Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara

Tak Berkategori

Kelas BIPA Perkuat Peran Strategis Indonesia dalam Diplomasi Bahasa di Norwegia

Kelas BIPA Perkuat Peran Strategis Indonesia dalam Diplomasi Bahasa di Norwegia

Nomor: 315/sipers/A6/VI/2025

Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Oslo, 30 Juni 2025 – Penutupan program BIPA Musim Semi Tahun 2025 di Oslo menandai bukan akhir dari pembelajaran BIPA. Namun demikian, keberlanjutan perjalanan bahasa Indonesia menuju panggung global harus didukung penuh oleh pemerintah, para pengajar, dan mitra internasional. Bahasa adalah jembatan diplomasi dan persahabatan antarbangsa.

Internasionalisasi bahasa Indonesia merupakan salah satu program prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang sejalan dengan amanah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Pasal 44 undang-undang tersebut menegaskan bahwa pemerintah berkewajiban meningkatkan fungsi bahasa Indonesia secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. Demikian disampaikan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Hafidz Muksin.

Hafidz juga menambahkan bahwa kedudukan bahasa Indonesia saat ini semakin kuat secara global. “Penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dalam Sidang Umum UNESCO adalah momentum strategis dan merupakan pengakuan internasional atas peran bahasa Indonesia di dunia. Ini menjadi modal penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan budaya,” tambahnya ketika menutup Program Pembelajaran Kelas Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Musim Semi 2025 di Oslo secara daring, Sabtu (28/6).

Tak hanya itu, ia juga menyampaikan bahwa saat ini pengajaran BIPA telah tersebar di 57 negara, dengan ratusan lembaga mitra dan ribuan pemelajar aktif setiap tahunnya. Badan Bahasa terus berupaya memberikan fasilitasi dan layanan terbaik, termasuk melalui pengiriman pengajar BIPA secara langsung maupun daring untuk memastikan pemelajar BIPA di luar negeri mendapatkan kemudahan akses dan pengalaman belajar yang optimal.

“Capaian ini menjadi motivasi dan semangat bagi kami untuk terus melangkah mewujudkan cita-cita luhur menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Kami siap berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” tutur Hafidz.

Pertemuan ini turut sihadiri oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Norwegia, Teuku Faizasyah; Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra, Iwa Lukmana; Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Oslo, Shohib Masykur; serta para pengajar BIPA dan pemelajar BIPA.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang memberikan dukungan nyata terhadap pelaksanaan program BIPA di Oslo. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Duta Besar Teuku Faizasyah, Koordinator Fungsi Pensosbud Shohib Masykur, serta para pengajar BIPA yang telah memberikan dedikasi dan kontribusi luar biasa dalam penyelenggaraan pembelajaran bahasa Indonesia di Norwegia,” ujar Hafidz.

Lebih lanjut, Duta Besar RI untuk Norwegia, Teuku Faizasyah mengungkapkan bahwa kelas BIPA bukan hanya kelas rutin yang bertujuan untuk mengajarkan bahasa Indonesia, namun merupakan salah satu aspek penting dalam rangka diplomasi budaya Indonesia di Norwegia. “Di tengah dunia yang penuh konflik, betapa pentingnya menjalin pengertian dan membangun jembatan antar peradaban. Bahasa merupakan salah satu alat terbaik untuk itu,” ungkap Teuku.

Teuku juga menuturkan bahwa bahasa Indonesia telah diakui sebagai bahasa resmi dalam Sidang Umum UNESCO. Hal tersebut menunjukkan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunitas internasional. Harapannya agar pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan ketertarikan pemelajar untuk mengetahui lebih banyak tentang Indonesia dan mendorong minat mereka untuk berkunjung ke Indonesia. “Mari kita terus jaga dan sebarluaskan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang menghubungkan bukan memisahkan dan sebagai bahasa yang membawa pesan perdamaian bukan permusuhan,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu pengajar BIPA, Sherly Lusiana Boru Simorangkir menyampaikan kesannya jika program ini sangat diminati dan menjadi ruang penting bagi warga Norwegia untuk mengenal bahasa dan budaya Indonesia. “Program ini sangat ditunggu oleh para pemelajar. Terima kasih atas dukungan Badan Bahasa yang memungkinkan program ini terlaksana dengan baik,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan oleh salah satu pemelajar BIPA, Jurre van Dijk mengucapkan terima kasihnya kepada para pengajar yang telah memberikan pembelajaran BIPA dengan sangat baik. Ia mengungkapkan kadang mendapatkan sedikit kesulitan karena kelas BIPA dilaksanakan setelah jam kerja, namun baginya hal tersebut merupakan sebuah tantangan.

