, serta siniar Hari Kartini.
“Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan tumbuh ruang-ruang edukatif yang mendukung anak perempuan untuk belajar, berprestasi, dan memimpin, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor dan partisipasi publik dalam memaknai Hari Kartini secara substantif,” ujar Hafidz.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Nomor: 239/sipers/A6/IV/2026
Jakarta, 1 April 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencanangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan pada Rabu (1/4) di Kantor Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Jakarta. Kemendikdasmen menempatkan pencanangan ini sebagai respons atas berbagai tantangan yang masih dihadapi perempuan, seperti keterbatasan akses pendidikan, belum meratanya dukungan untuk bercita-cita tinggi, stereotip gender, hingga ancaman kekerasan di ruang fisik maupun digital.
Dalam konteks ini, pendidikan dipandang sebagai sarana utama pemberdayaan perempuan melalui penguatan karakter, literasi, dan kesetaraan gender agar perempuan dapat berpartisipasi secara penuh di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan bahasa.
Kemendikdasmen Canangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan melalui pendidikan merupakan bagian penting dari visi besar pendidikan nasional. Menurutnya, pemberdayaan perempuan melalui pendidikan sejalan dengan visi Pendidikan Bermutu untuk Semua.
“Komitmen ini harus sungguh-sungguh menjangkau anak perempuan di desa, di kota, di pesisir, di pegunungan, di wilayah terdepan, serta di keluarga yang menghadapi berbagai keterbatasan. Pendidikan tidak boleh diskriminatif, tidak boleh membatasi cita-cita anak perempuan, dan tidak boleh membiarkan stereotip ataupun rasa takut menghambat potensi mereka,” tutur Menteri Mu’ti.
“Kita ingin lahir perempuan Indonesia yang cerdas, sehat, tangguh, berkarakter, mandiri, rendah hati, dan mampu menjadi penggerak kemajuan bangsa. Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan perlu ditopang oleh literasi yang utuh—baca-tulis, digital, hukum, dan literasi kritis—agar perempuan mampu mengambil keputusan, melindungi diri, dan menentukan arah hidupnya,” lanjutnya.
Tentang Pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Kegiatan ini mengusung tema “Pemberdayaan Perempuan: Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin menjelaskan, tema tersebut dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa pendidikan merupakan jalan utama dalam membuka akses perempuan terhadap pengetahuan, membangun kepercayaan diri, mengembangkan keterampilan hidup, serta memperluas kepemimpinan dan ruang pengambilan keputusan. “Melalui pendidikan, kualitas sumber daya manusia diperkuat, partisipasi perempuan dalam pembangunan diperluas, serta keluarga dan masyarakat didorong menjadi lebih berpengetahuan, berdaya, dan berkeadaban,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hafidz menyampaikan bahwa bahasa dan sastra memiliki peran strategis sebagai medium pembentuk kesadaran, pengasah daya pikir kritis, serta ruang refleksi atas posisi dan kontribusi perempuan dalam kehidupan sosial, pendidikan, budaya, dan kebangsaan. Oleh karenanya, pemberdayaan perempuan, penguatan literasi, serta penguatan nilai kebersamaan merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul, inklusif, dan berdaya saing.
Adapun kegiatan ini yang bertepatan momentum Hari Kartini, dimaknai sebagai agenda pendidikan dan penguatan karakter bangsa yang berkelanjutan. Kemendikdasmen menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini perlu dihadirkan kembali melalui gerakan gemar belajar, penguatan literasi, kehidupan bermasyarakat, serta aksi nyata. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993—1995, Wardiman Djojonegoro menilai pendidikan adalah kunci utama pemberdayaan perempuan, perempuan sebagai subjek pembangunan, pelaku perubahan, dan kekuatan kemajuan bangsa.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Nomor: 221/sipers/A6/III/2026
Jakarta, 17 Maret 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan (Badan Bahasa) gencar mengedukasi masyarakat untuk makin menyadari pentingnya literasi sejak usia dini. Lewat kegiatan Mudik Asyik Baca Buku Tahun 2026, Badan Bahasa kembali menjadikan momentum mudik lebaran untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya budaya membaca buku bacaan berkualitas khususnya kepada anak-anak.