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemdikdasmen.go.id/main/blog/category/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua

#KemendikdasmenRamah

Kelas BIPA Perkuat Peran Strategis Indonesia dalam Diplomasi Bahasa di Norwegia Read More »

INDUSTRI KREATIF: SARANA PERWUJUDAN INTERNASIONALISASI BAHASA INDONESIA

Oleh: Agus Salam dan Fatimah Raudatul Fadhilah

“Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Butir ketiga Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928, lahir dari proses panjang para pahlawan dalam memperjuangkan bahasa negara. Semangat yang tak pernah luntur kala itu membuat kita sebagai generasi muda harus dapat mengapresiasinya dengan banyak cara, salah satunya dengan bangga menggunakan bahasa Indonesia, terlebih pada era global saat ini.

Peran bahasa sebagai alat komunikasi dalam era global ini menjadi semakin penting. Di antara sekian banyak bahasa di dunia, bahasa Indonesia dengan penuturnya yang lebih dari 270 juta orang memiliki potensi besar untuk tampil di panggung internasional. Harapan ini terwujud pada 20 November 2023 lalu dengan ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi sidang umum UNESCO. Lalu, bagaimana cara kita memasyarakatkan bahasa Indonesia di kancah dunia? 

Beberapa negara di seluruh dunia menunjukkan minat mereka terhadap Indonesia dengan mempelajari budaya dan bahasa Indonesia untuk alasan pendidikan, ekonomi, wisata, dan politik (Ida Widia, 2020). Beberapa alasan orang asing ingin belajar bahasa Indonesia, yaitu lokasi geografis yang strategis, destinasi wisata menarik, kekayaan alam yang melimpah, keanekaragaman budaya dan bahasa, serta perusahaan asing yang menetap dan berinvestasi di Indonesia. Pada era digital saat ini, terdapat banyak kemudahan yang membantu kita untuk mendapatkan atau menyebarkan informasi dengan cepat sehingga proses untuk memperkenalkan budaya jauh lebih mudah. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui industri kreatif.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara maju dan berkembang semakin tertarik pada industri kreatif. Industri kreatif adalah industri yang didasarkan pada keterampilan individu, yang dapat berasal dari bakat atau pelatihan jangka panjang (Poerwanto, 2020). Industri ini menghasilkan pemanfaatan kreativitas, keterampilan, dan bakat individu untuk menciptakan lapangan kerja dan kesejahteraan melalui pemanfaatan sumber daya kreatif. Industri kreatif merupakan bagian integral dari ekonomi kreatif.

Konsep ekonomi kreatif mengeklaim bahwa kreativitas dan pengetahuan adalah kekuatan ekonomi yang paling penting. Jumlah negara yang menerapkan industri kreatif telah meningkat secara signifikan dan memberikan stabilitas yang lebih besar untuk masa depan. Ide-ide industri kreatif telah masuk ke dalam agenda kebijakan, baik di negara maju maupun berkembang. Sumber daya yang digunakan tidak hanya mutakhir, tetapi juga tak terbatas, seperti ide, talenta, dan kreativitas adalah tujuan utama ekonomi kreatif. Film dan musik merupakan bentuk ekonomi kreatif yang dapat digunakan sebagai media perluasan penggunaan bahasa Indonesia secara global.

Film dan musik, sebagai bentuk seni yang memiliki daya tarik universal, menawarkan jalur potensial untuk mengenalkan bahasa dan budaya Indonesia ke dunia internasional. Penggunaan bahasa Indonesia dalam perfilman dan musik/lagu yang dirilis secara internasional memiliki dampak yang signifikan, meskipun masih dalam tahap pengembangan. Beberapa tahun terakhir, terdapat peningkatan dalam pengakuan dan apresiasi masyarakat dunia terhadap karya-karya kreatif dari Indonesia, khususnya film dan musik/lagu. Hal ini menunjukkan bahwa karya kreatif yang menggunakan bahasa Indonesia dapat menjangkau audiens lebih luas dan harus diakui sebagai upaya percepatan internasionalisasi bahasa Indonesia. 

Patut diketahui bahwa sejumlah film Indonesia telah mendapatkan perhatian internasional dan bahkan penghargaan di berbagai festival film bergengsi. Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak dan The Raid adalah contoh karya yang berhasil menembus pasar internasional. Penggunaan bahasa Indonesia dalam film-film ini tidak hanya memperkenalkan budaya dan cerita lokal kepada penonton global, tetapi juga memperlihatkan kekayaan linguistik milik Indonesia. Dialog dalam bahasa Indonesia memberikan nuansa autentik dan membantu penonton merasakan keaslian budaya Indonesia.

Selain itu, kehadiran film-film Indonesia di platform siaran langsung internasional seperti Netflix juga memperluas jangkauan penonton di seluruh dunia. Adanya sulih teks dalam berbagai bahasa tanpa menghilangkan esensi dari penggunaan bahasa Indonesia, film-film ini dapat dinikmati oleh penonton dari berbagai belahan dunia. Hal tersebut memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia dapat diakses dan dipahami oleh audiens internasional.