Puluhan Ribu Buku Bacaan Terbitan Kemendikdasmen dan Buku Bacaan Digital Disambut Antusias Pemudik
Selain menyediakan buku cetak, Badan Bahasa juga membuka akses bacaan digital bagi masyarakat. Ribuan buku dapat diakses secara gratis melalui kanal digital Kemendikdasmen. “Kami juga menyediakan kanal digital. Buku versi digitalnya dapat diakses di budi.kemendikdasmen.go.id. Di sana tersedia ribuan buku yang bisa diunduh dan dibaca secara gratis,” tambahnya.
Lokasi yang menjadi titik MABB tahun ini adalah Pelabuhan Tanjung Priok. Di sana, Badan Bahasa membagikan 1.700 eksemplar buku bacaan yang menjadi rebutan oleh sekitar 2 ribuan pemudik yang kebanyakan menggunakan moda transportasi bis. Salah satu penerima buku bacaan di Pelabuhan Tanjung Priok adalah Rohanatus Sholeha. Ia merasa senang mendapatkan buku bacaan bermutu untuk perjalanan mudiknya tahun ini. Ia mengapresiasi langkah tepat Kemendikdasmen untuk membagikan buku bacaan bermutu untuk menemani perjalanan dan menjadi media peningkatan literasi untuk anak-anak.
“Setelah saya lihat, buku ini banyak terdapat gambar-gambar dan cerita yang sangat menarik. Sangat tepat untuk menemani anak-anak saat melakukan perjalan mudik. Sesampainya saya di kampung nanti, saya akan memberikan buku ini kepada keluarga saya supaya mereka senang dan bersemangat untuk membaca buku,” ujar Rohana.
Penerima buku lainnya, yaitu Putra Mahardika, siswa SD Pantai 01, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mengucapkan terima kasih kepada Tim Badan Bahasa Kemendikdasmen atas empat buku bacaan yang diterimanya. “Di bis nanti saya akan membaca buku ini bersama adik dan orang tua saya. Saya melihat banyak gambar dan cerita menarik pada buku ini, semoga buku ini bisa bermanfaat dan membuat mudik ini semakin berkesan,” tutup Putra.
Sementara itu, di Terminal Kampung Rambutan, antusiasme juga terlihat dari para pemudik yang membawa anak-anak. Devi, pemudik yang akan pulang ke Palembang bersama anak balitanya, tampak mengunjungi gerai Mudik Asyik Baca Buku dan mengambil beberapa buku bergambar untuk anaknya. “Menurut saya kegiatan ini sangat membantu karena jika ada buku, selama perjalanan bisa diisi dengan kegiatan membaca. Lebih bermanfaat. Anak saya juga suka gambar-gambar hewan dan mewarnai,” ujarnya.
Sementara itu, di Terminal Kampung Rambutan, antusiasme juga terlihat dari para pemudik yang membawa anak-anak. Devi, pemudik yang akan pulang ke Palembang bersama anak balitanya, tampak mengunjungi gerai Mudik Asyik Baca Buku dan mengambil beberapa buku bergambar untuk anaknya. “Menurut saya kegiatan ini sangat membantu karena jika ada buku, selama perjalanan bisa diisi dengan kegiatan membaca. Lebih bermanfaat. Anak saya juga suka gambar-gambar hewan dan mewarnai,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Komariah, pemudik yang akan menuju Lampung bersama putranya yang berusia empat tahun. Ia menilai pembagian buku gratis ini memberikan kegiatan edukatif bagi anak-anak selama perjalanan. “Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk anak-anak dan orang tua yang mendampingi, karena selama perjalanan jadi ada kegiatan yang edukatif. Anak-anak suka buku yang ada gambar dan karakternya,” katanya.
MABB 2026 Diapresiasi dan Jadi Inspirasi untuk Hadirkan Pojok Baca di Terminal
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk pengelola Terminal Kampung Rambutan. Kepala Terminal Kampung Rambutan, Revi Zulkarnain, menilai program tersebut sangat membantu para pemudik yang membawa anak-anak. Menurutnya, keberadaan stan Mudik Asyik Baca Buku memberikan alternatif kegiatan yang bermanfaat bagi anak-anak selama menunggu keberangkatan atau saat perjalanan mudik. “Kami harapkan kegiatan ini terus berlanjut supaya masyarakat yang datang ke terminal merasa nyaman dan mendapatkan buku bacaan gratis yang nantinya berguna untuk anak-anaknya,” ungkap Revi.
Ia juga mengajak para pemudik untuk memanfaatkan fasilitas yang tersedia di stan tersebut. “Kami mengajak para pemudik untuk tidak ragu-ragu mendatangi stan Mudik Asyik Baca Buku ini, karena buku-buku berkualitas ini diberikan secara gratis,” tambahnya.
Hal senada juga diutarakan Kepala Terminal Kalideres, Nur Prasetyo yang menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut dan menilai bahwa kegiatan membaca dapat menjadi alternatif positif bagi anak-anak yang menunggu keberangkatan mudik. “Kami menyambut baik kegiatan ini karena dapat mengalihkan perhatian anak-anak dari penggunaan telepon genggam ke buku. Kebutuhan literasi membaca buku memang perlu terus didorong,” ujar Nur Prasetyo.
Ia menambahkan bahwa Terminal Kalideres juga berencana mengembangkan fasilitas literasi bagi penumpang. “Ke depan kami akan mengembangkan area bermain anak sekaligus pojok membaca di area terminal, termasuk di area food court. Harapannya, para orang tua yang membawa anak dapat memanfaatkan waktu menunggu bus dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti membaca,” tambahnya.
Ketua Komisi III DPD RI, Filep Wamafma menyampaikan apresiasi atas kegiatan MABB. “Ini merupakan program yang perlu kita dukung bersama-sama, dan tentu kami siap sekali untuk berkolaborasi dan mendukung semua program kementerian dalam rangka memastikan bahwa semua anak-anak kita sambil mudik bisa membaca buku. Mudah-mudahan dengan membaca buku, anak-anak kita bertambah wawasannya,” ucapnya mantap.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Nomor: 219/sipers/A6/III/2026
Kota Cilegon dan Kota Serang, Provinsi Banten, 17 Maret 2026 — Ada yang berbeda pada gelaran Mudik Asyik Baca Buku (MABB) Tahun 2026. Tahun ini, dalam rangka meningkatkan budaya baca masyarakat, khususnya anak-anak, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), memperluas jangkauan kegiatannya hingga ke Kota Cilegon dan Kota Serang, Provinsi Banten.
Kemendikdasmen Perluas Jangkauan MABB 2026 ke Cilegon dan Serang, Bagikan 4.300 Buku kepada Pemudik
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin mengatakan bahwa tujuan MABB adalah meningkatkan daya baca dan memberikan buku yang bermanfaat bagi anak sesuai dengan jenjangnya. Kemudian juga memperkenalkan buku bacaan yang cocok bagi anak dan menghadirkan aktivitas literasi yang menarik. Demikian disampaikannya pada kesempatan berbeda saat mendampingi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti meninjau MABB 2026 di Stasiun Senen, Jakarta, Senin (16/3).
Ketua Komisi X DPR RI, yang juga turut mendampingi Menteri Mu’ti di Stasiun Senen menyampaikan harapannya, “Mudah-mudahan dengan inisiatif ini yang dari tahun ke tahun selalu lebih banyak titiknya, lebih banyak jumlah bukunya, mungkin juga nanti teman-teman dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian bisa menyediakan tempat misalnya di rest area untuk menempatkan sejumlah buku sebagai perpustakaan mini bagi para penumpang. Bukan hanya saat mudik saja, tapi bisa setiap saat,” ujarnya.
Adapun di Provinsi Banten, kegiatan tersebut dilaksanakan di dua lokasi, yaitu Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, dan Terminal Pakupatan, Kota Serang. Di Pelabuhan Merak, sebanyak 2.300 buku bacaan dibagikan kepada para pemudik, khususnya keluarga dan anak-anak yang menunggu keberangkatan kapal menuju Pulau Sumatra. Sementara itu, di Terminal Pakupatan juga dibagikan 2 ribu buku bacaan kepada para pemudik yang menggunakan transportasi darat. Kegiatan ini berlangsung pada pukul 09.00 hingga 15.00 WIB.
Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Imam Budi Utomo, yang berada di Banten, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat literasi masyarakat sekaligus menumbuhkan budaya membaca sejak dini. Menurutnya, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga merupakan identitas bangsa yang harus terus dirawat dan dikembangkan.