Di dunia musik, artis-artis Indonesia juga mulai merambah pasar internasional dengan lagu-lagu yang dirilis dalam bahasa Indonesia. Misalnya, Rich Brian, penyanyi dan rapper Indonesia, yang telah meraih popularitas di kancah musik global, sering menyisipkan lirik bahasa Indonesia dalam lagunya. Hal ini membantu memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada para penggemarnya yang berasal dari berbagai negara. Selain itu, kolaborasi antara musisi Indonesia dengan artis internasional semakin memperkuat potensi bahasa Indonesia di industri musik global. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari banyaknya platform musik baru yang menawarkan kepada musisi kesempatan untuk menghasilkan karya mereka. Menurut Outlook Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia 2023/2024, peningkatan jumlah siaran langsung musik di berbagai platform sejumlah 90,6% dari pendapatan subsektor musik mencapai 75,4 juta dolar.

Lagu-lagu berbahasa Indonesia yang dirilis di platform musik digital, seperti Spotify dan Apple Music dapat diakses oleh pendengar dari seluruh dunia. Hadirnya fitur lirik dan terjemahan membuat pendengar dapat memahami makna lagu tersebut. Meskipun tidak fasih berbahasa Indonesia, banyak di antara mereka yang menyanyikan lagu berbahasa Indonesia. Hal tersebut memungkinkan bahasa Indonesia untuk menyentuh hati dan pikiran pendengar dari latar belakang budaya yang berbeda. Menariknya lagi, subsektor musik juga diprediksi terus berlanjut sepanjang 2024. Pasalnya, banyak musisi dari berbagai daerah di Indonesia kembali merilis musik menggunakan bahasa Indonesia, bahkan menggunakan bahasa-bahasa daerah yang dapat menjadi daya tarik dan keunikan tersendiri.

Selain itu, promosi bahasa Indonesia ini juga dilakukan dari luar Indonesia, misalnya Korea Selatan. Dunia harus mengakui bahwa industri hiburan Korea Selatan saat ini berkembang sangat pesat dan memiliki arti yang sangat penting. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai sulih teks dalam beberapa film atau drama populernya juga menjadi nilai tambah bagi bahasa Indonesia. Selain itu, guna menarik pasar Indonesia yang sangat potensial, terdapat tren penyanyi Korea yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bagian dari lirik lagu mereka. Tren ini tentunya juga akan mempercepat gerakan internasionalisasi bahasa Indonesia.

Tantangan terbesar dalam penyebaran bahasa Indonesia pada industri kreatif saat ini adalah sumber daya manusia (SDM). Harus diakui bahwa masih banyak generasi muda kurang mengapresiasi film dan lagu berbahasa Indonesia. Pada umumnya, masyarakat menganggap film/musik yang berbahasa Indonesia kampungan dan ketinggalan zaman. Perspektif ini tentunya sungguh sangat menyedihkan. Mereka cenderung mengidolakan film/musik yang menggunakan bahasa asing, misalnya Korea. Demam K-Pop terjadi di mana-mana, para remaja bahkan memiliki idola para artis K-Pop dan sangat mengelu-elukannya. Tidak jarang, mereka bertengkar karena saling membanggakan idolanya masing-masing sehingga menghujat idola yang lain. Kebiasaan ini tentu saja akan mengganggu hubungan sosial di antara mereka. Selain itu, fenomena ini tentu dapat mengurangi rasa cinta dan bangga pada produk dalam negeri, termasuk kebanggaan dan kecintaan pada bahasa sebagai alat komunikasi yang digunakan di film dan musik.

Minimnya kebijakan dan program pemerintah yang secara khusus mendorong internasionalisasi bahasa Indonesia melalui industri kreatif juga menjadi tantangan tersendiri. Kurangnya dukungan infrastruktur yang memadai, baik secara teknologi maupun pendanaan juga menghambat para seniman bisa berkreasi di industri kreatif saat ini. Kolaborasi antara pemerintah, industriawan, akademisi, dan masyarakat untuk mewujudkan ekosistem kondusif bagi internasionalisasi bahasa Indonesia sangat diperlukan. Hal ini bisa menjadi harapan baru bagi penginternasionalan bahasa kita.

Langkah kecil yang dapat kami lakukan sebagai Duta Bahasa adalah mengapresiasi karya-karya terbaik bangsa dalam dunia film maupun musik dengan selalu mempromosikan, menonton, dan mendengarkan sebagai bentuk rasa bangga terhadap karya yang telah dibuat. Kami juga selalu memanfaatkan media sosial sebagai platform untuk mendukung ekonomi kreatif dengan selalu memakai lagu berbahasa Indonesia di setiap unggahan cerita sebagai pelengkap dari kegiatan yang kami lakukan. Bagi generasi muda, sudah saatnya kita bergerak dengan langkah kecil yang pasti untuk menjadi pelopor penginternasionalan bahasa Indonesia menuju kancah internasional dengan membuat konten berbahasa Indonesia, membuat komunitas bahasa di kampus-kampus, mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri, dan tidak lupa selalu menggunakan dunia digital dan aplikasi untuk memperkenalkannya kepada banyak orang. Dengan demikian, bahasa Indonesia akan semakin dikenal oleh penutur asing.

Secara keseluruhan, meskipun masih banyak tantangan, penggunaan bahasa Indonesia dalam dunia perfilman dan lagu internasional menunjukkan bahwa bahasa ini memiliki potensi besar untuk menjadi bagian penting dalam komunikasi global. Melalui karya-karya kreatif, bahasa Indonesia tidak hanya mempromosikan identitas dan budaya Indonesia, tetapi juga memperkaya keragaman linguistik di dunia internasional. Hal ini merupakan langkah positif dalam meningkatkan apresiasi terhadap bahasa Indonesia dan memperkuat posisi Indonesia di peta budaya global.

“Seribu orang tua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia.” Presiden pertama, Ir. Soekarno, pernah dengan membara menyampaikan hal itu. Begitu yakin Soekarno terhadap kekuatan pemuda sehingga kita sebagai generasi penerusnya harus lebih menggelora dalam menginternasionalkan bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Ida Widia, H. F., 2020. Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing: Minat Penutur Asing dan Komunikasi Antarbudaya. Seminar Internasional Riksa Bahasa XIV.

Poerwanto, Y. S., 2020. Revolusi Industri 4.0: Googelisasi Industri Pariwisata dan Industri Kreatif. Journal of Tourism and Creativity.

INDUSTRI KREATIF: SARANA PERWUJUDAN INTERNASIONALISASI BAHASA INDONESIA Read More »

Petualangan Sumut pada Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2024

“Bahasa daerah itu keren!” begitulah slogan yang digaungkan oleh para generasi muda pelestari bahasa ibu se-Indonesia. Di tengah arus globalisasi yang kian deras, semangat menjaga keberagaman bahasa daerah menjadi semakin penting. Kekayaan bahasa daerah yang ada di Indonesia merupakan salah satu aset berharga bagi kebinekaan dan martabat bangsa. Sejak 2021, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah menginisiasi program Revitalisasi Bahasa Daerah sebagai upaya melawan penurunan sikap positif terhadap bahasa daerah. Melanjutkan ikhtiar ini, Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (BBPSU) berperan aktif dalam revitalisasi bahasa daerah di berbagai kabupaten/kota dengan tahapan berikut: (1) Rapat Koordinasi; (2) Diskusi Kelompok Terpumpun; (3) Pelatihan Guru Master; (4) Pengimbasan dan Pelatihan; (5) Evaluasi dan Pengawasan; (6) Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional.

Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2024 menjadi puncak rangkaian program revitalisasi bahasa daerah di Sumatera Utara tahun 2023. Berdasarkan laporan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, perayaan ini menghadirkan 513 siswa SD dan SMP yang berasal dari 25 provinsi, salah satunya Sumatera Utara. Sebanyak 28 siswa Sumut dari kabupaten/kota Padangsidimpuan, Langkat, Asahan, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Labuhanbatu, Tapanuli Tengah, Padanglawas Utara, dan Humbanghasundutan unjuk kebolehan berbahasa daerah pada panggung FTBIN 2024 yang bertempat di Hotel Sultan, Jakarta.

Kegiatan dilaksanakan mulai Rabu s.d. Minggu, 1—5 Mei 2024. Pada Kamis (2/5) bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, pembukaan FTBIN 2024 dimulai. Acara diawali dengan persembahan lagu “Tanah Air” dan “Laskar Pelangi” dalam 19 bahasa daerah oleh beberapa perwakilan peserta, salah satunya Shafwa Salsabila yang berasal dari Langkat, Sumatera Utara. Shafwa menampilkan nyanyian menggunakan bahasa dan pakaian adat Melayu. Selanjutnya, acara dibuka resmi oleh Bapak Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Melalui sambutannya, Pak Menteri menyampaikan urgensi bahasa daerah yang harus dipertahankan mulai dari lingkungan terdekat. Ia juga mengutarakan rasa bangganya terhadap tunas-tunas muda yang tampil pada kegiatan ini. Pada kesempatan yang sama, Pak Menteri juga memberikan penghargaan kepada beberapa kepala daerah di Indonesia. Dari Sumatera Utara, Pj. Bupati Tapanuli Tengah, Dr. Sugeng Riyanta, M.H., menerima penghargaan tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap suksesnya penyelenggaraan program Revitalisasi Bahasa Daerah. “Kami selaku pemerintah daerah mendukung penuh kegiatan ini. Kami juga menganggarkan satu mata anggaran khusus untuk pelestarian bahasa daerah,” ungkap Dr. Sugeng dalam wawancara singkatnya.