Oleh karena itu, menurutnya, penyediaan akses bacaan yang berkualitas bagi masyarakat perlu terus diperluas, termasuk melalui kegiatan literasi di ruang-ruang publik seperti terminal dan pelabuhan. “Kita harus memastikan bahwa bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa pemersatu, bahasa daerah tetap lestari sebagai akar budaya, dan penguasaan bahasa asing menjadi jendela dunia bagi putra-putri kita,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cilegon, Heni Anita Susila, menyampaikan bahwa Kota Cilegon sebagai wilayah yang memiliki pelabuhan penyeberangan strategis menjadi titik penting mobilitas masyarakat, terutama pada masa arus mudik. Menurutnya, kegiatan literasi di area pelabuhan menjadi langkah positif untuk memberikan aktivitas yang bermanfaat bagi para pemudik, khususnya keluarga yang membawa anak-anak.
Ia juga menjelaskan bahwa area Mall Sosoro di Pelabuhan Merak sering menjadi titik berkumpul para pemudik sebelum memasuki kapal feri, sehingga kegiatan literasi seperti ini dapat dimanfaatkan untuk mengisi waktu tunggu dengan kegiatan yang edukatif. “Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat yang melakukan perjalanan mudik dapat memperoleh informasi yang bermanfaat serta menjalani perjalanan dengan aman, tertib, dan nyaman,” ujarnya.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Nomor: 220/sipers/A6/III/2026
Ciptakan Generasi Literat, Kemendikdasmen Sediakan Bacaan Bermutu hingga Dorong Minat Menulis
Jakarta, 17 Maret 2026 – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) menyoroti pentingnya kegiatan Mudik Asyik Baca Buku (MABB) Tahun 2026 sebagai wadah untuk memberikan alternatif pilihan aktivitas yang produktif bagi generasi muda selama mudik. Saat ini sering, waktu anak habis dengan gawainya karena minimnya pilihan aktivitas produktif yang dapat mereka lakukan untuk mengusir kebosanan.
Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) giat mengupayakan solusi guna meningkatkan kemampuan literasi anak, seperti memberikan buku bacaan berkualitas dengan memanfaatkan momentum mudik lebaran. Selain itu, Menteri Mu`ti juga menggarisbawahi pentingnya meningkatkan kemampuan anak dalam memahami konteks bacaannya sehingga mereka tidak sekadar membaca buku.
“Oleh karenanya, saat ini kami mendorong sekolah untuk menugaskan anak-anak tidak lagi sekadar mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS), tetapi membaca buku dan menulis resensi singkat. Inilah yang kami sebut literasi sejak dini, di mana mereka terbiasa menuliskan apa yang mereka lihat dan alami,” jelasnya dalam kunjungannya ke Stasiun Pasar Senen, Senin (16/3).
Sementara itu, dalam keseruan MABB lainnya di Stasiun Gambir, Sekretaris Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Ganjar Harimansyah, mengungkapkan bahwa minat baca anak-anak dan remaja di Indonesia sebenarnya cukup tinggi jika didukung dengan lingkungan yang kondusif. “Secara umum saya melihat, terutama anak-anak dan remaja minat bacanya tinggi, asalkan didorong dengan suasana yang mendukung. Mudik Asik Baca Buku ini salah satu cara menciptakan ruang yang memungkinkan mereka suka membaca,” ujarnya. Badan Bahasa juga terus mendorong peningkatan literasi melalui berbagai kegiatan, seperti penyediaan bahan bacaan literasi, seleksi naskah penulisan buku, bedah buku, diskusi literasi, serta berbagai lomba membaca dan menulis kreatif.
Pada kesempatan itu, Supervisor Komersial Stasiun Gambir, Beny Senjaya, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan literasi di ruang publik tersebut, terutama pada masa arus mudik yang menjadi momen penting bagi masyarakat. “Kami menyambut dengan sangat baik kegiatan yang diinisiasi oleh Kemendikdasmen. Di tengah kesibukan perjalanan para pemudik, kehadiran buku di ruang publik, seperti stasiun dapat menjadi sarana menumbuhkan minat baca, memperkaya pengetahuan, sekaligus memberikan pengalaman yang menyenangkan selama menunggu keberangkatan,” kata Beny.
Sebanyak 2.700 Buku di Stasiun Gambir, Isi Waktu Perjalanan Pemudik dengan Aktivitas Seru
Suasana menunggu keberangkatan kereta pada masa mudik sering diisi dengan bermain gawai atau hanya sekadar menunggu. Namun, pemandangan berbeda hadir di lebih banyaknya simpul transportasi tahun ini. Jika sebelumnya MABB ramai di enam titik, tahun ini buku bacaan dengan jumlah yang lebih besar kembali disediakan secara gratis di sembilan titik bagi para pemudik, terutama anak-anak, untuk menemani waktu tunggu dan perjalanan mereka.