Pada Kamis (3/5), perwakilan pemerintah daerah Sumatera Utara melakukan Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah. Turut hadir, Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (BBPSU), Pj. Bupati Tapanuli Tengah, Wakil Bupati Nias, Pj. Bupati Langkat, Kadisdik Langkat, Kadisdik Tapteng, serta beberapa pejabat lain yang mewakili walikota/bupati/pj bupati di daerahnya. Kepala BBPSU mengatakan, “Pada tahun 2024, Sumatera Utara melibatkan 12 provinsi kabupaten/kota dalam merevitalisasi bahasa Batak, Melayu, dan Nias. Kami berharap, setelah rakor ini pemerintah daerah memberikan dukungan yang maksimal sehingga pelaksanaan program revitalisasi bahasa daerah dapat tumbuh baik dan bahasa daerah itu disenangi anak-anak sebagai jati diri mereka, orang Sumatera Utara.”

Puncak penampilan seluruh peserta dilaksanakan pada hari Sabtu (4/5). Sumatera Utara yang tampil pada urutan 17 mempersembahkan pertunjukan berbahasa Melayu dialek Panai, Melayu dialek Sorkam, Melayu dialek Asahan, Melayu dialek Langkat, Batak Toba, dan Angkola. Semangat dari mulai latihan hingga tampil sangat terasa. Pertunjukan dikemas dalam tembang tradisi, dongeng, pidato, komedi tunggal, puisi, pantun, dan cerpen.

Selain tampil, seluruh peserta diajak berwisata sejarah ke Monumen Nasional. Ada banyak cerita heboh dan pengalaman berkesan yang mereka ceritakan selama berada di Jakarta. “Senang sekali rasanya ada acara FTBI karena ini pertama kalinya kami naik pesawat dan bisa ke Jakarta, mauliate,” kata Sry Kawani Sitohang dari Humbang Hasundutan. “Saya juga bangga sekali ikut FTBI. Kalau tidak karena acara ini belum tentu saya bisa ke Monas,” tambah Zidan Aldriansyah dari Asahan. Seluruh siswa yang mewakili Sumatera Utara dalam FTBIN 2024 mengaku bangga bisa memperkenalkan bahasa daerahnya.

Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2024 menorehkan prestasi dan kenangan tak terlupakan bagi seluruh peserta, khususnya anak-anak Sumatera Utara. Dari tampil di panggung megah hingga berwisata sejarah, peserta mendapatkan petualangan berharga tentang pentingnya melestarikan bahasa ibu sebagai bagian dari identitas bangsa. Festival ini tidak hanya menampilkan talenta muda, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk menjaga kekayaan bahasa daerah sejak dini. Dengan semangat dan dukungan yang kuat, bahasa daerah akan terus hidup dan berkembang di hati generasi muda. (Shevilla Mayori)

Dokumentasi

Petualangan Sumut pada Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2024 Read More »

“MANCA” untuk Literasi yang Menyenangkan

Oleh: M. Deny Effendy Tambusay dan Windy Niskya Rahmi Harefa

Pada umumnya, literasi diartikan sebagai kemampuan baca, tulis, dan pemahaman terhadap satu masalah. Menurut Lestari, dkk. (2021), literasi merupakan proses pembelajaran yang dilakukan secara komprehensif untuk mengidentifikasi, memahami informasi, berkomunikasi, dan menghitung menggunakan bahan cetak dan tertulis dengan berbagai konteks.

Lalu, pernahkah kita berpikir bagaimana dunia tanpa literasi? Mungkin, bagai sebuah tempat, hanya akan ada kegelapan, hitam tanpa penerang. Bagaimana tidak? dengan literasi, seseorang dapat memperkaya kosakata, mengoptimalkan kinerja otak (sebab sering digunakan untuk menulis dan membaca), memperluas wawasan dan memeroleh informasi terbaru, meningkatkan kemampuan interpersonal seseorang, meningkatkan kemampuan memahami informasi dari bahan bacaan, mengasah kemampuan verbal, memperbaiki kepekaan terhadap informasi dari berbagai media, serta melatih diri untuk bisa merangkai kata dengan baik.

Data dari Badan Pusat Statistik (BSP) menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2023 sebanyak 278,69 juta jiwa. Namun sangat disayangkan, hal ini berbanding terbalik dengan jumlah minat bacanya. Dilansir dari data UNESCO, hanya 0,001% masyarakat Indonesia yang memiliki minat baca. Hal itu berarti, dari 1000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang suka dan aktif membaca. Selain itu, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Program of International Student Assessment (PISA) pada tahun 2019, minat baca Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara. Dengan kata lain, Indonesia masuk dalam bagian 10 negara yang memiliki tingkat literasi terendah di antara negara-negara yang disurvei.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 5 Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) mengatakan, khusus di Sumatera Utara, tingkat literasi pada tahun 2022 mencapai 51,69%. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2019 sebesar 37,96%, dan tahun 2016 sebesar 31,30%. Meski demikian, ini bukanlah suatu hal yang terlalu membahagiakan dan membuat kita mengangkat kepala seolah tidak acuh dengan apa yang akan terjadi dengan proses selanjutnya.

Tentunya kita bertanya-tanya, mengapa hal ini bisa terjadi? Menurut Rusti (2023), beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan literasi di Indonesia adalah

1. Kurangnya Minat Membaca

Minat didefinisikan sebagai perasaan suka dan tertarik terhadap sesuatu. Sedangkan membaca, memiliki banyak manfaat seperti meningkatkan aktivitas otak, menambah pengetahuan, dan mengasah daya ingat. Sehingga, dengan berkurangnya minat baca, berkurang pula sistem kerja otak dalam memahami suatu masalah.

2. Saran dan Prasarana yang Kurang Memadai

Fasilitas atau sarana dan prasarana yang disediakan, sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca. Sarana dan prasarana yang dimaksud adalah perpustakaan, taman baca masyarakat, dan ketersediaan buku-buku bacaan. Benar bahwa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam mendukung program Merdeka Belajar Ke-23 telah membagikan buku bacaan di seluruh Indonesia dalam bentuk buku bacaan bermutu. Namun, siapa yang dapat menjamin bahwa buku-buku tersebut akan sampai di pelosok negeri? Harus diakui bahwa Indonesia masih memiliki keterbatasan, terutama akses ke wilayah pedesaan.

3. Kemiskinan dan Hubungan dalam Keluarga

Peran penting keluarga sangat dibutuhkan untuk peningkatan literasi dari rumah. Peran yang dimaksud, bisa diberikan keluarga dalam bentuk kasih sayang, memberikan nasihat, dan diskusi tentang apa yang telah dilakukan anak. Sebaliknya, jika hubungan dalam keluarga tidak harmonis, juga akan berdampak pada anak. Terkait dengan itu, peran orang tua sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Kurangnya perhatian orang tua juga dapat memengaruhi kemampuan membaca, menulis, bernalar, dan juga berhitung. Selain itu, perlu juga dipahami bahwa kemiskinan juga berpengaruh pada rendahnya tingkat literasi. Karena, kemiskinan mengakibatkan keluarga tidak mampu menyediakan buku dan sarana belajar lainnya.

4. Pengaruh Ponsel dan Televisi

Sebagai sarana hiburan, televisi memegang peran yang sangat penting. Menonton televisi sudah menjadi rutinitas yang dilakukan banyak orang sehingga kebiasaan membaca menjadi menurun. Saat ini, kemajuan teknologi bahkan telah menciptakan alat baru yang sangat berguna, mudah, bahkan menghibur, dalam bentuk ponsel. Ponsel tidak bisa lepas dari genggaman. Bukan hanya orang tua, anak-anak juga menggunakannya. Ponsel menawarkan banyak tayangan dan fitur, seperti permainan, youtube, tiktok dan lain sebagainya, sehingga menggeser minat seseorang terhadap kegiatan membaca buku. Hal ini tentu saja berdampak pada kemampuan literasi.

5. Kualitas Pendidikan dan Model Pembelajaran di Sekolah

Kualitas pendidikan yang beragam di setiap daerah juga menjadi faktor penting yang memengaruhi literasi. Kurangnya tenaga pendidik yang berkualitas serta model pembelajaran yang tidak efektif, merupakan kendala yang harus dicarikan solusinya. Metode mengajar, prosedur, dan kemampuan guru merupakan alat utama untuk mewujudkan tujuan pembelajaran.

“Banyak jalan menuju Roma”, begitu bunyi sebuah pepatah yang didefinisikan ‘jika ingin mendapatkan sesuatu, banyak cara untuk mencapainya’. Maka, beberapa faktor penyebab di atas mendorong kami untuk bergerak dan membuat perubahan. Untuk mengatasi berbagai permasalahan literasi di Indonesia, diperlukan berbagai upaya yang komprehensif, di antaranya menerapkan kegiatan literasi yang efektif dan menarik perhatian, menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang peningkatan literasi, melakukan kolaborasi dengan para orang tua untuk pembiasaan membaca, serta melakukan model pembelajaran yang tidak membosankan.

Fakta yang kami temukan saat observasi menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya Kota Medan, memiliki kebiasaan. Setiap akhir pekan, tepatnya hari Minggu, mereka sering berkumpul bersama keluarga di taman kota. Mungkin hanya sekadar melepas kepenatan setelah satu minggu melakukan kegiatan rutin seperti sekolah, bekerja, atau malah di rumah saja. Atas semua permasalahan yang tuliskan di atas, kami menawarkan solusi dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat, berupa sebuah program yang kami beri nama MANCA, akronim dari Bermain sambil Membaca. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai langkah awal pembiasaan membaca buku secara menyenangkan kepada masyarakat, khususnya anak-anak, sekaligus untuk menarik perhatian mereka dari ponsel yang sering dimainkan.

Kami percaya bahwa, seseorang akan menekuni apa yang ia cintai. Strategi yang kami lakukan untuk memulai kecintaan terhadap buku, salah satunya adalah dengan membacakan nyaring (Read Aloud) kepada anak-anak. Membacakan nyaring merupakan sebuah aktivitas membacakan buku dengan menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti oleh anak serta menggunakan intonasi dan ekspresi yang menggambarkan isi cerita sehingga anak tertarik untuk mendengarkan, menyimak, fokus, merasa senang, berimajinasi tentang isi cerita, dan akhirnya mendapatkan pengetahuan baru.