Tidak hanya pembagian buku gratis, Mudik Asyik Baca Buku 2026 juga menghadirkan berbagai aktivitas literasi yang edukatif dan menyenangkan bagi para pemudik. Di sejumlah titik kegiatan disediakan pojok baca, kegiatan membaca nyaring, mengulas buku, mendongeng, permainan edukatif hingga mewarnai bagi anak-anak dari komunitas literasi.
“Di Stasiun Gambir sendiri tersedia sekitar 2.700 buku yang dapat dibaca di tempat atau dibawa pulang secara gratis. Bukunya bermacam-macam, dari buku cerita bergambar sampai komik. Semuanya merupakan produk,” jelas Ganjar.
Program tersebut secara khusus menyasar anak-anak yang ikut dalam perjalanan mudik bersama keluarga. Dengan menyediakan bacaan yang menarik sesuai dengan usia, waktu menunggu di stasiun diharapkan dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus edukatif.
“Mudik adalah momen yang penting bagi masyarakat Indonesia dan perjalanannya bisa memakan waktu lama. Biasanya banyak anak-anak yang ikut serta. Waktu menunggu dan perjalanan itu akan lebih bermanfaat jika diisi dengan membaca buku daripada hanya bermain gawai,” tutupnya.
Pengalaman Pemudik: Anak Tidak Lagi Jenuh Dalam Perjalanan di Kereta
Program ini juga dirasakan langsung manfaatnya oleh para pemudik yang membawa anak-anak salah satunya, Wina, orang tua dari Al-Hazimi, murid PAUD Marjani Parung Panjang yang akan mudik ke Cirebon, mengaku kegiatan tersebut membuat anak-anak lebih bersemangat selama menunggu keberangkatan kereta. “Sangat menarik, ya, jadi anak-anak yang menunggu keberangkatan kereta juga tidak jenuh. Mereka bisa sambil belajar, menambah wawasan, dan menambah keberanian anak juga saat diajak bermain kuis serta membaca,” ujar Wina.
Menurut Wina, buku-buku yang tersedia sangat membantu mengisi waktu menunggu dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. “Jadi, anak bisa dapat buku untuk dipakai menunggu, jadi tidak jenuh dan materinya sangat bermanfaat,” tambahnya.
Dukungan serupa juga disampaikan Yana, orang tua dari Finna, siswi kelas III SDIT Darul Abidin Depok. Ia menilai kegiatan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi anak-anak, tetapi juga mendorong kesadaran literasi bagi orang tua. “Saya sangat apresiasi dengan kegiatan ini karena akan meningkatkan literasi masyarakat. Jadi, bukan hanya anak-anak saja, namun membuka wawasan literasi bagi masyarakat. Orang tua juga diajak untuk paham bahwa literasi itu sangat dibutuhkan oleh semua lapisan masyarakat,” ucap Yana.
Menurut Yana, anaknya yang saat ini duduk di kelas III SD biasanya menghabiskan waktu perjalanan dengan bermain gawai atau membawa mainan. Namun, membawa mainan sering merepotkan saat perjalanan. “Kadang-kadang suka bermain gawai. Dia juga suka berpikir untuk membawa mainan agar tidak bermain gawai, tetapi ‘kan repot membawa mainannya. Selain itu, dia juga tertarik membaca. Alhamdulillah, diberikan buku bacaan secara gratis,” ujarnya.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Nomor: 217/sipers/A6/III/2026
Jakarta, 16 Maret 2026 – ” I like it! It’s great ,” ujar Veta singkat. Matanya itu tak lepas dari halaman buku cerita penuh warna yang baru saja ia terima. Meski baru saja membeli buku di toko buku bandara, Veta tampak langsung tenggelam dalam bacaan barunya, bahkan ia berniat kembali mengunjungi stan “Mudik Asyik Baca Buku (MABB) 2026” untuk memilih buku lain segera setelah menyelesaikan bacaan tersebut.
Pemandangan hangat di ruang tunggu keberangkatan 9 dan 10 pagi itu, Senin (16/3), memang terasa berbeda. Di antara tumpukan koper, tawa renyah anak-anak pecah serta celotehan mereka terdengar saat asyik memilih buku-buku. Itulah potret “Mudik Asyik Baca Buku 2026” yang diusung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa).