Luthfi dalam laman Kementrian Keuangan Republik Indonesia (2020), menuliskan bahwa membacakan nyaring juga bermanfaat pada perkembangan psikologis anak. Cerita anak-anak yang dibacakan dengan cara dan situasi yang menyenangkan, akan meningkatkan rasa ingin tahu anak terhadap cerita-cerita selanjutnya. Dalam pikirannya, mereka akan membayangkan latar, tokoh, dan kejadian-kejadian yang disebutkan dalam cerita sehingga kreativitas dan daya imajinasinya akan semakin berkembang.

Sebagai salah satu program rutin yang dilakukan, pada episode kali ini, kami melaksanakan MANCA di Taman Ahmad Yani, Medan, Sumatera Utara. Seperti namanya, MANCA bukan hanya sekadar kegiatan membaca, melainkan juga bermain. Kami mengajak anak-anak untuk bermain. Permainan yang kami suguhkan adalah Kereta Bahasa. Dalam permainan ini, anak diajak bermain kereta bahasa. Kemudian, di tengah permainan anak diberikan kuis seputar kebahasaan. Dengan demikian, permainan ini bukan hanya sekadar bermain dan tertawa, melainkan juga dapat menambah pengetahuan anak tentang kebahasaan dengan cara yang menyenangkan.

Kegiatan MANCA ini mendapatkan umpan balik yang cukup positif, baik dari anak-anak, maupun dari orang dewasa. Hal ini dapat terlihat dari antusiasme anak yang menanyakan tentang kapan kegiatan MANCA dilaksanakan kembali. Selain itu, berdasarkan hasil observasi dan akhir pelaksanaan, kami mendapati 14 dari 20 anak-anak memberikan respons yang sangat positif. Mereka yang semula tampak tidak bersemangat, setelah mengikuti MANCA, secara antusias menanyakan apakah kegiatan ini akan berlanjut atau tidak. Hal ini tentunya menjadi kabar membahagiakan bagi kami. Belum lagi, tanggapan dari dari salah satu orang tua, Bapak Erwin, yang mengatakan bahwa kegiatan seperti ini sangat baik bagi masyarakat, terutama anak-anak. Beliau juga berharap supaya kegiatan MANCA bisa mengepakkan sayap lebih luas dan menyentuh seluruh masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera Utara.

Sebagai generasi muda yang masih dalam tahap belajar, kami sangat senang bisa memberikan dampak baik bagi masyarakat sekitar dalam peningkatan literasi dengan cara yang menyenangkan. Dalam persiapan pelaksanaan kegiatan ini, kami tentunya membutuhkan keluangan waktu demi persiapan yang matang di tengah kesibukan kami yang sebagian besar adalah mahasiswa. Akan tetapi, semua dapat kami lakukan dengan baik. Kami percaya bahwa sesuatu yang tampak kecil akan berdampak besar, asal dilakukan dengan hati yang lapang.

Buku dan membaca adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tak akan berarti sebuah buku tanpa ditelaah, tiada guna membaca tanpa segenggam kertas dan ilmunya.

(Duta Bahasa Sumatera Utara Tahun 2023)

DAFTAR PUSTAKA

Lestari, Frita Dwi, dkk. 2021. Pengaruh Budaya Literasi terhadap Hasil Belajar IPA di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu. 5(6): 5087—5099.

Rusti, Reliavirli Rusti. 2023. Analisis Faktor Penyebab Rendahnya Kemampuan Literasi Siswa Kelas 5 Di SDN 1 Kalibunder. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. 6(1): 2655-6022.

“MANCA” untuk Literasi yang Menyenangkan Read More »

Generasi Muda Sadar Santun Berbahasa dan Bijak Bermedia

Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (BBPSU) mendampingi Duta Bahasa Sumatera Utara melaksanakan Program Krida Bahasa; Kampanye Kesadaran Berbahasa Santun di Media Sosial yang diselenggarakan pada Kamis, 20 Juli 2023 yang bertempat di Universitas Prima Indonesia, Medan.

Kegiatan ini diikuti oleh 100 peserta dari wilayah Medan, Binjai, dan Deliserdang. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor III Universitas Prima Indonesia, Said Rizal, M.A. Dalam sambutannya, Said Rizal berharap, dengan adanya kegiatan ini dapat menguatkan nilai-nilai positif dalam diri peserta dan menjadi sarana bagi peserta untuk belajar mengedepankan kebijaksanaan dan menjunjung sopan santun dalam berinteraksi di media sosial.