Melalui Mudik Asyik 2026, Kemendikdasmen ingin menitipkan pesan bahwa di dalam tas mudik setiap anak Indonesia, harus ada ruang untuk imajinasi, menjadi pemantik diskusi orang tua dan anak di sepanjang perjalanan. Harapannya, kegemaran membaca ini tidak berhenti di bandara, melainkan terus tumbuh dan mekar saat mereka tiba di kampung halaman nanti. Karena pada akhirnya, literasi terbaik dimulai dari kedekatan keluarga.
Oase bagi Keluarga Bagi para orang tua, inisiatif ini adalah jawaban atas kejenuhan masa tunggu. Florence, ibunda Veta yang hendak bertolak menuju Bali, menilai aktivitas ini sangat positif untuk menambah edukasi. “Menurut saya ini sangat baik. Kebetulan anak saya memang sangat gemar membaca,” ujar Florence. Ia sangat menganjurkan agar program ini menjadi agenda rutin tahunan karena manfaatnya yang besar bagi keluarga yang sedang melakukan perjalanan.
Senada dengan Florence, Kevin, seorang ayah yang juga tengah menunggu jadwal boarding , menyebut program ini sebagai alternatif aktivitas yang jauh lebih sehat bagi anak. “Baik sekali ya. Jadi mendorong anak-anak jadi mau baca. Selain mungkin hari ini kan banyak yang main gadget , jadi ada aktivitas lain buat anak-anak,” ungkapnya. Kevin menilai pilihan buku yang disediakan sangat variatif, “Ada yang cocok untuk anak saya yang masih balita (2 tahun), ada juga yang buat anak usia lebih besar. Saya sangat support kegiatan ini!”
Melawan Arus Dominasi Gawai, Kemendikdasmen Siapkan 2.600 Buku di Bandara Halim Tahun ini, Badan Bahasa mengubah strategi. Strategi literasi “jemput bola” dilakukan lebih intim. Jika tahun lalu kegiatan berpusat di area luar keberangkatan, kini Badan Bahasa masuk ke ruang tunggu keberangkatan di dalam bandara. Langkah ini diambil agar interaksi dengan para penumpang, terutama anak-anak yang sedang menunggu waktu keberangkatan, menjadi lebih berkualitas.
MABB 2026 Langitkan Imajinasi Anak lewat 2.600 Buku di Bandara Halim Perdanakusuma
Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra, Iwa Lukmana, mengungkapkan bahwa perpindahan lokasi ini adalah langkah terukur berdasarkan hasil evaluasi tahun lalu. “Tahun lalu kami berada di luar ruangan, dan itu kurang menguntungkan. Sekarang kami masuk ke ruang tunggu karena sasaran utama kami adalah mereka yang akan berangkat. Di sini, pemudik punya waktu luang sebelum terbang, sehingga animonya jauh lebih tinggi,” jelas Iwa.
Iwa menambahkan, khusus di Bandara Halim, pihaknya menyiapkan sekitar 2.600 eksemplar buku dari total 24.000 buku yang disebar di tujuh titik mudik utama Jakarta. Menariknya, setiap pemudik diperbolehkan membawa pulang hingga lima buku secara cuma-cuma.
Kolaborasi Lintas Lembaga Kesuksesan program ini bukan kerja tunggal. Badan Bahasa menggandeng berbagai pihak, mulai dari Perpustakaan Nasional, Pusat Perbukuan, hingga berbagai penerbit. Iwa menjelaskan bahwa buku-buku yang dibagikan telah dikurasi dengan saksama. “Jika buku dari Badan Bahasa, fokusnya adalah buku cerita. Harapan utama kami adalah membangun minat baca anak-anak Indonesia yang dimulai dari ketertarikan mereka pada gambar-gambar di buku,” tambahnya.
General Manager Operations Bandara Halim Perdanakusuma, Kolonel Ali Sudibyo, memandang kegiatan ini sebagai oase di tengah kepungan teknologi digital. “Zaman sekarang anak-anak sedikit-sedikit pakai gagdet . Makan pakai gagdet , semua pakai gagdet . Dengan adanya pembagian buku gratis ini, kita membiasakan mereka kembali membaca dan mencari literasi,” ujar Ali mantap. Ia memimpikan generasi penerus yang tidak hanya pandai bicara, tetapi bicara dengan isi. “Harapannya, mereka adalah generasi yang pintar, cerdas, dan berbicara berdasarkan literasi yang ada, tidak hanya asal bicara saja.”
Meskipun volume penerbangan di Halim mengalami penyesuaian, Ali menegaskan bahwa nilai manfaat program ini tidak berkurang. “Ini bentuk kepedulian kita terhadap anak-anak, terhadap masa depan bangsa. Jadi harus dilanjutkan,” tegas Ali yang juga membuka pintu kolaborasi lebih dalam dengan Angkasa Pura di masa mendatang.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan MenengahNomor: 218/sipers/A6/III/2026
Mudik Asyik Baca Buku 2026, 2.700 Buku Dibagikan Gratis di Terminal Pulo Gebang
Jakarta, 16 Maret 2026 – Dalam rangka meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya anak-anak, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), menyelenggarakan kegiatan Mudik Asyik Baca Buku 2026 dengan membagikan buku bacaan secara gratis kepada para pemudik di berbagai titik keberangkatan. Salah satu kegiatan tersebut berlangsung di Terminal Bus Terpadu Pulo Gebang, Jakarta Timur, Senin (16/3).
Pada tahun ini, Kemendikdasmen menyalurkan total 24.000 buku bacaan bermutu yang dibagikan di sembilan lokasi strategis arus mudik, yaitu Stasiun Pasar Senen, Stasiun Gambir, Terminal Kalideres, Terminal Terpadu Pulo Gebang, Terminal Kampung Rambutan, Terminal Pakupatan, Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Merak, serta Bandara Halim Perdanakusuma. Di Terminal Pulo Gebang, sebanyak 2.700 buku dibagikan kepada para pemudik selama dua hari pelaksanaan, 16–17 Maret 2026.
Kegiatan Mudik Asyik Baca Buku merupakan salah satu upaya kami untuk meningkatkan literasi masyarakat. Buku-buku yang dibagikan telah melalui proses penilaian sehingga sesuai dengan karakter dan kemampuan anak-anak serta bebas dari konten yang tidak layak,” ujar Dora.
Ia menambahkan bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan penggunaan gawai oleh anak-anak, kegiatan ini menjadi momentum untuk kembali mengenalkan budaya membaca buku sejak dini.
“Kita melihat anak-anak kini semakin akrab dengan telepon pintar. Karena itu, kegiatan ini menjadi kesempatan yang baik untuk memperkenalkan kembali budaya membaca buku. Kami berharap buku-buku ini dapat menjadi teman perjalanan bagi anak-anak selama mudik dan terus dibaca bersama keluarga,” tambahnya.
Dora juga menjelaskan bahwa jumlah buku yang dibagikan pada tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada 2025 sebanyak 20.000 buku disalurkan, maka pada tahun ini jumlahnya meningkat menjadi 24.000 buku. Program ini turut didukung oleh berbagai mitra, antara lain Perpustakaan Nasional, Let’s Read, The Asia Foundation, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Gramedia, serta sejumlah penerbit dan perusahaan percetakan.
Kepala Unit Pengelola Terminal Terpadu Pulo Gebang, Cristianto, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, literasi melalui kegiatan membaca dan menulis merupakan kebutuhan dasar yang perlu terus ditumbuhkan sejak dini.
“Upaya meningkatkan minat baca menjadi sangat penting, terlebih di tengah perkembangan teknologi yang membuat anak-anak semakin sering menggunakan gawai. Program seperti ini sangat positif karena dapat menarik kembali minat membaca, terutama bagi anak-anak,” ujarnya.
Cristianto berharap buku-buku yang dibagikan kepada para pemudik dapat dimanfaatkan tidak hanya selama perjalanan, tetapi juga dibaca kembali di kampung halaman bersama keluarga dan teman-teman.Salah satu pemudik tujuan Palembang, Ali Muddin, mengaku terbantu dengan adanya kegiatan ini. Ia yang mudik bersama dua anaknya menilai buku-buku tersebut dapat menjadi alternatif kegiatan bagi anak selama perjalanan.
“Program ini sangat membantu kami yang membawa anak-anak saat mudik. Daripada mereka terus bermain ponsel, buku ini bisa menjadi hiburan sekaligus menambah pengetahuan selama perjalanan,” ungkapnya.
Selain pembagian buku gratis, kegiatan di Terminal Terpadu Pulo Gebang juga diramaikan dengan kegiatan mendongeng dan mewarnai yang ditujukan bagi anak-anak usia PAUD yang belum dapat membaca. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak diajak menikmati cerita dan aktivitas kreatif yang menyenangkan.