Kegiatan ini juga menghadirkan beberapa narasumber, yakni Kepala BBPSU, Hidayat Widiyanto, M.Pd., yang menjelaskan tentang Kebijakan Penggunaan Bahasa, Ahli Bahasa BBPSU, Juliana, S.S, M.Si., memaparkan tentang Kondisi Penggunaan Bahasa dan Konflik Kebahasaan di Media Sosial, Dekan FKIP UNPRI, Dian Syahfitri, S.S., M.Hum., menjelaskan tentang Kesantunan Berbahasa, dan Muhammad Wahyu Hidayah, S.H. yang menutup rangkaian sesi materi dengan memaparkan materi Berbahasa Santun di Media Sosial ala Anak Muda. Sesi materi ditutup dengan diskusi interaktif antara peserta dan narasmber.

Setelah rangkaian penyampaian materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kampanye melalui pembuatan konten “Santun Berbahasa Bijak Bermedia” oleh peserta yang terbagi dalam beberapa kelompok. Konten tersebut selanjutnya diunggah di akun Instagram perwakilan kelompok. Konten ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak anak muda dalam rangka mengajak mereka untuk sama-sama menjadi anak muda yang bijak, bertutur kata baik, dan memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk melahirkan karya-karya positif.

Generasi Muda Sadar Santun Berbahasa dan Bijak Bermedia Read More »

Diskusi Kelompok Terpumpun Pembinaan Lembaga dalam Pengutamaan Bahasa Negara di Ruang Publik dan Dokumen

Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara (BBPSU) melalui Kelompok Kepakaran Layanan Profesional Bahasa dan Hukum melaksanakan kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) Pembinaan Lembaga dalam Pengutamaan Bahasa Negara di Ruang Publik dan Dokumen dilaksanakan pada Senin—Selasa, 27—28 Februari 2023 di Hotel Swiss-Belinn, Medan. Peserta terdiri atas 47 lembaga dengan rincian 21 lembaga pendidikan (SMP, SMA, SMK negeri dan swasta, serta perguruan tinggi), 16 lembaga UPD kabupaten dan provinsi, juga 10 lembaga swasta berbadan hukum.

Dalam sambutannya, Kepala BBPSU, Hidayat Widiyanto, M.Pd. menyampaikan bahwa ada dua ranah yang menjadi perhatian dalam kegiatan DKT ini, yaitu ranah ruang publik dan dokumen. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian kegiatan tahun 2022 dan akan terus dilaksanakan sampai tahun 2024 mendatang. Selama tiga tahun, program pembinaan bahasa di ruang publik dan dokumen dilakukan secara berkesinambungan dengan harapan program ini akan menghasilkan lembaga yang baik dalam penggunaan bahasa negara sehingga lembaga terbina nantinya dapat mengimbaskan penggunaan bahasa negara di lembaga-lembaga lain di sekitarnya.

Kegiatan ini memiliki acuan nilai yang sudah ditetapkan sebagai penghitungan skor. Saat ini, skor penggunaan bahasa Indonesia di lembaga terbina pada ranah ruang publik dan dokumen berada pada kisaran nilai 65 dari 100. Oleh karena itu, angka tersebut berpotensi ditingkatkan. Target nilai penggunaan bahasa negara lembaga terbina dapat mencapai skor minimal 95 pada tahun 2024 serta menjadi lembaga modern atas dukungan dan kerja sama yang dilakukan secara gotong royong semua pihak.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Lendra Budianto, S.Pd., Kepala Subbagian Umum Dinas Pendidikan Deliserdang. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat positif dalam rangka mengangkat derajat bahasa negara, baik di ruang publik maupun dokumen. Beliau mengimbau agar seluruh peserta mengikuti kegiatan secara baik dan sungguh-sungguh sehingga nantinya dapat menerapkan aturan penggunaan bahasa yang tepat di lembaga masing-masing juga dapat mendongkrak nilai yang baik.

Materi kegiatan disampaikan oleh Hidayat Widiyanto, M.Pd., Eko Sapriadi, S.Sos. selaku Sekretaris Dinas Satuan Polisi Pamong Praja Deliserdang, serta Agus Bambang Hermanto, M.Pd. selaku koordinator KKLP Pembinaan Bahasa dan Hukum BBPSU.

Kegiatan ditutup secara resmi oleh Kepala BBPSU dan menyampaikan mengenai usaha maksimal yang dilakukan dalam meningkatkan kualitas nilai penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, bahasa daerah, serta bahasa asing baik pada ranah ruang publik maupun dokumen untuk dua tahun ke depan. Pertemuan ini merupakan awal penilaian secara kuantitatif untuk merefleksikan penggunaan bahasa negara di lembaga masing-masing.

Instagram
@kemdikbud.ri
@dubas.sumut
@badanbahasakemendikbud
@hidayat_bbsu

BBSUTerusBergerak

CakrawalaBBPSU

Balai Bahasa Sumatera Utara

Memuliakan BahasaMemajukan Bangsa

Diskusi Kelompok Terpumpun Pembinaan Lembaga dalam Pengutamaan Bahasa Negara di Ruang Publik dan Dokumen Read More »