Melalui program ”Mudik Asyik Baca Buku 2026”, Kemendikdasmen berharap dapat menumbuhkan kembali budaya membaca di tengah masyarakat serta menjadikan momen perjalanan mudik sebagai kesempatan untuk mempererat kebersamaan keluarga melalui kegiatan membaca bersama.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Nomor: 209/sipers/A6/III/2026
Kemendikdasmen Kuatkan Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia serta Pelindungan Bahasa dan Sastra di Lampung
Bandar Lampung, 13 Maret 2026 — Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), bersama Pemerintah Provinsi Lampung melaksanakan Sosialisasi dan Pengukuhan Tim Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia serta Pelindungan Bahasa dan Sastra Daerah di Balai Keratun Kantor Gubernur Lampung, Selasa (10/3).
Sosialisasi dan pengukuhan ini merupakan langkah nyata dan komitmen kedua belah pihak dalam pengembangan, pembinaan, dan pelindungan kebahasaan dan kesastraan, serta penguatan pengawasan penggunaan bahasa Indonesia di Provinsi Lampung. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan sikap positif masyarakat agar memiliki kebanggaan dan kemahiran terhadap kaidah berbahasa Indonesia.
Sejak peluncurannya, Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 2 Tahun 2025 tentang Pedoman Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia mendapatkan sikap dan respons positif dari pemerintah daerah, salah satunya dari Provinsi Lampung. Mereka telah menunjukkan komitmen nyata melalui penetapan Surat Keputusan Gubernur Lampung Nomor:G/6/V.01/HK/2026 tentang Pembentukan Tim Pelaksana Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia serta Pelindungan Bahasa dan Sastra Daerah.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz menyampaikan bahwa bahasa Indonesia telah menjadi bahasa pemersatu bangsa dan telah terbukti mengantarkan kedaulatan bangsa Indonesia melalui tonggak Sumpah Pemuda di tahun 1928.
“Kita tahu bersama bahwa sejarah perjuangan bangsa telah diawali oleh kedaulatan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia telah membentuk persatuan dan kesatuaan bangsa melalui Sumpah Pemuda di tahun 1928 dalam butirnya Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” ujarnya
Hafidz berharap momentum pengukuhan ini menjadi tonggak untuk terus menjaga semangat kedaulatan bahasa Indonesia. DIharapkan pembentukan dan pengukuhan Tim Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia dapat mendorong komitmen pemerintah daerah dalam pengutamaan bahasa Indonesia di ranah publik dan dalam tata naskah dinas. Hafidz menambahkan bahwa pelindungan bahasa dan sastra daerah perlu terus dilakukan oleh pemerintah daerah, Masyarakat, dan keluarga. Bahasa daerah sebagai warisan budaya yang memiliki nilai-nilai moral, karakter, dan peradaban harus diwariskan kepada generasi muda, agar bahasa daerah tidak punah di masa depan.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Provinsi Lampung, yang diwakili Sulfakar, Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah, menyampaikan, “Perkembangan globalisasi, kemajuan teknologi informasi, serta arus budaya yang semakin terbuka membawa tantangan besar bagi keberlangsungan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Penggunaan bahasa asing yang semakin dominan di ruang publik, dunia usaha, dan lingkungan pendidikan dapat menggeser fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara apabila tidak dikelola dengan baik.”
Sulfakar juga menegaskan bahwa penguatan penggunaan bahasa Indonesia serta pelindungan bahasa dan sastra daerah harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, serta masyarakat. Bentuk pengawasan penggunaan bahasa Indonesia meliputi empat tahapan yaitu sosialisasi, pemantauan, pendampingan, dan evaluasi. Pada kesempatan tersebut, para anggota tim pengawasan mendapatkan sosialisasi kebijakan pengawasaan penggunaan bahasa Indonesia di ruang lanskap dan tata naskah dinas.
Maryanto, selaku Widyabasa Ahli Madya menyampaikan bahwa peran tim pengawasan sangat penting untuk dapat menguasai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta untuk dapat meningkatkan sikap positif masyarakat agar memiliki kebanggaan dan kesadaran terhadap kaidah berbahasa Indonesia.
Sosialisasi dan pengukuhan ini dihadiri oleh Wakil Rektor 4 Universitas Lampung, Kepala Balai Bahasa Provinsi Lampung, Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Lampung, Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Lampung, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, Kepala Biro Hukum Sekretariat Daerah Provinsi Lampung, pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung, dan duta bahasa provinsi Lampung serta media.
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah